Aku dan Reza bingung. Sedangkan Mama di seberang sana terus saja berbicara. "Sesil? Kamu kok gak ngomong? Kenapa kamu? Sariawan ya?" "Tidak, Ma." Aku menjawab lesu. Gimana ini, aku menatap nanar pada tubuh toplesku. Aish, mana sudah terlanjur buka segel lagi. Kalau aku tekdung gimana coba? Masa jadi jendes anak satu? "Terus kenapa diam aja? Sakit gigi?" "Enggak, Ma. Aku hanya ...." "Jangan bilang kalau kamu berubah pikiran lagi? Ingat lho, Reza sudah berkhianat sama kamu. Bahkan sampai sewa hotel segala sama cewek. Mama gak rela pokoknya." Reza hendak bersuara tapi aku menahan bibirnya dengan telunjukku. Memberinya isyarat agar dia diam. Untungnya Reza nurut. "Bukan begitu, hanya saja aku belum sempat urus itu. Dan lagi, aku belum bahas tentang ini dengan Reza." "Halah, gak usah

