Begitu pintu tertutup sempurna, Rafa mendorong tubuh Keira pada pintu yang yang sudah tertutup, lalu mengecupi setiap jengkal wajah istrinya. Keira tak kuasa untuk menahan tawanya, geli karena bulu-bulu halus di dagu Rafa mengenai kulit wajahnya. Dengan lembut, Rafa meraih coffe yang tadi Keira pesan dari caffe, kemudian meletakannya di meja. Sebelum akhirnya kembali mengungkung tubuh Keira, membuat Keira tak bisa bergerak dengan leluasa. "Da-dad." Seketika Keira merasa gugup, sekaligus takut. Keira mendorong tubuh Rafa agar menyingkir dari hadapannya, tapi bukannya bergeser menjauh, tubuh mereka malah semakin menempel. Kini tak ada lagi jarak yang tercipta antara mereka. Keira bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat Rafa yang kini menerpa permukaan wajahnya, hidung man

