Malam itu Indira duduk dengan tenang. Tangannya sibuk mengaduk lemon tea dingin pesanannya. Ia sengaja mengacuhkan setiap mata yang menatapnya, bahkan suara bisikan yang menggunjingkannya. “Itu Indira Cantika, kan.” “Cantikan aslinya, ya. Daripada di layar.” “Sst … kamu liat Alex juga, nggak?” Namun sesaat kemudian, perhatiannya tertuju pada sosok sepasang kekasih yang berjalan masuk melewati pintu kaca. Tangan perempuan itu tak lepas dari lengan lelaki di sampingnya, seolah sebuah perekat tak kasat mata menempel di sana. “Indy,” sapa Lucas yang langsung duduk di depan Indira, “sepuluh menit lagi filmnya akan diputar.” Indira justru menempelkan jari telunjuk ke depan bibirnya dan berdesis pelan, ia tak ingin fokusnya menikmati pertunjukan di depannya terusik. "Itu ... Marcel Hand

