3. Dastan & Mawar Putih

1633 Kata
Orang tua Vania bilang, dia gadis beruntung. Tetangga bilang dia gadis beruntung. Teman-teman seangkatannya di rumah sakit bilang dia gadis beruntung. Bahkan sepupunya yang jarang bicara pun mengirim pesan singkat, "Wah, Vania, dapet pengacara terkenal!" Vania membalas emoji senyum, lalu menaruh ponselnya. Di cermin kamarnya, dia melihat bayangan gadis yang sama seperti dua belas bulan lalu. Wajah yang sama. Rambut yang sama. Hanya sekarang ada cincin di jari manisnya yang masih terasa asing, seperti memakai sepatu setengah nomor lebih besar. Dua belas bulan. Tiga ratus enam puluh lima hari. Vania menghitungnya di sela-sela jaga malam, di sela-sela pesan yang tidak dibalas, di sela-sela janji yang dibatalkan di menit terakhir. Teman-temannya memuji Eric, tampan, dingin, tegas, tidak mudah tergoda wanita lain. Vania hanya tersenyum setiap kali mendengar itu. "Hanya karena dia tidak mudah tergoda wanita lain, bukan berarti dia tergila-gila padaku," pikirnya pahit. Dia ingat satu malam, tiga bulan lalu, ketika dia berani bertanya. "Eric, apa kamu mencintaiku?" Eric sedang memegang ponselnya, seperti biasa, tetapi dia mengangkat wajah. Matanya menatap Vania selama dua detik. Lalu, "Ya, Vania." Bukan "ya, aku mencintaimu." Bukan "tentu saja, Vania." Hanya "ya, Vania" seperti menjawab pertanyaan apakah dia sudah makan siang. Vania memutar cincin di jari manisnya. Logam dingin itu berputar lambat. Malam itu, di restoran, dia sudah bertekad. Dia sudah mengetik pesan putus. Dia sudah membuang kue tart yang dia beli dengan uang gaji pertamanya sebagai perawat tetap. Dia sudah siap mengakhiri semuanya. Lalu Eric muncul di depan rumahnya dengan kotak beludru hitam. Vania menekan pelipisnya yang mulai berdenyut. Di luar kamar, suara ibunya terdengar keras, sedang bicara di telepon, mungkin dengan teman arisannya, mungkin dengan tetangga, Vania tidak bisa membedakan lagi. Kenapa Eric menyiapkan cincin itu? pikirnya. Kalau dia tidak mencintai aku, kenapa cincin itu sudah ada di sakunya? Dia tidak mengerti. Apakah seorang pengacara memang sulit mengucapkan cinta, dan memilih menunjukkannya dengan tindakan? Vania menggigit bibir bawahnya. Tapi tindakan Eric selama setahun terakhir justru menunjukkan kebalikannya, sering terlambat, sering membatalkan janji, lebih memilih klien daripada dirinya. Lalu kenapa cincin itu? Lamunannya buyar saat suara ibunya memanggil dari ruang tamu. "Vania." Vania tidak bergerak. Matanya masih menatap cermin, bayangannya sendiri yang bingung dengan cincin di jari manisnya. "Vania! Astaga, sini lho." Vania menghela napas kasar. Dia bangkit dari tempat tidur, langkahnya menuju pintu. Di ruang tamu, ibunya berdiri dengan dua tangan di pinggang dan sebuah tas kain besar di meja. "Ini Tante Selvi, bawain beberapa kebaya dari rumah jahitnya. Dicoba dulu, untuk Sabtu malam nanti." Vania melirik ke arah sofa. Tante Selvi, adik ayahnya, tersenyum lebar. Tangannya masih memegang tas kain lain, mungkin isinya lebih banyak kebaya. "Pakai, Van, mudah-mudahan pas," kata Tante Selvi. Matanya berbinar penuh harap. Vania tersenyum tipis. "Iya, Tante." Dia mengambil kebaya dari tas. Kainnya lembut di jari, warna krem dengan sulaman bunga kecil di bagian d**a. Dia membawanya ke kamar, menutup pintu, dan melepas kausnya. Kebaya itu meluncur ke tubuhnya. Vania menoleh ke cermin. "Wow … Pas banget," gumamnya. Sulaman itu pas di d**a, potongannya mengikuti lekuk pinggangnya. Dia memutar tubuh, melihat dari samping. Warna krem itu membuat kulit langsatnya terlihat lebih cerah. "Vania, sini keluar." Suara Rini dari ruang tamu. Vania keluar. Langkahnya pelan, karena kebaya itu sedikit panjang dan dia tidak mau menginjak ujungnya. Selvi berseru begitu melihatnya. "Cakep, mbakyu." Tangan Selvi menutup mulut, seolah tidak percaya. "Cakep banget, Vania. Lihat tuh, kayak bidadari." Rini tersenyum bangga. Tangan kanannya merapikan sedikit pundak kebaya Vania. "Alhamdulillah, acara lamaran resminya Sabtu nanti. Datang sini, ya, Selvi." Vania berdiri di tengah ruang tamu, memakai kebaya yang pas di tubuhnya, dengan cincin di jari manis yang masih terasa asing. *** Di sisi lain kota, sebuah Alphard putih berhenti di depan rumah dua lantai yang sama-sama asri, hanya berbeda warna cat dan taman di depan. Pintu penumpang terbuka. Seorang pria turun, posturnya tegap, bahunya bidang. Rambutnya sedikit lebih panjang yang entah kapan terakhir kali ia memangkas rambut dan ada jenggot tipis yang tumbuh di rahangnya. Dia menatap rumah itu, matanya menyapu dari lantai dasar hingga atap. Delapan bulan. Sudah delapan bulan sejak terakhir kali dia pulang. "Dastan." Suara ibunya dari teras. Disya berdiri dengan celemek dapur masih melingkar di pinggang, tangannya mengusap-usap celemek itu seolah baru saja selesai mencuci piring. Dastan berjalan mendekat. Langkahnya lebar, tiga anak tangga dia lewati sekaligus. Saat sampai di teras, dia langsung memeluk ibunya. Tubuh Disya terasa lebih kecil dari yang dia ingat, atau mungkin Dastan yang merasa lebih besar sekarang. "Mama senang sekali kamu akhirnya pulang," bisik Disya di telinga putranya. Tangannya menepuk-nepuk punggung Dastan. "Aku juga senang karena bisa dekat dengan mama lagi," jawab Dastan. Suaranya dalam, sedikit serak. "Ayo, masuk." Dastan melepas pelukan, lalu melangkah masuk. Matanya bergerak ke ruang tamu, sofa cokelat tua masih sama, karpet masih sama, foto ayahnya di dinding masih sama. Dapur, lorong, tangga menuju lantai dua. Semua masih sama. Kecuali satu hal. Kakaknya akan menikah. Dastan tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dia duduk di sofa, punggungnya bersandar santai, dan Disya datang dengan segelas es teh. "Minum dulu, kamu pasti haus." Disya meletakkan gelas di meja, lalu duduk di sebelahnya. "Jadi … Eric akan menikahi si perawat itu, ya?" Disya memukul lengan Dastan. Pelan, tapi tegas. "Vania. Namanya Vania, Dastan." Dastan tertawa kecil. Bahunya berguncang. "Iya, Vania." "Sudah seharusnya Eric nikahi Vania. Vania adalah gadis yang baik, dan dari keluarga baik-baik juga." Dastan mengangguk. Jarinya memutar gelas es teh di meja, membentuk lingkaran basah di atas kaca. "Kapan mereka nikah, Ma?" "Sabtu ini acara lamaran. Terus segera setelah itu pernikahan. Eric minta cepat." Dastan mengangguk lagi. Matanya menatap keluar jendela, ke arah jalan tempat tadi Alphardnya berhenti. Vania. Gadis perawat yang baik dari keluarga baik-baik. Tapi, baginya, Eric bukan pria baik-baik. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Vania. Mungkin dia akan menemuinya sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi. Sebelum Vania menyesal. Dastan mengambil gelas es teh, meneguknya, dan membiarkan dinginnya menyebar di tenggorokan. *** Siang itu, ruang administrasi rumah sakit terasa lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena jam makan siang, atau mungkin karena Vania terlalu sibuk memandangi layar komputer tanpa benar-benar melihatnya. Jari-jarinya mengetik lambat, data pasien bergulir di layar, tapi pikirannya melayang ke hari esok, acara lamaran, keluarga Eric yang akan datang, senyum Disya, dan tatapan ibunya yang penuh harap. "Vania." Dia mengangkat kepala. Riska, rekannya dari ruang rawat, berdiri di ambang pintu dengan alis terangkat. "Ada yang nyariin." Vania mengerjap. "Siapa?" Riska menyandarkan tubuh di kusen pintu, tangan menyilang di d**a. "Mantan mungkin." Vania mengerutkan kening. "Mantan apa ah, ngaco?!" Riska tertawa, suaranya menggema di ruangan kecil itu. "Ya, aku gak tau, gak nanya juga. Tapi ganteng sih." Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Kok kamu pinter ya, dapat cowok ganteng-ganteng. Padahal pak pengacara sudah ganteng, lho." "Apasih?" Vania menutup map di depannya, tidak mengerti arah pembicaraan. "Kalau kamu gak mau sama pak pengacara, lebih baik buat aku, Van." "Ngomong apa, ih!" Vania berdiri, kursinya berdecit di lantai keramik. Dia melangkah cepat melewati Riska. "Dia nunggu di lobi!" teriak Riska. Lobi rumah sakit terasa luas saat dia melintasinya. Beberapa pasien duduk di kursi besi yang dingin, menatapnya lewat. Seorang perawat lain menyapanya, tapi Vania hanya mengangguk cepat. Matanya mencari ke pelataran di luar pintu kaca, tempat yang disebut Riska. Dia mendorong pintu kaca, udara siang yang hangat menyambut wajahnya. Kedua tangannya masuk ke saku seragam. Jari-jarinya meraba ujung saku mencari benang yang menyembul. Tatapannya menyapu pelataran. Tidak ada siapa-siapa. Hanya beberapa mobil yang parkir rapi, dan seorang pria yang berdiri membelakanginya. Vania mendekat. "Halo," suaranya ragu. "Mas yang cari saya, ya?" Pria itu memutar tubuhnya perlahan. Matahari tepat di belakangnya, membuat bayangannya jatuh panjang ke aspal. Vania berkedip. Wajah itu, tajam, tulang pipi menonjol, senyum miring yang sudah pernah dia lihat di rumah orang tua Eric. Tapi kali ini lebih dekat. Lebih terang. Dan lebih jelas. "Hai, calon kakak ipar." Suara berat itu mengalir pelan, seperti orang yang sedang menikmati setiap huruf yang diucapkannya. Vania merasakan tenggorokannya mengering. Dia menelan ludah, dan gerakan itu terasa terlalu jelas di lehernya. "Dastan." Dastan tersenyum. Bukan senyum ramah, lebih seperti kucing yang baru menemukan tikus di sudut ruangan. Satu tangannya di saku celana, yang lain memegang setangkai bunga mawar putih yang tidak dia sadari tadi. "Kamu kelihatan terkejut," kata Dastan. "Gak senang lihat aku?" Vania mengatur napasnya. "Kapan kamu pulang?" "Kemarin." Dastan melangkah maju satu langkah. Jarak mereka kini hanya satu meter. "Mama bilang besok acara lamaran. Aku pikir sebelum kamu terikat sepenuhnya, kita bicara dulu." Vania menatap mawar putih di tangan Dastan. "Itu buat apa?" Dastan menunduk, melihat bunganya, lalu tersenyum lagi. "Ini? Hadiah pertemuan pertama dengan calon kakak ipar. Manis, kan?" Vania tidak menjawab. Ujung jarinya di saku seragam menggenggam kainnya sendiri. "Sebentar lagi kita keluarga," kata Dastan pelan. "Tapi aku rasa kita belum benar-benar mengenal satu sama lain, 'kan?" Matanya menatap Vania dalam, sama seperti dulu di rumah orang tua Eric. Tatapan yang terasa seperti sedang mengorek sesuatu dari dalam dirinya. Vania menoleh ke samping, mencari jalan keluar. Tapi Dastan tidak bergerak, dan dia tidak bisa mundur karena ada mobil di belakangnya. "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Vania akhirnya. Suaranya terdengar lebih datar dari yang dia rasakan. Dastan meraih tangannya. Perlahan. Seolah memberi waktu bagi Vania untuk menarik diri. Tapi Vania tidak bergerak. Dastan meletakkan mawar putih itu di telapak tangan Vania. Batangnya masih dingin, masih segar. "Pikirkan lagi, jangan mau menikah dengan Eric." Vania terkesiap dengan ucapan Dastan. "Apa maksudmu?" "Jangan nikahi Eric. Aku katakan ini sebelum kamu menyesalinya." Dia tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya tenang, seolah ia tidak menyadari jika sudah membuat jantung Vania berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Vania berdiri di pelataran lobi, memegang bunga mawar putih yang tidak dia minta, dengan aroma yang khas bercampur dengan rumah sakit. Dia menatap punggung Dastan yang menjauh, lalu ke bunga di tangannya. Perlahan, Vania membuang mawar itu ke tempat sampah di dekat pintu masuk. "Dia benar-benar gila!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN