18~Janji

1184 Kata

Deswita melempar keras tasnya ke sofa begitu melangkah masuk ke ruang kerja sang suami. Setelah terpaksa mengulas senyum palsu demi menjaga wibawa di depan para karyawan, akhirnya ia bisa meluapkan kekesalannya. “Perempuan itu!” Kedua tangan Deswita mengepal erat. Ia menggeram frustrasi sambil berjalan mondar-mandir di ruangan. “Berani-beraninya dia … dasar perempuan nggak berpendidikan. Nggak tau diri!” “Bun–” “Dia selalu membantah!” potong Deswita masih ingin meluapkan kekesalannya. “Betul-betul nggak punya sopan santun!” Ivan menggeleng kecil. Ternyata, Deswita benar-benar menemui Suci. Namun, dilihat dari sikap istrinya, sepertinya pertemuan tersebut tidak sesuai harapan. Suci yang terlihat diam itu, ternyata tidak bisa ditindas begitu saja oleh Deswita. Berbeda dengan dulu saat m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN