Malam ini Reya duduk bersandar di kursi, menyelesaikan lembar terakhir dari tugas akhirnya. Mata lelahnya membaca kalimat demi kalimat, mencoba fokus meski pikirannya jauh melayang. Pertunangan Barat dan Tania. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu menganggu dirinya. Reya sendirian. Lagi-lagi. Seperti saat ayahnya pergi, seperti malam-malam penuh kesedihan itu. Reya merasa sudah terbiasa melewati itu. Tiba-tiba, suara bel berkali-kali menggema di pintu. Sebelum akhirnya berhenti dan pintu terbuka. Reya menoleh, ragu. Apakah Barat? Tak lama seseorang masuk, benar itu Barat. Pria itu berdiri di ambang pintu, lalu berjalan masuk. jasnya masih rapi, tapi wajahnya terlihat kusut. Matanya merah, entah karena lelah atau alkohol atau perasaan yang dia sendiri tak bisa pahami. "Pak Barat?" Ada r

