Pramasta mengantar Ayu pulang seperti biasa. Tidak ada hujan dramatis, tidak ada musik sendu, hanya sore biasa dengan matahari setengah malas dan jalanan yang mulai macet. Mobil berhenti di depan kos Ayu. Ayu membuka sabuk pengaman. “Makasih, Pram.” “Besok aku jemput,” kata Pramasta santai. Ayu menoleh. “Buat apa?” “Sekalian sama orang tua kamu.” Ayu langsung berhenti bergerak. Alisnya berkerut. “Hah?” Pramasta tersenyum miring, gaya tengilnya keluar. “Surprise.” “Surprise apaan?” Ayu menyipitkan mata. “Kamu mau ngapain lagi?” “Tenang,” jawab Pramasta sambil mengibaskan tangan. “Bukan culik massal. Percaya aja sama aku.” "Aku nggak bisa percaya sama kamu kalau udah begini. Kamu mau ngapain?" Ayu masih kepo. Pramasta hanya memberikan senyuman tengilnya, "Jangan kepo, besok juga t

