Bab 3

1100 Kata
Kavaya masih berdiam diri di depan pintu mendengarkan pembicaraan semua orang yang ada di dalam, sambil berpikir siapa yang akan menikah karena tak mungkin Rebeca. Dia tahu sekali kehidupan Rebeca seperti apa. Ceklek... "Eh, astaga, nona Kava, dari mana saja nona? Kenapa semalam tak pulang ke rumah?" Sang pelayan yang baru saja membuka pintu itu terkejut saat melihat nona mudanya berdiri di depan pintu, dengan pakaian yang lusuh dan kotor semua. Pelayan itu adalah pelayan setia mamanya dari dulu dan paling menyayangi Kavaya sejak kecil sampai sekarang. Kavaya sendiri masih diam dan tersenyum tipis ke arah pelayan yang selalu di panggilnya bibi Ami ini. Dia seperti ibu pengganti bagi Kavaya selama ini. Miranda dan Rebecca yang melihat Kavaya pulang tersenyum sinis. Begitu juga dengan beberapa tamu yang datang ke sana. "Nah, ini anak sialan yang aku bilang pada kalian. Benar kan' apa kataku kalau dia nggak tahu diri. Dia pulang malah dalam keadaan nggak jelas begini. Juga semalaman udah nggak pulang," ucap Miranda seolah Kavaya baru saja melakukan kesalahan yang tak bisa di maafkannya. Kavaya melihat ada tiga orang di sana, yang dua terlihat seperti sepasang suami istri dan satu orang lagi seperti asistennya. Mereka melihat Kavaya penuh arti saat ini tapi Kavaya tak bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya. "Bukannya kemarin kalian yang mengusirku karena aku tak mau memberitahu dimana semua perhiasan mama dan semua berkas pentingnya?" Kavaya mengucapkan semua itu dengan santai tapi perkataan itu mampu membungkam kedua anak dan ibu itu yang langsung pucat pasi. Mereka tak menyangka jika Kavaya akan mengatakan itu secara gamblang di depan semua orang saat ini. Miranda berniat memojokkan Kavaya dan membuatnya jelek tapi malah Kavaya mampu membalikkannya secara telak. Miranda menggeram marah dan tertahan, dia menatap Kavaya tajam begitu juga dengan Rebecca yang kesal dengan Kavaya. "Apa maksudmu aku mengusir mu? Bukannya semalam kamu yang mau pergi dari rumah ini setelah melakukan kekerasan kepada adikmu?" bantah Miranda lagi. "Jangan memfitnah mama seperti itu, apa karena kami keluarga tirimu kamu berhak memfitnah kami seperti itu?" Kavaya berdecih sinis, "Bukannya itu kenyataannya? Karena dari awal kalian masuk ke keluarga ini juga sudah mengincar apa yang menjadi milik mama. Bukannya kalian selama ini hanya menikmati saja tanpa menghasilkan?" Plakkkk..... Miranda langsung menampar Kavaya dengan keras begitu dia selesai bicara karena dia sudah kesal. Satu tamu perempuan di sana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang di lakukan Miranda, dia ingin membantu tapi laki laki yang duduk di sebelahnya menahannya agar tak ikut campur dan berakhirlah dia yang hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Kavaya sudah memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan itu. Dia menatap tajam ke arah Miranda sambil menahan rasa marah di hatinya saat ini. Bagi Kavaya sudah cukup perlakuan Miranda kepadanya. "Miranda, aku rasa sudah cukup dengan semua yang kamu lakukan selama ini kepadaku, karena jelas kalian bukan siapa siapa di sini dan aku bisa mengusir kalian berdua dari sini, termasuk yang selalu di panggil papa itu. Kalian bertiga tidak berhak apa apa atas rumah ini. Jadi jangan merasa kamu nyonya rumah di sini karena biar bagaimanapun tetap aku lah pemenangnya!" Miranda dan Rebecca tertegun mendengar itu semua, karena mereka melupakan hal itu dan selama ini mereka sudah melakukan berbagai macam cara agar mereka bisa mengambil semua harta itu dan berniat menyingkirkan Kavaya. Tapi anehnya banyak keberuntungan yang di dapat Kavaya selama ini. Setelah mengatakan itu Kavaya berlari pergi naik ke lantai atas, tak peduli dengan ketiga orang tamu yang menatapnya aneh. Saat ini dia ingin berdiam diri di kamarnya dan menumpahkan semua rasa sakitnya di sana. Kedua pasang suami istri itu terlihat saling pandang dan tersenyum penuh arti dan mereka mengangguk samar sedangkan asisten yang ada di belakangnya sudah menghembuskan napasnya panjang. "Ehem, maaf mengganggu, sepertinya kami akan pergi saja, rasanya tak elok menyaksikan semua pertengkaran di sini dan kami juga tak ingin ikut campur. Nanti kami akan mengabari semuanya apa yang akan menjadi keputusan kami. Dan nona Rebecca selamat sekali lagi untuk kamu karena sudah terpilih menjadi model nomer satu di majalah Yess bulan ini." ucap sang wanita itu dengan senyum lembutnya. Rebecca yang mendapat sanjungan seperti itu tentu saja langsung besar kepala dan terlihat bangga dengan pencapaiannya begitu juga dengan Miranda. Wajahnya terlihat sekali jika dia bahagia dan yakin jika Rebecca lah yang akan di pilih kedua pasang suami istri itu. "Baiklah kalau begitu kami pamit," Tanpa menunggu jawaban dari Miranda, kedua orang itu pergi begitu saja begitu juga dengan asistennya. Akan tetapi pada saat mereka berdua sampai di luar rumah wajah keduanya berbeda ekspresi dan kembali menjadi dingin dan datar. "Ck, papi aku nggak suka sama mereka. Terlalu arogan dan sombong. Lebih baik kita memikirkannya kembali, bukan begitu Pedro?" Pedro mengangguk sambil membukakan pintu untuk mereka berdua. Setelah memastikan kedua tuannya masuk ke dalam mobil mahal itu Pedro melajukan mobil itu dengan cepat. Mereka segera meninggalkan area rumah itu dan memilih menuju mansion mereka. * Setelah kepergian mereka bertiga, Miranda serta Rebecca sudah bersorak senang, bahkan Rebecca sangat percaya diri jika dia yang akan terpilih nantinya. "Mama aku yakin aku yang akan di pilih, bukannya gadis sialan itu tak mempunyai kemampuan apa apa dari pada aku? Cih, lagian mana mungkin dia mampu melakukannya? Dia saja nggak pernah kuliah kan dan hanya jalan jalan tak jelas. Dia juga tak berkerja jadi apa hebatnya dia? Iya kan mama?" ucap Rebecca penuh percaya diri. Miranda tentu saja langsung mengangguk dan tersenyum sinis saat menatap lantai dua di mana kamar Kavaya sudah berpindah di pojokan, karena kamar Kavaya sudah di minta Rebecca saat mereka datang ke rumah itu. "Tentu saja kamu yang akan terpilih dan papamu akan semakin bangga dengan kamu. Dia pasti akan mengabulkan apapun yang kamu minta nanti." sahut Miranda. Mereka nampak merayakannya dengan pergi dari rumah dan sudah bisa di pastikan jika mereka hanya akan menghabiskan uang Orlando lagi dengan berbelanja barang barang mewah yang tak di perlukan. Kavaya yang melihat kepergian dua orang yang sangat dia benci itu menatap dengan tatapan sendu. Bagaimana tidak, saat dia kehilangan ibunya tak lama malah papanya membawa perempuan lain dan seorang gadis berusia yang sama dengannya. Bahkan bisa di bilang mereka awalnya sangat manis tapi lama kelamaan sifatnya ketahuan dan mereka juga membuat papanya membencinya setiap hari. Tapi pikiran Kavaya tertuju pada dua orang yang bertamu tadi. "Apa yang mereka lakukan di sini? Nggak mungkin mencari jodoh 'kan? Atau malah mereka ingin mencari papa tapi mereka tak bisa bertemu dengannya?" Kavaya terus bermonolog tanpa tahu apa tujuan orang tadi. Tapi saat Kavaya akan berbalik masuk kembali ke dalam kamarnya dan menutup korden kamarnya dia melihat ada seseorang di bawah di depan rumahnya sedang melihat ke arahnya. "Siapa dia?" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN