Pramasta sudah menunggu di dalam mobil ketika Ayu keluar dari restoran. Ia tidak turun. Tidak menyandarkan diri di pintu mobil. Tidak juga memasang wajah cemas seperti pria yang baru saja menjemput calon istrinya dari makan malam penuh drama. Walau sudah menawarkan diri menemani, nyatanya Ayu tidak selemah yang dia duga. Pramasta menghargai keputusan Ayu. Dia percaya Ayu bisa melawan badai. Itu sebabnya Pramasta hanya duduk santai di balik kemudi, satu tangan di setir, satu tangan memainkan kunci mobil, rambut gondrongnya diikat asal, jendela sedikit terbuka. Seolah yang baru saja terjadi di dalam restoran hanyalah… makan malam biasa. Ayu membuka pintu mobil dan masuk tanpa bicara. Mobil melaju beberapa meter sebelum Pramasta angkat suara. “Jadi,” katanya santai, “menu apa yang mena

