6. | A Dinner

2296 Kata
"Apa?! Pekan depan?!" Damar mendengus sembari menutup kedua telinga. Dua sosok itu memang hebohnya tiada dua. Darisa membekap mulutnya tak percaya bercampur haru. Sementara Dara, gadis itu malah menangkup kedua pipinya. Merasa kagum dengan sang abang yang benar-benar membuktikan ucapannya. Memang, abangnya yang satu itu benar-benar memegang kuat prinsipnya: talk less do more. "Kapan kamu bawa calon istri ke rumah?" tanya Adam. "Malam ini." "Seriusan?!" Darisa berseru heboh untuk yang kedua kalinya. Wanita itu tampak girang. "Ya ampun, kita harus cepet-cepet persiapan ini!" Dan, disibukkanlah wanita itu bersama para pelayan. Mempersiapkan segala sesuatunya dalam menyambut sang calon menantu malam nanti. "Seperti biasa, Bunda gercep," gumam Dara tersenyum. Gadis itu berdiri dari duduknya, berniat ingin ke kamar. Namun, sebelum itu, ia mengucapkan sesuatu pada Damar. "Jangan kecewain Bunda ya, Bang." Setelahnya, gadis itu pun berlalu pergi. Damar hanya mengangguk kecil dengan ulasan senyum tipis di bibirnya. Tidak pernah tebersit pikiran untuk mengecewakan keluarganya, terutama sang bunda yang sangat menginginkan kehadiran menantu dan cucu. Ia yakin, Kalila akan dipandang baik oleh keluarga. Meski Kalila bukan orang yang berada atau memiliki kedudukan yang berarti dalam sistem sosial, tetapi itu bukanlah masalah besar. Sedari dulu, Adam maupun Darisa tidak pernah mempermasalahkan status sosial apa pun untuk menjadi bagian dari keluarga. Bagi mereka, status sosial itu tidaklah begitu berarti. Yang terpenting adalah mampu membahagiakan sang anak dan mencintai sang anak dengan apa adanya. Tidak memandang harta yang ia punya, melainkan memandang sosok yang ada secara apa adanya. Beruntunglah Damar memiliki orang tua layaknya Adam dan Darisa. "Siapa nama gadis itu?" Adam membuka pembicaraan. "Kalila," balas Damar. "Jelaskan sedikit tentangnya. Mungkin juga bisa ceritakan apa yang buat kamu tertarik sama gadis itu." Dan, mengalirlah secara apa adanya Damar dalam menceritakan tentang gadisnya. Selama proses menyimak, sang ayah tampak serius. Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa sosok itu tampaknya senang. Senang melihat si sulung yang terlihat pada wajahnya, sangat mencintai sosok yang diceritakan. Membuat Adam rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan sosok yang telah berhasil menguasai hati sang anak. Hati yang sudah lama membeku dan disibukkan oleh urusan monoton sebuah pekerjaan. "Kamu sangat mencintainya, huh?" Adam tersenyum tipis. Tangannya menepuk bahu Damar dengan cukup kuat. "Rasanya baru kemarin Ayah ngajarin kamu jalan. Eh, sekarang udah mau nikah aja." Mendengar itu, Damar hanya bisa mendengus. Ya, begitulah orang tua, pikirnya. *** Ibunda Tari tampak senang setelah mendengar berita bahagia dari Kalila. Gadis itu memberitahukan sesuatu yang mengejutkan sekaligus membahagiakan. Tidak pernah tebersit ia akan mendapat berita ini secepatnya. "Bunda baru tahu loh kalo kamu deket sama Pak Damar," ucap Ibunda Tari tampak senang. "Bahkan udah mau nikah aja lagi. Ya Allah, Bunda nggak nyangka banget!" Kalila tersenyum miris. Aku pun nggak nyangka, Bun. Semua ini mendadak. Banget, batinnya. Gadis itu membalas pelukan erat Ibunda Tari. "Maaf ya, Bun," gumamnya sedikit kiranya merasa sedih. "Loh? Kok minta maaf sih?" Kalila menggeleng. Air mata mulai menggenang. Namun, sebelum jatuh membasahi pipi, gadis itu buru-buru menyapu kedua matanya. "Maaf karena mendadak gini. Dan maaf, karena pas Kalila nikah, otomatis harus ikut suami. Jadi nggak bisa lagi ngajar di yayasan." Pelukan semakin ia eratkan. Rasanya ingin menangis sekeras yang ia bisa, tetapi hanya akan semakin menambah buruk suasana hatinya. Ibunda Tari tersenyum tipis. Diusapnya perlahan punggung Kalila. Gadis yang meski tidak sampai setahun menjadi pengajar, tetapi sudah sangat akrab dengan anak-anak yayasan. Seolah sudah bertahun-tahun mengabdi. Berkat keramahan dan kesabaran gadis itulah yang membuat banyak anak menyukainya dan mengakrabkan diri dengan baik. "Udah-udah. Nggak pa-pa kali. Lagian emang seperti itu seharusnya. Harus patuh sama suami," ucap Ibunda Tari penuh pengertian. "Semoga kamu bisa jadi istri yang baik yaa." Kalila hanya mengangguk, meng-aamiin-kan. Sejujurnya, ia bingung ingin bersikap apa. Rasanya itu seperti nano-nano. Campur aduk. Inginnya senang, tetapi serasa mengkhianati diri sendiri. Inginnya sedih, tetapi serasa ada yang menyangkal dari dalam diri. Perasaan senang, sedih, haru, bingung, semua itu seolah bercampur menjadi satu. Sulit untuk diungkapkan. Ibunda Tari melepaskan pelukan, lalu ditatapnya Kalila dalam penuh arti. "Terima kasih karena selama hampir setahun ini udah jadi pengajar di yayasan. Atas kesabarannya, atas ketulusannya sama anak-anak, Bunda ucapin terima kasih," ucapnya mengusap kedua pipi Kalila yang mulai membasah. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Terbawa suasana. Sangat jelas di matanya itu aura seorang ibu yang membuncah terhadap anaknya. Kalila merasakan itu dan memang benar adanya. Sebab Kalila sudah menganggap Ibunda Tari adalah ibu baginya. "Seharusnya Kalila yang berterima kasih!" Dan pecah sudah tangis yang selama ini gadis itu tahan-tahan. Tidak disangka jika suara tangisnya itu mengundang para anak yang sibuk bermain di luar. "Kak Lil nangis kenapa?!" Salah seorang anak bertanya dan menghampiri Kalila dan Ibunda Tari saling berpelukan dengan erat. "Ibunda Tari juga nangis! Iiih kenapaaa?" Salah satu anak yang paling kecil di antara sekumpulan anak itu mulai menangis. Bibirnya berkedut lucu. Membuat Kalila yang melihatnya terkekeh kecil di sela tangis. Ah, secepat inikah ia harus berpisah dengan anak-anak? "Kak Lil mau nikah loh," ucap Ibunda Tari mengusap pelan kedua pipi. Wanita itu terkekeh kala mendapati raut bingung anak-anak. "Nikah? Nikah sama siapa?" "Sama Om Damal!" Rio berseru heboh. Membuat Kalila mendelik, sementara Ibunda Tari tertawa geli. Merasa tidak menyangka bahwa seruan bocah kecil itu benar-benar kenyataannya. "Beneran Kak Lil?" tanya si gadis kecil bermata belo. Mendapati pertanyaan itu, membuat Kalila hanya bisa mengangguk kecil. Dan, pecahlah sorakan bahagia anak-anak. Mereka pun secara serempak mulai memeluk Kalila dengan erat. Tentu, Kalila kembali menangis untuk yang ke sekian kalinya. "Seneng banget Kak Lil nikah sama Om Damar!" "Om ganteng yang badannya bagus!" "Om yang beliin Iyo pelmen!" Kalila agaknya terkejut dengan reaksi anak-anak yang tampaknya bahagia. Ia pikir mereka tidak terima kalau ia akan segera menikah dan meninggalkan yayasan. Namun, dugaannya salah total. "Kalian nggak sedih Kak Lil nggak di yayasan lagi? Kan Kak Lil nikah trus nggak bisa lagi ada di yayasan," ucap Kalila sembari pura-pura merengut. "Kami nggak sedih karena Kak Lil sama Om Damar! Soalnya Om Damar baik hati, trus beri uang ke yayasan!" "Beliin Iyo pelmen jugaa!" "Sebenarnya sedih Kak Lil nggak di yayasan lagi. Tapi kami yakin Om Damar itu bakal bikin Kak Lil bahagia! Jadi, untuk apa sedih lagi?" Kalila tersenyum haru mendengar penuturan jujur itu. Gadis itu mulai memeluk para anak dan mengecup kepala mereka satu per satu penuh kasih sayang. Mungkin ia tidak lagi menghabiskan waktu penuh di yayasan, sebab akan ada kehidupan baru yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, selagi ia masih berpijak di bumi yang sama, ia masih bisa bertemu dengan anak-anak. Jadi, kalau bersedih terlalu lama rasanya berlebihan. Toh, pasti masih bisa bertemu juga, 'kan? "Kak Lil sayang kalian." *** Damar memasang raut datar. Matanya menatap tumpeng ukuran besar yang terletak di tengah meja makan. Kemudian, matanya beralih kepada sosok di balik terciptanya tumpeng itu. Siapa lagi kalau bukan Bunda? Sosok itu benar-benar totalitas sekali dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Saking totalitasnya, membuat wanita itu tidak bisa membedakan mana makan malam biasa, mana makan malam besar. "Bun. Ini tuh cuman makan malam biasa. Dan cuman ada satu tamu," ucap Damar mengusap kepalanya perlahan. "Ya nggak pa-pa. Toh itu tamu penting juga. Jadi harus totalitas dong!" Darisa mengulas senyum terbaiknya. "Tumpeng segede itu sanggup apa di makan kita?" "Emang siapa suruh harus habis semua? Enggak, 'kan?" Darisa mendekati sang anak sulung lalu merapikan pakaian kasualnya. "Penghuni rumah ini banyak, nggak cuma kita aja." "Tapi kan, Bun-" "Etetet, suka-suka Bunda dong! Dalam menyambut calon mantu Bunda itu harus perfect!" Darisa menepuk-nepuk kepala Damar kemudian. "Udah, lekas jemput calon menantu. Bunda nggak sabar ketemu sama dia." Tiba-tiba, Adnan datang. Niatnya ingin menuju kulkas, mengambil minuman dingin. Namun, atensinya tertarik pada tumpeng besar di tengah meja makan. Tampak terkejut sosok remaja itu. "Gimana mahakarya Bunda, hm?" tanya Darisa. "Wow," balas Adnan dengan intonasi plus wajah datar. Remaja itu mulai mengambil minuman isotonik di kulkas dan berlalu dengan santai keluar dari dapur. "Ish, dasar anak itu," gumam Darisa geleng-geleng. Wanita itu menatap Damar lalu didorongnya pelan bahu kokoh itu. "Buruan jemput woy!" Damar mengembuskan napas lalu melangkah pergi untuk menjemput sang calon istri. Dalam langkah keluar rumah, pria itu mulai menghubungi seseorang. Dahinya berkerut sebab tidak kunjung diangkat panggilannya. Ia coba berkali-kali dan tidak kunjung diangkat. Tak heran jika langkahnya semakin dipercepat menuju mobil. Bergegas untuk menjemput sosok itu dari yayasan. Ya, yang sedari tadi pria itu hubungi adalah Kalila. Sejak kapan bertukar nomor? Entahlah. Sepertinya frasa bertukar nomor bukanlah pilihan kata yang tepat. Sementara itu, di sisi lain, Kalila menatap horror gawainya. Berkali-kali benda pipih itu berbunyi dengan menampilkan nomor asing di layarnya. Seketika membuat gadis itu merasa terancam. Terlebih ia teringat akan pernikahannya dalam waktu dekat bersama CEO ternama, yang seketika membuatnya takut. Takut jika yang menelpon itu merupakan fans fanatik Damar. Gadis itu tidak tahu saja kalau nomor yang menghubunginya sedari tadi adalah milik seorang Damar. Sepertinya pria itu terlalu malas mengganti nomornya yang dari luar negeri itu ke nomor lokal. *** "Kalila!" Pintu di buka secara tiba-tiba, menampilkan sesosok pria. Tampak panik wajah itu dan matanya tertuju ke seorang gadis yang berdiri bingung di daun pintu kamar. Tanpa ba-bi-bu pria itu langsung berlari dan memeluk erat sesosok gadis di daun pintu. "P-pak Damar. Tolong lep-" "Kenapa telponku nggak diangkat?" ucap Damar memotong ucapan Kalila. Sementara Kalila berusaha untuk melepas pelukan erat sang pria. Setelah berusaha keras, pelukan itu pun pada akhirnya terurai. "Y-yang mana?" tanya Kalila terbata, efek dari gugup yang melanda. Jantungnya berdetak gila-gilaan di dalam sana. Bagaimana tidak demikian? Sesosok pria tiba-tiba memeluknya dengan erat. Entah karena apa, tentu Kalila tidak tahu. Syukurnya, para anak sedang asik bermain di ruang atas. Jadi, tidak melihat kejadian tiba-tiba itu. Damar menatap Kalila dengan tatapan yang tidak terdefinisi. Sampai beberapa saat kemudian, pria itu menepuk dahinya pelan. Menyadari kecerobohannya. Di sela itu, ia pun terkekeh geli. "Maaf. Sepertinya kamu takut ya?" "Maksudnya?" "Yang nelpon berkali-kali itu aku. Maaf. Aku lupa ganti nomor." Kalila pun paham dan langsung mengembuskan napas lega. Ternyata pikiran buruknya beberapa saat lalu itu tidak benar. Syukurlah, pikirnya. "Udah siap ketemu keluargaku?" tanya Damar lembut. Tangannya terulur, niatnya ingin menyentuh pipi Kalila. Namun, tiba-tiba saja gadis itu langsung menghindar. "Maaf. Bukannya apa-apa, tapi itu- anu- sebenarnya belum boleh- ya, gitulah." Kalila berucap tidak teratur. Namun, meski begitu Damar bisa memahaminya dengan jelas. Pria itu tersenyum lalu menunduk kecil, menahan tawa. "Oke. Maaf. Aku ngerti." Kalila mengusap leher di balik kain kerudungnya dengan kikuk. Gadis itu pun pamit undur diri untuk bersiap terlebih dahulu. Damar hanya mengangguk kecil dan mengambil duduk di sofa ruang tengah. Di kamar, Kalila langsung terduduk sembari memegangi area jantungnya yang masih dag-dig-dug. Serasa senam jantung rasanya ketika dipeluk tiba-tiba oleh Damar. Ingin rasanya marah, tetapi di hadapan pria itu entah mengapa ia tidak bisa marah. "Aneh," cicit gadis itu pelan. Setelah agaknya tenang, gadis itu pun mulai bersiap untuk segera menemui keluarga calon suami. Oh, sungguh, rasanya Kalila masih belum terbiasa dengan frasa calon suami. Ya mungkin karena semua yang terjadi itu begitu tiba-tiba. Rencana pernikahan yang tiba-tiba dengan sosok yang tiba-tiba pula, yang begitu asing baginya. Tak lama, Kalila kini sudah tampak rapi dengan setelan elegannya. Kerudung panjang menutup d**a berwarna hijau army, yang dipadukan dengan jilbab panjang berwarna hitam sedikit aksen warna putih. Sementara wajahnya sendiri ia poles natural hanya sebatas bedak dan liptint. Gadis itu memang tidak terbiasa make up berlebih. Jadi, seperti permintaan Damar di awal, begitulah apa adanya ia. Kalila keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, ia langsung melihat Damar yang menatapnya tanpa berkedip beserta Ibunda Tari yang tersenyum dengan lebarnya. Ditatap seperti itu membuat Kalila merasa canggung bercampur malu. Gadis itu menunduk dengan tangan menggenggam erat pegangan tasnya. "B-bun, Kalila pamit pergi dulu ya," ucap Kalila menyalimi tangan Ibunda Tari. Setelahnya, ia bersama Damar pun keluar dari yayasan. Ngomong-ngomong, entah kenapa Damar tidak bersuara semenjak Kalila keluar dari kamar. Seperti ada yang tiba-tiba pria itu pikirkan. Entah itu apa. Sulit ditebak memang. Kalila sudah memasang seatbelt mobil. Gadis itu duduk di kursi samping kemudi. Ia melirik Damar sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Mengembuskan napas perlahan dan memejamkan mata kemudian. Mobil pun berjalan dengan kecepatan normal. Damar mengemudikannya dengan tenang dan hening. Jangan lupakan dengan raut wajah pria itu yang datar. Mungkin karena terlalu fokus mengemudi dan karena memang sifatnya sosok itu untuk diam dalam mengemudi. Ya, begitulah yang Kalila pikirkan. Meski ia bersyukur Damar tidak berbicara sedari tadi—karena Kalila memang merasa tidak pandai menyambung bicara—tetapi, entah kenapa Kalila merasa sepi dan merasa sedikit bersalah. Bersalah karena sosok itu—yang mungkin—tidak menyukai penampilannya saat ini. Terbukti dengan keterdiaman sosok itu sejak ia keluar dari kamar. Terlalu rancu dengan pikirannya sendiri, Kalila mengembuskan napas perlahan untuk yang kedua kalinya. Sampai-sampai gadis itu tidak menyadari bahwa Damar secara mendadak menepikan mobilnya. Hingga ketika pria itu berdehem, barulah Kalila sadar dan mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Melihat sekeliling dengan dahi berkerut. "Udah sampai ya," ucap Kalila sembari menggaruk kepala canggung. Damar hanya diam menatap lurus ke depan. Pria kemudian itu menoleh ke samping, menatap dalam sang gadis yang beberapa hari nanti akan sah menjadi miliknya. Sementara Kalila yang merasa ditatap pun menoleh dan langsung tertegun. Bukan karena ditatap penuh intens. Akan tetapi, karena bola mata hitam itu. Begitu dalam dan sulit diartikan. Namun, terasa hampanya di sana. Secara tiba-tiba, kedua bola matanya itu memejam. Seiring dengan semakin mendekatnya wajah itu. Kalila mendelik, menyadari hal-hal yang sudah melayang terbang dipikirannya. Gadis itu mencengkram kuat tas jintingnya. Niatnya ingin ia pukulkan dengan telak ke wajah rupawan yang semakin mendekat itu. Namun, ternyata salah. Damar malah menyerong dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kalila. Senyum terukir miring. Berbisik ia dengan seduktif. "Kamu cantik." Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN