13. | Just One Day

2217 Kata
Kalila tampak sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam koper dengan dibantu oleh beberapa pelayan. Di sisi lain, ada Damar yang mendadak sibuk oleh benda tipis yang kerap disebut laptop itu. Duduk dengan dunianya sendiri di pojok kamar. Baru saja ia diberi kabar dari Rudi, yang mengharuskannya untuk segera mengecek laptop. Padahal, hari ini merupakan hari yang sibuk. Di samping kepindahannya ke penthouse, Damar juga ingin menghabiskan waktunya dengan Kalila sebelum urusan kantor mengambil alih tubuhnya. "Ck!" Damar berdecak. Merasa sedikit kesal. Berusaha ia menyelesaikan urusan mendadak itu. "Tuan sepertinya lagi kesal," ucap salah seorang pelayan. Berusaha membangun pembicaraan bersama Kalila. Kalila melirik sekilas Damar di pojok sana, lalu kembali menyibukkan diri dengan koper yang mulai terisi penuh oleh barang-barangnya. "Hm, ya," balasnya singkat. Membuat pelayan yang memulai pembicaraan tadi, tidak mampu lagi menyambung pembicaraan. Balasan Kalila terlalu singkat dan terkesan tidak ingin melanjutkan pembicaraan lagi. "Tolong, bawa semua koper ini ke bawah ya. Terima kasih," ucap Kalila sopan kepada para pelayan. Setelah mereka berlalu pergi keluar kamar, Kalila pun langsung menghampiri Damar. Pria itu baru saja mengisyaratkan Kalila untuk mendekat. "Ada apa?" Damar tidak bersuara. Pria itu hanya menepuk-nepuk bagian kosong dari sofa di sampingnya, isyarat Kalila duduk di sana. Tentu, Kalila yang paham langsung mengambil duduk di samping pria itu. Tiba-tiba, Damar menyenderkan kepalanya di bahu Kalila dengan kedua tangan melingkari pinggang gadis itu. "Aku pusing," gumam Damar serak. "Pijat kepalaku," bisiknya. Kalila pun mulai memberi pijatan ringan pada kedua pelipis Damar. Menggunakan masing-masing kedua jari, berusaha untuk meredakan rasa pusing itu barang sedikit. Asal kalian tahu, Kalila tidak pandai dalam urusan pijit memijit. "Aku cuma punya satu hari." Damar berucap ambigu, lantas membuat gerakan pijitan Kalila berhenti dalam sejenak. "Cuma hari ini aku bisa bersamamu." Kembali, Damar ucapkan keambiguan. "Maksudmu?" "Kamu ingat hari aku pertama kali ke yayasan?" Kalila mengangguk kecil. Tentu saja ia mengingat hari itu. Hari yang secara mendadak mengubah hidupnya. Menikah di usia muda dan berhadapan dengan sosok yang ia anggap gila seperti Damar itu. CEO gila yang menurutnya tidak mampu memaknai pentingnya sebuah pernikahan. Ya, begitulah. Itulah takdirnya. Takdir yang ingin sekali ia ubah, jika mungkin. "Sebenarnya saat itu aku harus berangkat ke luar negeri. Ada studi banding selama sehari. Tapi, saat itu aku batalkan hanya demi ketemu sama kamu." Damar mulai menjelaskan. Pijatan mulai ia rasakan kembali di pelipisnya. "Besok aku harus pergi studi banding. Dan mulai besok juga aku bakal sibuk banget. Cuma ada hari ini aku bisa habisin waktu seharian sama kamu." Kalila terdiam beberapa saat. Sampai kemudian, gadis itu pun berucap pelan, "nggak pa-pa. Seperti itulah seorang pemimpin. Harus mentingin kepentingan umum dulu." "Ya, benar," balas Damar tersenyum tipis. Ia selalu menyukai pola pikir sang istri. "Maka dari itu, aku ingin mengisi daya di hari ini untuk hari ke depan." "Mengisi daya?" Kalila mengerutkan kening. Sepertinya Damar gemar sekali mengungkapkan kata-kata ambigu. Damar terkekeh kecil. "Intinya, hari ini aku pengen habisin waktu seharian sama kamu. Di penthouse kita tentunya. Biar nggak ada yang ganggu." Sayup-sayup sampai, terdengar suara ketokan pintu. Kalila secara refleks ancang-ancang akan pergi menuju pintu kamar. Namun, Damar yang sudah menegakkan tubuhnya itu tiba-tiba menahan Kalila. Tak membiarkan gadis itu pergi begitu saja tanpa seizinnya. "Buka aja. Nggak dikunci!" seru Damar dengan suaranya yang maskulin. Suara yang tentu akan tertangkap jelas oleh sesosok di balik pintu itu. Pintu terbuka dan menampilkan sesosok wanita dan pria di sana. Tak lain dan tak bukan adalah Adam dan Darisa. Mereka melangkah mendekati pasutri baru yang duduk bersisian di sofa itu. "Udah packing?" tanya Darisa. "Beres," jawab Damar singkat. Darisa menatap Damar beberapa saat. Sampai kemudian, wanita itu mendengus dan memukul lengan kanan sang anak. Tentu, yang dipukul protes sebab tidak merasa bersalah sekalipun. "Apaan sih, Bun?" Damar mengusap lengannya pelan. Matanya menatap kesal sang ibunda yang tampak cemberut wajahnya. "Besok kamu pergi ninggalin Kalila selama sehari. Kenapa nggak besok aja pindahannya sih? Anak pintar ini!" ucap Darisa gemas. "Hari ini hari aku sama istriku. Nggak boleh ada yang ganggu. Makanya harus cepet-cepet pindah." Damar memasang wajah yang demi apa pun membuat Darisa ingin sekali misuh-misuh. Untung anak, pikirnya. "Lagian bentar lagi kamu bakal habisin waktu dua pekan penuh sama istri. Nggak ada gangguan sama sekali tuh," ucap Darisa sedikit menyinggung rencana bulan madu sang anak beserta istri. "Jadi harusnya nggak masalah kalo sepekan ini nggak ada waktu sama istri. Toh, akan dibayar dua pekan penuh nantinya." "Suka-suka aku dong, Bun," sahut Damar tanpa dosa. Sesukanya pria itu. Untung saja Darisa maupun Adam sudah tahu secara matang bagaimana perangai Damar. Lah, namanya juga anak sendiri, yakan? Kalila tampak bingung. Sungguh, ia tidak mengerti dengan pembicaraan ini. Oh, Kalila, sepertinya Damar lupa memberitahumu rencana bulan madu selama dua pekan itu. Bagaimana reaksinya nanti ya? "Loh? Kalila kok kayaknya bingung?" Darisa mengerutkan dahi. Ia beralih menatap Damar yang dari gerak-geriknya tampak menyadari sesuatu. Pria itu kemudian memberi sinyal lewat tatapan kepada sang ibunda. Serta-merta membuat yang diberi sinyal itu mendengus. Darisa mengusap punggung Kalila secara perlahan. Tersenyum wanita itu lalu mulai berucap, "pekan depan kamu dan Damar bakal bulan madu ke vila keluarga. Maka dari itu, sepekan ke depan ini Damar ngejar kerjaan biar tenang bulan madu sama kamu selama dua pekan nanti." Darisa tersenyum seduktif. "Biar fokus nyiapin cucu buat Bunda sama Ayah," ucapnya senang kemudian. Kalila sontak mendelik. Ia arahkan pandangannya ke Damar. Pria itu tampak santai pembawaannya. Dan ketika pandangan mereka bertemu, langsunglah Damar mengedipkan sebelah matanya pada Kalila. "Rencana mau target berapa momongan, hm?" Adam berceletuk. Saling melempar senyum dengan sang istri. Damar melirik Kalila yang merah padam wajahnya. Dirangkulnya bahu gadis itu, kemudian berujar pelan, "banyak. Biar nanti bisa bentuk kesebelasan." "Haha!" Adam dan Darisa spontan tertawa. Damar hanya terkekeh kecil. Kalila? Jangan tanya bagaimana memerahnya wajah itu saat ini. *** Tampak Damar yang menurunkan empat buah koper dari bagasi mobil. Setelahnya, semua koper itu ia serahkan kepada salah seorang pelayan apartemen. Tak menunggu lama, pelayan itu pun berlalu dengan membawa keempat koper menggunakan alat khusus untuk mempermudah. Damar menghampiri sang istri, segera mengamit tangan mungil itu. "Kamu mau makan dulu?" tanyanya. Kalila menggeleng kecil. Hari sudah siang dan gadis itu ingin mengistirahatkan diri dengan tidur siang selama beberapa saat. Tadi saja ia nyaris akan tertidur selama perjalanan. "Aku mengantuk," gumamnya lesu. "Mau tidur." "Tidur aja." Kalila menoleh. Memberikan raut bingungnya pada Damar atas ucapan pria itu tadi. "Tidurlah. Biar aku gendong kamu sampai ke kamar." Spontan Kalila mendelik. Gadis itu menggeleng cepat. "Nggak mau. Nggak perlu," ujarnya cepat. Tiba-tiba terbayang adegan ia yang digendong Damar di sepanjang lorong menuju unit apartemen. Di mata orang-orang mungkin akan terkesan romantis dan mencipta keirian siapa saja yang melihatnya. Namun, tidak bagi Kalila. Menurutnya hal itu terlalu berlebihan dan terkesan memalukan diri sendiri. Sungguh, betapa memalukannya jika itu terjadi. "Baiklah," ucap Damar ringan. Pria itu segera menarik Kalila untuk memasuki gedung apartemen. Setelah terlalui beberapa menit, Damar dan Kalila pun sudah sampai di depan pintu unit apartemen mereka. Pintu bercat cokelat muda dengan ukiran berwarna keemasan di sana. "Siapkan dirimu," ucap Damar pelan sembari mendekatkan kartu akses ke sensor dekat gagang pintu. Pria itu tersenyum lalu mulai membuka pintu. Sejenak, ia sengaja diam agar Kalila memasuki unit lebih awal. Namun, sepertinya istrinya itu terlalu lugu. "Hei, masuklah," ucap Damar geli. "Aku masuk duluan?" Kalila menunjuk dirinya sendiri. Damar yang gemas langsung menepuk pelan kepala berlapiskan kerudung itu. "Iya, Sayang. Masuklah duluan." "Oh, oke." Kalila menggumam seiring langkah kakinya mulai memasuki area unit. Langsunglah matanya tersuguhi oleh betapa mengagumkannya tempat yang akan ia tinggali bersama sang suami. Tak disangkanya jika akan semewah ini. Kalila pikir seperti apartemen pada umumnya yang hanya difasilitasi kamar, ruang tengah, dapur, maupun kamar kecil. Ternyata, lebih dari apa yang ia bayangkan. Ia bisa katakan bahwa unit apartemen yang akan ia diami itu lebih dari sebuah rumah pada umumnya. Oh, sungguh, senorak itukah dirinya? "Terkejut, hm?" ucap Damar tepat di telinga Kalila. "Kejutan untukmu," timpalnya kemudian menghadiahi satu kecupan ringan di pipi sang istri. Kalila tidak bereaksi. Gadis itu malah melangkah menuju kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan indah kota dari ketinggian beberapa puluh meter itu. Ia merasa takjub sebab bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di sana. Saking takjubnya, rasa kantuk yang sempat dirasakan tadi seketika hilang begitu saja. "Indah," gumam Kalila dengan satu tangan menyentuh kaca. Matanya tampak berbinar menatap pemandangan luar. Sementara itu, Damar merasa senang atas reaksi penuh kekaguman Kalila. Sudah ia tebak bahwa gadis itu pasti akan menyukai tempat ini. Tak sia-sia ia membayar lebih untuk penthouse ini. "Ada yang lebih indah dari itu," ucap Damar lembut. "Mau aku tunjukkan?" Kalila secara spontan mengangguk kecil. Wajahnya yang semringah benar-benar menular. Damar tak ubahnya terus tersenyum sepanjang ia menaiki tangga bersama Kalila-nya. "Pasti tempat ini bakal jadi spot favorit kamu." Damar menghentikan langkah sejenak tepat di depan pintu kayu bercat cokelat tua itu. Ia melirik Kalila yang tampak tidak sabar melihat sesuatu di balik pintu itu. "Kamu pernah bilang kalo pengen lihat pemandangan langit secara langsung, 'kan? Dan, inilah tempatnya." Secara perlahan, Damar membuka pintu. Baik matanya maupun mata Kalila sempat menyipit beberapa saat karena silaunya matahari. Setelah mulai bisa beradaptasi, langsunglah mata mereka tersuguhkan oleh pemandangan menakjubkan langit dan kota, tanpa tersekat oleh kaca. Tak hanya itu, ada sebuah kolam renang privasi ukuran sedang dan gazebo kecil di dekatnya. Tampak begitu indah dan sangat pas sebagai tempat melepas lelah. Kalila menangkup mulutnya tidak menyangka. Matanya tak lepas dari langit siang hari yang temaram. Kemudian, matanya beralih ke pemandangan kota di bawah sana. Tampak begitu indah. Lalu, pandangannya teralih ke sebuah kolam jernih berwarna biru. Agaknya gadis itu terkejut karena mendapati kolam renang di ketinggian puluhan meter itu. Umumnya, yang pernah Kalila lihat, kolam renang itu ada di bawah dasar. Akan tetapi ini tidak. Oh, sungguh, menakjubkan! "Gimana?" Damar berdiri di samping Kalila. Tangannya ia letakkan pada punggung gadis itu. "Kamu suka nggak sama tempat ini?" Kalila mengangguk cepat. "Ya! Suka banget. Aku nggak nyangka ada tempat semenakjubkan ini sebelumnya." "Syukurlah. Aku seneng kalo kamu seneng." Damar mengusap kepala Kalila dengan lembut. "Kita ke gezebo, ya. Ada yang pengen aku sampaikan." Kalila tidak menyahut. Namun, ia menurut saja ketika Damar menariknya mendekati gazebo yang letaknya di sudut dekat kolam renang. Pada bagian belakang gazebo terdapat beberapa tanaman hias yang membuat suasana semakin nyaman dan asri. Pandangan Kalila tak lepas dari melihat tanaman itu. Sampai kemudian, Damar memanggilnya. Membuat atensinya langsung teralihkan. "Besok aku harus pergi selama sehari. Kamu nggak bakal aku tinggal sendiri. Nanti Bunda sama Dara bakal datang buat temenin kamu sementara di sini." "Um ... apa nggak pa-pa? Siapa tahu Bunda sama Dara tiba-tiba sibuk?" Kalila beralih menatap pemandangan langit dari balik tanaman hias itu. "Lagian, aku nggak pa-pa ditinggal sendirian kok. Semua pemandangan indah di sini udah berhasil nemenin kesendirianku. Aku nggak bakal kesepian." Senyumnya mengembang begitu manisnya. Damar tampak terdiam. Entah apa yang pria itu pikirkan, yang pasti wajahnya tiba-tiba berubah datar. Tangannya terulur dan mencengkeram kuat kedua bahu Kalila. "Selama kamu menjadi milikku, nggak bakal aku biarin kamu sendiri dan kesepian," tegas Damar. Matanya memaku tajam beberapa saat pada kedua bola mata Kalila. Setelahnya, pria itu pun memutus tatapan dan beralih merebahkan kepala di pangkuan Kalila. "Kamu nggak boleh sendirian. Sampai kapan pun itu. Kalo Bunda dan Dara nggak bisa nemenin kamu, aku bakal siapin dua bodyguard untuk berjaga di depan kamar apartemen. Biar kamu nggak bener-bener sendiri dan terjaga." Damar memeluk pinggang Kalila begitu erat. Kepalanya ia benamkan pada perut rata gadis itu. "Intinya kamu nggak boleh sendiri. Sampai kapan pun itu." Kalila merasakan kegelian luar biasa pada bagian perutnya. Bukan hanya perkara wajah Damar yang terbenam di sana, melainkan sifat Damar yang sungguh menjaga betul dirinya. Terasa ribuan kupu-kupu mulai beterbangan di perutnya. "Kamu nggak boleh sendirian. Nggak bakal aku biarin kamu sendirian ketika aku pergi kerja. Kamu nggak boleh sendirian," gumam Damar sekali lagi. "Iya. Aku nggak bakal sendiri kok," ucap Kalila sebagai tanda agar Damar berhenti menggumamkan kalimat yang sama berkali-kali. "Untuk hari ini aku akan selalu sama kamu. Nggak akan aku biarin kamu sendiri. Catat itu." *** Dalam balutan celemek, Kalila sudah bersiap bertempur untuk mencipta makan malam. Dengan berbagai jenis bahan makanan tertata rapi di meja dan jangan lupakan buku resep sebagai petunjuknya. Agar sesuai takaran yang menjadikan cita rasa makanan terjaga. Biar bagaimanapun, ia ingin memberikan hasil terbaik pada sang suami. "Oke. Pertama-tama kita siapkan daging ayam, trus dicuci bersih," ucap Kalila membaca buku resep. Gadis itu mulai mencuci bersih potongan daging ayam di wastafel. Setelah selesai, ia mulai memasukkan berbagai macam bumbu di sana. Diaduknya perlahan dengan tangan yang sudah tercuci bersih. Matanya tak lepas dari buku resep, membuatnya tidak menyadari kehadiran seseorang dari arah belakangnya. "Udah mantep. Trus siapkan tepung kentang dan masukin ke dalam wadah." Kalila mengangguk kecil. Ia buka bungkusan tepung kentang lalu ia masukan semua isinya ke sebuah mangkuk. Karena iseng, Kalila pun mencolek sedikit tepung dengan jari telunjuknya. Niatnya sih ingin mencicipi rasanya barang sedikit. Namun, belum sempat masuk ke dalam mulut, tiba-tiba saja sesuatu yang mengejutkan terjadi. Kalila terbelalak kaget kala menyadari bahwa telunjuknya bukan masuk ke mulutnya sendiri. Melainkan ke mulut seorang pria dalam balutan kaus putih itu. "Mas Damar?!" "Hm? Aku cuma mau mastiin kalo nggak ada racun di tepung itu." Kalila cengo seketika. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN