Permainan?!

1205 Kata

Wangi aroma masakan membuatku terbangun. Aku tidur pulas setelah berkali-kali main kuda-kudaan berbagai gaya dengan Reza. "Hai, kamu lapar?" tanya Reza. Rupanya pria itu memesan makanan ke dalam hotel. Aku beringsut bangun. Gak berani berdiri karena tubuhku masih tanpa busana. "Lapar dong, sejak tadi pagi aku belum makan apapun." Reza menghampiriku lalu mencium bibirku sekilas. "Siapa bilang belum makan apapun? Kamu sudah makan kepala burung nuri berkali-kali." Plak! "Hus, diam lah!" "Aduh," Reza mengaduh saat aku memukul pahanya. Pria itu terkekeh. "Awas saja kalau dibahas lagi," ucapku sambil memalingkan wajah ke arah lain. Malu, Parjo! Mungkin saat aku main kuda-kudaan tadi, ada dorongan ghaib yang membuatku berbuat liar. Rasanya dorongan gairah lebih besar dari rasa malu. Set

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN