“Kalau aku bisa membuktikannya, apa kamu mau kembali bersamaku?” Tok! Tok! Tok! “Nyonya! Nyonya! Celaka Nyonya!” Teriakan itu membuat Indira terkesiap. Ia segera menutup panggilan itu dengan frustasi. Ia langsung membuka pintu dan menatap sang asisten rumah tangga yang berdiri di hadapannya dengan wajah panik. “Ada apa?” “Pak Marcel menolak minum obatnya sebelum melihat Nyonya,” sahutnya dengan gelisah. Indira mendecak kesal. Marcel yang biasanya lebih memperdulikan dirinya sendiri, tiba-tiba mengabaikan keselamatannya hanya demi membujuknya. Terlalu gila bahkan untuk dibayangkan. Mau tak mau, Indira pun melangkah menuju kamar Marcel. Ia menatap lelaki yang terbaring dengan wajah memucat itu. “Indy, jangan pergi,” lirihnya dengan wajah memelas. Namun Indira justru menyilangk

