Mama terus memaksaku untuk menemui Reza. Ogah-ogahan aku nurut saat Mama merias wajahku. "Ma, jangan ketebelan, ntar jadi kayak badut." Aku masih terus protes. Ini dandan lama amat. Dari jam sembilan sekarang sudah jam sepuluh masih belum kelar. "Tenang saja, Mama ahlinya dalam hal beginian. Lagian sih kamu pake gak mau ke salon segala. Ya terpaksa Mama yang turun tangan." "Kan cuma mau menemui Reza doang. Ngapain pake acara ke salon? Aku bukan mau kawin lagi, Ma." "Hus, kalau ngomong tuh jangan asal, Sil." "Jangan pake ini ah," aku protes saat Mama memasang bulu mata. "Biar cakep, diam ah!" "Ih, gak enak saat kedip mata, Ma. Berat." Sumpah ya, aku juga senang dandan. Tapi gak yang tebal begini. Lihat, wajahku di cermin udah mirip Tante girang yang lagi nyari berondong. Menor amat

