Sementara di sisi lain, ruangan rumah sakit itu sepi. Hanya suara detak mesin infus dan langkah perawat sesekali yang terdengar dari lorong. Reya duduk di samping ranjang, menyuapi ayahnya perlahan. Makanan di hadapan Reya masih hangat, dan ia meniupnya sebentar sebelum menyuapkannya lagi ke mulut lelaki tua itu. "Ayo, Pak. Satu suapan lagi," bisiknya pelan, mencoba tersenyum meski matanya sembab. Rajin, ayah Reya, mengangguk kecil. Meski tubuhnya terlihat lemah, ia masih bisa menatap anaknya dengan hangat. "Enak, kamu yang masak, ya?" tanyanya pelan. Reya tertawa singkat. "Enggak, Pak. Ini dari atasan aku aku bawa buat bapak. Tapi kalau nanti udah sembuh, aku masakin. Mau makan apa?" Rajin tersenyum lalu mengangguk. "Apa aja, yang penting kamu temenin bapak makan. Bapak seneng atasan

