Setapak demi setapak langkah kita kian dekat. Boleh kutebak ini pertanda apa? . . "Cieee ... jadi pada akhirnya kamu duluan, nih, Ra?" Dikara menatap sang kembaran. "Nggak tahu, Nis. Lihat nanti saja. Kan, aku baru mau dilamar." Hari itu Dikara memakai pakaian terbaiknya, dipoles make up tipis, dengan rambut ditata menunjukkan leher jenjangnya. "Cantik banget, sih, calonnya abang!" Lagi-lagi Niska bicara, dia selalu mengagumi keelokan Dikara. "Terima kasih. Kamu juga cantik." Niska senyum. "Padahal dulu kamu bilang nggak suka abang, ya, Ra? Eh, sekarang ...." Dikara menatap pantulan dirinya di cermin. Benar, dia tidak suka karena Bang Daaron berisik. "Sepertinya ini hasil kuasa Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati manusia." "Ah, kamu bisa aja!" "Rombongannya udah datang!" Uc