Dapat skor dua minggu, itu bukan waktu yang sebentar. Terlebih untuk Milly yang memang sejak dulu terbiasa dengan bangku sekolah. Usai bersih-bersih rumah dan halaman, ia berdiri di ruang tengah. Diam menatap jarum jam yang terus berjalan, tapi baginya seperti jalan di tempat. Bibir manyun dengan kedua tangan yang menekuk di pinggang. “Perasaan udah ngepel, udah nyuci, udah nyapu seluruh halaman. Kenapa itu jarum masih ada di angka sembilan sih?” menggerutu sendiri, beneran deh, dia nggak bisa menikmati hari tenang ini. Melangkah menuju sofa, lalu menjatuhkan p****t di sana. Diam dengan mata yang menerawang ke arah luar, di mana ia yang sengaja membuka pintu depan. Bibirnya mengerucut lagi saat bayangan wajah Agas dengan seragam sekolah kembali memenuhi kepala. Ia menjatuhkan kepala ke a

