Pingitan. Vania menyebutnya pingitan. Eric menyebutnya penyelamatan.
Tujuh hari tanpa harus membalas pesan Vania yang bertanya "kamu di mana?" Tujuh hari tanpa harus mendengar suara ibunya yang bertanya "sudah hubungi Vania belum?" Tujuh hari tanpa harus berpura-pura antusias membahas warna bunga atau model gaun.
Eric duduk di kursi kerjanya di firma hukum, meskipun seharusnya dia cuti, dia tetap datang. Meja kayu mahoni yang luas itu dipenuhi berkas, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar dia baca. Tangannya memegang pena, memutarnya di antara jari-jari, sementara pandangannya kosong menatap layar komputer yang redup.
Ponselnya diam. Tidak ada notifikasi dari Vania, karena ibunya sudah melarang keras. Tidak ada panggilan dari panitia pernikahan, karena Tante Fatma yang mengurus semuanya. Tante Fatma, saudara perempuan ibunya, wanita paruh baya dengan rambut pendek dan suara tegas yang tidak pernah menolak permintaan Eric.
"Semua beres, Nak," kata Tante Fatma di telepon kemarin. "Seserahan, mas kawin, baju seragaman. Kamu tinggal datang dan tersenyum."
Eric tersenyum tipis mendengarnya. Hanya satu hal yang Tante Fatma tidak bisa urus.
Dastan.
Eric meletakkan pena di atas meja. Bunyi pena yang menyentuh kayu terdengar di ruangan yang sunyi.
Adiknya pulang setelah delapan bulan terakhir di luar negeri. Dan dalam tiga hari terakhir, Dastan sudah muncul di dua tempat yang tidak diinginkan Eric, rumah sakit tempat Vania bekerja, dan di rumah keluarga Vania saat acara lamaran.
Eric tidak tahu apa yang Dastan katakan pada Vania di rumah sakit. Tapi dia tahu jika isinya berupa peringatan. Ancaman. Hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan adik ipar pada calon kakak iparnya.
Pikirannya melayang ke malam di mana dia sempat berpikir untuk meminta ibunya tidak memanggil Dastan pulang.
"Jangan panggil Dastan, Ma," hampir saja dia ucapkan satu minggu lalu. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan saat melihat mata Disya yang berbinar setiap kali menyebut nama putra bungsunya.
Mama sudah kehilangan papa. Mama tidak bisa kehilangan salah satu dari kami.
Eric menghela napas. Tangannya meraih kaca mata di meja, memakainya, meskipun tidak ada yang perlu dia baca.
Di kepalanya, suara percakapan terakhir mereka dari tiga tahun lalu masih terngiang.
"Urus masalah masing-masing, jangan pernah ikut campur dalam urusan hidup gue. Karena gue juga gak akan merecoki hidup lo. Kita akan baik-baik saja ini demi Mama. Mama sudah kehilangan papa, jadi jangan sampai mama kecewa melihat kita yang terus bermusuhan."
Eric masih mengingat kata-kata yang ia ucapkan dengan sangat jelas. Suaranya saat itu, datar, dingin, sama seperti Eric saat berbicara dengan klien. Kesepakatan damai antara dua kakak beradik yang saling membenci.
Tapi Dastan tidak menjawab dengan kata-kata.
Dastan menatapnya dengan mata merah, rahang mengeras, dan bibir yang bergetar sebelum akhirnya meledak.
"Gue muak sama lo! Gara-gara lo papa meninggal!"
Eric membuka matanya. Ruang kerjanya masih sama, kursi kulit, meja mahoni, rak buku penuh, dan tanaman kaktus yang berbaris rapi dengan bentuk yang menarik.
Tapi di kepalanya, bayangan Dastan yang menangis di hari pemakaman ayah mereka masih jelas. Seperti baru kemarin.
Eric mengepalkan tangannya di atas paha. Kuku jarinya menekan telapak tangan sampai terasa sakit.
Di meja, ponselnya bergetar.
Bukan dering keras, hanya getaran pelan yang membuat benda itu bergerak sedikit di atas kayu.
Eric meraihnya. Layar menyala.
Jempolnya menekan tombol hijau. Dia menempelkan ponsel ke telinga, suaranya keluar lebih lembut dari biasanya.
"Halo?"
"Halo." Suara di seberang sana terdengar tenang, seperti biasa. "Aku cuma mau ngecek keadaanmu."
Eric tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum yang dia berikan pada Vania, pada ibunya, pada klien. Senyum yang hanya untuk orang yang dicintainya.
"Ya. Satu Minggu lagi, seperti yang kamu mau."
"Kamu yakin?" Suaranya pelan, ada kekhawatiran di sana. "Aku nggak mau memaksamu."
Eric menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Matanya menatap langit-langit ruangan.
"Tidak apa-apa," katanya. "Aku sama sekali tidak marah."
Dia berbohong. Tapi bukan padanya.
"Kita bertemu nanti?" tanya suara di seberang.
"Ya. Nanti."
"Dah, Honey."
"Dah."
Ponsel kembali gelap. Eric meletakkannya di meja, lalu membuang napas panjang. Udara keluar dari paru-parunya, membawa beban yang tidak terlihat.
Dia mengorbankan pernikahan. Mengorbankan kebahagiaan Vania. Mengorbankan hubungan dengan Dastan. Mengorbankan reputasinya di mata keluarga.
Tapi dia tidak membencinya. Tidak bisa.
Eric menatap foto kecil di meja kerjanya. Foto seorang yang ia sayangi, tersenyum di pantai, rambutnya berantakan, kacamata hitamnya miring.
Eric meraih foto itu, membalikkannya, dan menyimpannya di laci paling bawah meja kerjanya.
Lalu dia kembali menatap layar komputer yang redup.
Enam hari lagi. Dan semua ini akan menjadi hari yang paling berat dalam hidupnya.
***
"Pikirkan lagi, jangan mau menikah dengan Eric."
Vania mengucek matanya, tapi kata-kata itu masih tertahan di kelopak mata.
"Jangan nikahi Eric. Aku katakan ini sebelum kamu menyesalinya."
Dia membalikkan badan di atas kasur, menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Tapi suara Dastan tetap terdengar, seperti bisikan yang menempel di dinding kamar.
"Ih! Dia itu kenapa sih?!" Vania mendorong selimut, menatap langit-langit kamar. "Kalau mau larang itu kasih alasan yang jelas, bukan malah setengah-setengah."
Satu tangannya meraih bantal, menekannya ke wajah, lalu melemparkannya ke ujung kasur.
Dia duduk dengan perasaan kesal yang muncul tiba-tiba.
Hari ini dia masuk kerja, melawan larangan Eric yang memintanya cuti panjang. Tiga hari lagi pernikahan, dan Vania tidak tahan diam di rumah dengan semua pikiran yang berkecamuk.
Di ruang administrasi, layar komputernya menyala. Tapi matanya kosong. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, tidak mengetik apa pun.
"Hayo! Mikirin apa?"
Vania melengos. Riska berdiri di ambang pintu dengan senyum nakal.
"Hari ini kamu terakhir kerja, ya?" Riska melangkah masuk. "Besok sudah mulai cuti. Aku ingetin terus biar kamu gak lupa."
Vania mengangguk. "Iya."
"Hei, Van." Riska menyandarkan tubuh di meja di depan Vania. "Kamu tuh udah mau nikah, kenapa lesu begitu sih? Kayak orang baru mau dipecat."
Vania mengangkat bahu. Jari-jarinya mulai memainkan ujung kertas di meja. "Kan ada yang namanya syndrom pra pernikahan, kan?"
Riska mengangguk pelan. Matanya menatap Vania dengan hati-hati.
"Ya, mungkin aku lagi ngalami itu," lanjut Vania, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Riska tersenyum. "Jangan banyak pikiran, Van. Bayangin aja pernikahan kamu yang mewah itu sama Mas pengacara. Kok aku iri, ya." Dia tertawa kecil, mencairkan suasana.
Vania tersenyum. Palsu, tapi cukup. "Cari pacar sana!"
Riska mendengus. "Sombongnya."
Sore itu, jam menunjukkan pukul setengah empat. Vania sudah mengganti seragam dengan kemeja santai dan celana kain. Tas selempangnya melintang di d**a.
"Pa," katanya melalui ponsel. "Papa di mana? Udah lama banget."
"Di depan lobi, Van," suara Faris. "Jangan buru-buru, hati-hati."
Vania mematikan ponsel dan melangkah keluar dari ruang administrasi. Lorong rumah sakit masih ramai, perawat lalu lalang dengan map di tangan, pasien berjalan pelan dengan infus, suara troli berderit di lantai keramik.
Dia menyapa seorang perawat yang berpapasan. "Hati-hati, Van," balas perawat itu.
Vania tersenyum. Langkahnya berbelok ke lobi utama. Pintu kaca otomatis terbuka di depannya.
Udara sore menyambut wajahnya, hangat, dengan sedikit angin yang membawa bau knalpot dan rumput dari taman samping.
Matanya mencari ayahnya.
Faris berdiri di dekat pilar beton, dekat pelataran lobi. Pria paruh baya itu mengenakan jaket kulit tipis dan helm yang digantung di stang motor. Tapi dia tidak sendiri.
Di sampingnya, ada sosok lain.
Vania berhenti. Kakinya seperti tertanam di lantai.
Dastan. Berdiri dengan satu tangan di saku celana, tubuh agak condong ke arah Faris, seperti sedang mengobrol akrab. Senyum tipis yang sama. Senyum yang membuat Vania ingin membalikkan badan dan kembali ke dalam rumah sakit.
Tapi dia tidak bisa. Faris sudah menatapnya.
"Pa." Vania berjalan cepat. Langkahnya terdengar di aspal pelataran.
Dua pasang mata menoleh. Faris tersenyum. Dastan tersenyum, tapi senyumnya berbeda, ada kilatan di matanya.
"Sudah selesai, Van?" Faris bertanya, menepuk pelan boncengan motor.
Vania mengangguk cepat. "Ayo, pulang, Pa. Aku udah capek banget."
Matanya tidak menatap Dastan sama sekali.
Faris menatap Vania, lalu Dastan, lalu kembali ke Vania. "Kamu gak mau nyapa Dastan dulu? Kan dia adik Eric, calon ipar kamu."
Vania diam. Rahangnya mengeras. Dia tidak menoleh ke arah Dastan, hanya mengangkat satu kaki untuk naik ke jok motor.
"Maaf, Pa," katanya datar. "Aku lelah."
Dia duduk di jok belakang, tangannya memegang bahu ayahnya. Matanya lurus ke depan, menatap gerbang keluar rumah sakit.
Faris menghela napas kecil, lalu menatap Dastan dengan senyum canggung.
"Ya sudah, Pak, hati-hati," kata Dastan. Suaranya tenang, seperti tidak tersinggung sama sekali.
Motor menyala. Getaran mesin merambat dari jok ke punggung Vania.
Faris menekan gas, motor melaju pelan keluar dari pelataran.
Vania menatap ke belakang tanpa sengaja, hanya sekilas.
Dastan masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya di saku. Tatapannya mengarah ke punggung Vania yang memeluk tubuh Faris.
Mulutnya bergerak. Hanya bibir. Tapi Vania bisa membaca gerakannya dari kejauhan.
"Kamu ngeyel sekali."
Vania memutar kepalanya ke depan. Angin sore menerpa wajahnya, mengeringkan keringat di pelipis. Jari-jarinya menggenggam jaket ayahnya lebih erat.
Di belakang mereka, Dastan masih berdiri.
Memandanginya.