BAB 2 — SANGKAR EMAS

1539 Kata
Langkah Hazel terhenti di depan pintu besar mansion Falcone. Pilar-pilar batu hitam menjulang tinggi, diterangi lampu gantung kristal yang berkilauan di langit-langit. Bagi sebagian orang, rumah ini mungkin istana. Tapi bagi Hazel, tempat itu terasa seperti penjara lain—hanya lebih megah, lebih dingin, dan lebih berbahaya. Pria-pria bersetelan hitam membungkuk pada Aginos, lalu segera membuka pintu kayu berukir lambang keluarga Falcone. Suara engselnya bergema, memantul di lorong panjang berkarpet merah. Hazel melangkah dengan tubuh kaku, jantung berdegup keras, setiap sudut rumah ini seakan mengintai dan menguji keberaniannya. Tapi bukan mansion itu yang menakutinya. Yang membuat tengkuknya dingin adalah bayangan di kepalanya—bayangan masa lalu yang tiba-tiba bangkit. Darah. Rantai yang mengikat kedua tangannya. Suara Hia menertawakan, cambuk menampar kulitnya, dan tawa Saphira yang dingin. Hazel berhenti sejenak, tubuhnya gemetar. Nafasnya tercekat seakan ruangan ini berubah menjadi kamar penyiksaan di rumah Alagar. Setiap langkah ke depan terasa seperti menginjak bara. Aginos menoleh singkat, tatapannya tajam menusuk. “Kenapa berhenti?” Hazel menelan ludah. “Tidak… tidak apa-apa.” Ia kembali berjalan, berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya. Aginos tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya melangkah mendahului, tubuh tegapnya memimpin jalan dengan wibawa seorang penguasa. Hazel mengikuti dari belakang, perasaan terjebak dalam permainan baru yang tak ia pahami. Mereka melewati lorong panjang dengan potret-potret tua keluarga Falcone. Semua wajah menatap dengan mata dingin, seakan menghakimi. Hazel menunduk, tidak berani menatap balik. Aku bukan milik siapapun… aku hanya boneka lagi, batinnya bergetar. Akhirnya mereka tiba di sebuah kamar besar di lantai dua. Pintu ganda dibuka oleh pelayan, menampilkan ruangan luas dengan ranjang canopy berkelambu putih, perabot kayu antik, dan balkon yang menghadap ke taman gelap. Aginos masuk lebih dulu. Hazel melangkah ragu-ragu, kakinya seakan berat diseret ke dalam. Begitu pintu menutup, keheningan menguasai ruangan. Pria itu melepas jasnya, menggantungnya di kursi, lalu menyalakan lampu meja. Tatapannya kemudian jatuh pada Hazel. Mata gelap itu seakan bisa menembus ke dalam pikiran terdalamnya. Hazel menunduk. Tapi justru dalam keheningan itu, pikirannya berperang. Apa yang dia inginkan dariku? Mengapa aku dibawa ke sini? Apakah aku hanya permainan lain? Ketakutan dan kelelahan membuatnya bicara tanpa berpikir panjang. Ia menatap Aginos dengan sorot menyerah. Bibirnya bergetar, tapi akhirnya keluar juga. “Kau ingin dipuaskan… bukan?” Aginos menoleh cepat, lalu terdiam sesaat. Setelah itu, tawa rendah keluar dari tenggorokannya. Bukan tawa hangat, melainkan ejekan tajam yang membuat Hazel semakin kaku. “Aku tidak menyukai barang rusak.” Ia mendekat, suaranya dingin namun penuh wibawa. “Jadi, jika ingin memuaskan tuanmu… lebih baik perbaiki dirimu dulu.” Kata-kata itu menampar Hazel lebih keras daripada cambuk mana pun. Ia terdiam, wajahnya panas, jantungnya memukul dadanya sendiri. Entah karena marah, malu, atau sakit hati. Namun ia tidak bisa membantah. Karena jauh di lubuk hatinya, Hazel tahu ia memang sudah hancur—oleh tangan keluarga Alagar. *** Pintu kamar tertutup rapat setelah Aginos pergi, meninggalkan Hazel seorang diri. Hening yang menyelimuti ruangan seharusnya memberi ketenangan, namun bagi Hazel, sunyi justru terasa lebih mengerikan daripada suara cambuk yang pernah mengoyak kulitnya. Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya meremas selimut putih bersih yang terhampar rapi. Napasnya tidak beraturan. Kata-kata Aginos masih terngiang jelas di telinganya. Barang rusak. Dua kata sederhana, tapi menghantam hatinya dengan kejam. Hazel menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Di sana masih ada bekas luka samar—garis-garis merah muda memanjang akibat ikatan rantai yang dulu terlalu sering mencabik kulitnya. Ia menutupinya dengan cepat, seolah takut ada mata yang bisa melihat. Namun tidak ada yang bisa benar-benar menutupi ingatan. Malam semakin larut. Lampu kamar meredup, cahaya bulan masuk lewat jendela, menciptakan bayangan panjang di dinding. Hazel akhirnya berbaring, menarik selimut hingga menutupi leher. Matanya berat karena kelelahan, tapi pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Ketika akhirnya ia terlelap, mimpi buruk segera menyergapnya. --- Hazel berdiri di ruang bawah tanah keluarga Alagar. Lantai dingin menempel di telapak kakinya, bau logam dan darah menyengat. Tangan dan kakinya diikat rantai, membuat tubuhnya tak bisa bergerak bebas. Di hadapannya, Zamora Hia Alagar menatap dengan senyum congkak. “Lihatlah dirimu,” suaranya menusuk seperti pisau. “Boneka kotor yang bahkan ayah pun malu mengakui.” Hazel meronta, air mata mengalir tanpa bisa ia cegah. “Aku bukan milik kalian… aku bukan—” Tamparan keras mendarat di pipinya, membuat kepalanya terpelintir ke samping. Hia mendekat, berbisik di telinganya. “Kau hanya tumbal, Hazel. Tak lebih dari itu. Kau akan jatuh, dan aku akan tertawa ketika melihatmu hancur.” Tawa dingin lain menggema di belakang. Saphira muncul, gaunnya berkilau, matanya penuh kebencian. “Anak haram… wajahmu mengingatkanku pada ibumu. w************n itu seharusnya mati sejak lama. Seharusnya aku menghabisimu juga, bersama dia.” Hazel berusaha berteriak, tapi suaranya hilang, tertelan oleh jeritan cambuk yang melayang ke punggungnya. Rasa sakit menyambar, panas, menusuk tulang. Ia menjerit, tubuhnya melengkung menahan perih. “Berteriaklah lebih keras!” Hia menertawakan. “Suaramu adalah musik favoritku.” Cambuk itu kembali datang, lagi, lagi, dan lagi. Sementara Saphira berdiri dengan senyum puas, matanya dingin seperti es. --- Hazel terbangun mendadak, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Nafasnya terengah-engah, seperti habis berlari jauh. Selimut kusut menempel di kulitnya yang lembab. Tangannya meraba leher, memastikan tidak ada rantai yang melingkar. Matanya menatap sekeliling kamar mewah itu, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak lagi berada di mansion Alagar. Namun rasa sakit di tubuhnya terasa nyata. Luka lama seakan terbuka kembali. Hazel memeluk lututnya, tubuhnya gemetar hebat. Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ia membenci dirinya sendiri karena tampak begitu lemah, begitu rapuh. Pintu kamar terbuka pelan. Seorang pelayan wanita muda masuk dengan nampan berisi air hangat. Ia terkejut melihat Hazel meringkuk di sudut ranjang dengan wajah pucat. “Nona…” pelayan itu hampir menjatuhkan nampan. “Apa Anda baik-baik saja?” Hazel tidak menjawab. Bibirnya bergetar, matanya kosong. Pelayan itu mendekat hati-hati, meletakkan nampan, lalu mengulurkan selimut untuk menutupi tubuh Hazel yang menggigil. “Anda aman di sini. Tidak ada yang bisa menyentuh Anda di bawah perlindungan Tuan Falcone.” Namun kata-kata itu hanya lewat begitu saja di telinga Hazel. Baginya, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Selama nama Alagar masih ada, neraka akan terus mengejarnya, bahkan dalam mimpi. *** Cahaya pagi menembus tirai tipis kamar. Hazel membuka mata perlahan, kelopak berat karena semalaman terjaga di antara mimpi buruk dan teriakan yang hanya ia dengar sendiri. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas, tapi ia memaksa bangkit. Ia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar. Wajahnya pucat, mata sembab, bibir kering. Gadis itu mengusap rambutnya cepat, berusaha menata diri agar tak terlihat seolah ia baru saja keluar dari neraka. “Jangan tunjukkan kelemahan,” bisiknya pada pantulan dirinya sendiri. “Jangan biarkan siapa pun melihatmu hancur.” Hazel mengganti pakaian dengan gaun sederhana yang sudah disiapkan pelayan. Kain lembut itu terasa asing di kulitnya, terlalu bersih dibandingkan pakaian compang-camping yang dulu dipaksa ia kenakan. Ketika pintu diketuk, jantung Hazel berdegup keras. Ia berharap hanya pelayan yang datang, tapi suara yang menyusul membuat tubuhnya menegang. “Bangun sudah?” suara berat itu milik Aginos. Hazel menarik napas panjang sebelum membuka pintu. Sosok pria itu berdiri tegap, mengenakan kemeja hitam dengan rompi kulit, sorot matanya tajam namun malas, seakan dunia hanya permainan kecil baginya. Tatapan mereka bertemu. Aginos menurunkan pandangannya sekilas, memperhatikan wajah Hazel. “Kau terlihat lebih buruk daripada saat pertama kali kubeli di pelelangan.” Hazel menelan ludah, menahan diri untuk tidak mundur. “Itu tidak penting.” Alis Aginos terangkat tipis. Ia menyingkir masuk tanpa menunggu izin, duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, cahaya matahari membingkai wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca. “Pelayan bilang kau terbangun tengah malam,” ucapnya datar. “Menangis.” Hazel tertegun. “Mereka… mereka salah lihat.” Aginos terkekeh, suara rendahnya terdengar sinis. “Salah lihat? Matamu sembab, suaramu bergetar, tanganmu masih gemetar sekarang.” Ia mengangkat dagunya sedikit, matanya menusuk. “Aku tidak butuh penjelasan, Nona Zielle. Aku hanya ingin tahu satu hal, kau bisa bertahan di sini atau tidak?” Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada mimpi buruk. Hazel menunduk, jemarinya meremas gaunnya sendiri. “Aku tidak punya pilihan.” “Benar,” Aginos mengangguk ringan, seolah puas dengan jawaban itu. “Di sini, kau hanya punya dua jalan. Bertahan… atau hancur lebih cepat.” Hazel mendongak, berani menatapnya kali ini. Ada api kecil di matanya meski tubuhnya masih gemetar. “Aku sudah pernah hancur. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengulanginya lagi.” Sejenak, keheningan menggantung di antara mereka. Aginos memperhatikan Hazel lama, lalu bibirnya melengkung tipis—bukan senyum hangat, tapi juga bukan ejekan penuh. Lebih mirip pengakuan diam-diam bahwa gadis itu, meski rapuh, masih punya percikan yang menarik untuknya. “Kalau begitu,” katanya akhirnya sambil bangkit dari kursi, “buktikan. Jangan hanya bicara.” Ia berjalan ke arah pintu, tapi sebelum keluar, ia berhenti sebentar. Bahunya sedikit berputar, namun wajahnya tidak sepenuhnya menghadap Hazel. “Dan satu hal lagi,” suaranya turun, nyaris seperti bisikan yang berbahaya, “jangan pernah berpikir aku akan memperlakukanmu dengan lembut hanya karena masa lalumu.” Hazel terpaku di tempat, dadanya naik turun cepat. Pintu tertutup, meninggalkan gaung kata-kata itu di udara. Ia tahu Aginos tidak berbohong. Pria itu bukan penyelamat, bukan pelindung. Ia adalah tuannya sekarang—dan hanya ada satu cara untuk tetap hidup di bawah kekuasaan Falcone, belajar bertahan, meski harus melawan luka yang masih membekas di jiwanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN