Bab 09

1122 Kata
Brugh Callista menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Ia baru saja pulang setelah sibuk dengan urusan dunia. Tiba-tiba ia teringat dengan kejadian di kantor pagi tadi. Di mana ia berciuman dengan Reynand. Plak Plak “Astaga, apa yang kamu pikirkan, Callista? Kenapa tiba-tiba memikirkan kejadian itu?!” gumamnya Callista menampar pipinya berulang kali mencoba menghilangkan memori tadi pagi dari pikirannya. “Ingat Callista, dia adalah laki-laki b******k!” “Laki-laki tidak memiliki tanggung jawab. Dan kenapa takdir kembali mempertemukan diriku dengannya?” “Aarrgghhh..” teriaknya frustasi Drtt.. drtt.. drtt.. Tiba-tiba ponsel Callista bergetar, dan ternyata ada panggilan masuk. Callista mengambil ponselnya melihat siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini. “Livia!” lirihnya “Apa aku angkat saja?” Callista menerima telepon Livia dengan perasaan campur aduk. “H-hallo!” “Hallo, Callista! Are you okay?” “Callista, lo sekarang ada di mana? Berhari-hari lo nggak ada kabar. Syukurlah, akhirnya gue bisa menghubungi lo.” Livia terlihat khawatir, bahkan nada suaranya terdengar panik. Berhari-hari ia tidak mendapat kabar dari sahabatnya. Tiba-tiba pergi tanpa kabar, bahkan tidak meninggalkan jejak apapun. “Callista, lo baik-baik aja kan?” tanya Livia “Hmm.. gue selalu baik, Liv.” “Lo di mana sekarang? Gue mau ketemu sama lo.” “Sudah malam, Liv. Sebaiknya lain kali…” “Nggak ada lain kali! Malam ini jug ague mau ketemu sama lo. Lo di mana sekarang?” “Huhh..” Callista membuang nafas kasar “Jawab, Callista!” ucapnya dengan nada penuh penekanan “Aku sekarang ada di rumah.” “Baiklah. Gue kesana sekarang!” “Tapi…” Tutt.. tutt.. tutt.. Belum selesai bicara Livia mematikan sambungan teleponnya begitu saja. “Huhh..” Callista menghela nafas kasar. Ia tidak bisa menghentikan apa yang ingin Callista lakukan. “Kamu benar-benar sahabat terbaikku, Liv.” gumamnya Beberapa menit kemudian. Tok.. tok.. tok “CALLISTA!” panggil Livia dengan kencang “Sabar, Liv!” Ceklek Pintu terbuka dan terlihatlah Livia berdiri di depan pintu. Callista mempersilahkan sahabatnya masuk ke dalam rumah. “Nggak bisa lebih pelan manggilnya, hm?” “Takutnya lo pura-pura nggak dengar, dan nggak mau buka pintu. Lo kan menghindar.” Keduanya duduk saling berhadapan. Livia menatap Callista dengan tatapan penuh tanda tanya. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Tiba-tiba menghilang seolah ditelah bumi. Dan untung saja kali ini ia bisa menghubungi sahabatnya itu. “Lo kenapa, Callista? Tiba-tiba nggak ada kabar. Nggak ada angin, nggak ada hujan lo tiba-tiba menjauh dari gue.” “Gue ada salah?” tanya Livia Callista menggelengkan kepalanya. Livia tidak ada salah apapun padanya. Justru ia menjauh karena malu dengan sahabatnya, bahkan malu dengan dirinya sendiri. Akibat kejadian malam itu membuat Callista ingin menjauh dari semua orang, termasuk sahabatnya sendiri. “Terus lo kenapa menjauh?” tanya Livia “—“ Callista terdiam sembari menunduk. Rasanya malu untuk berkata yang sejujurnya. “Dan lo kenapa tiba-tiba keluar dari pekerjaan?” tanya Livia sekali lagi “—“ “Callista, jawab! Gue butuh jawaban lo.” “Apa yang sebenarnya terjadi?” Livia menggoyangkan kedua lengan sahabatnya menuntut jawaban. “A-aku malu, Liv!” cicitnya “Malu?” Livia menatap Callista dengan tatapan penuh tanda tanya. Apa yang membuat sahabatnya malu? Di saat pertama kali bertemu hubungan keduanya baik-baik saja. Bahkan Callista terlihat excited menerima tawaran pekerjaan darinya. Di kepala Livia banyak sekali pertanyaan. “Malu kenapa, Callista?” “—“ Livia menangkup wajah Callista karena wanita itu tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia menatapnya lekat dan penuh intimidasi. Ia yakin ada yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. “Gue sahabat lo! Nggak usah malu buat menceritakan semuanya.” Setetes air mata jatuh membasahi pipi Callista. Ia terharu mendengar perkataan sahabatnya. “A-aku…” “Lo kenapa, Callista?” “Aku minta maaf.” “Hei, lo nggak ada salah. Kenapa harus minta maaf!?” Dan mengalirlah cerita dari Callista tentang kejadian malam itu. Ia tidak kuasa menahan tangis. Tubuhnya bergetar hebat ketika menceritakan kejadian malam itu. Suatu hal yang tidak akan mungkin bisa hilang dari ingatannya. “Hikss..” isak tangis Callista Tubuh Livia mematung. Rasanya sulit dipercaya setelah medengar cerita sahabatnya. Ia merasa bersalah. Ia seolah telah memasukkan Callista ke dalam kandang buaya. Sahabatnya begitu polos, dan seharusnya ia tidak mempekerjakan Callista di tempat usahanya. Livia menarik Callista ke dalam pelukannya. Ia mengeratkan pelukannya sebagai permintaan maaf, meskipun kata maaf tidak bisa mengembalikan semuanya. “Callista, gue minta maaf!” “Gue nggak ada maksud…” "Sstt.. nggak papa, Liv. Ini semua bukan salah kamu.” ujar Callista sembari melepas pelukannya. Callista menangkup wajah Livia sembari menatapnya lembut. Ia tersenyum manis. Ia tahu sahabatnya tidak berniat buruk padanya. Namun takdir yang membawanya ke arah sana. Justru ia berterima kasih pada Livia karena dia telah berusaha menolongnya. “Ini semua bukan salah kamu, Liv! Mungkin, ini semua sudah menjadi kehendak Tuhan. Lagipula semuanya sudah terjadi.” ‘Nasi sudah berubah menjadi bubur. Kalau kamu tanya menyesal? Jawabannya iya. Tapi aku tidak pernah menyalahkan kamu dalam hal ini.” “Justru aku berterima kasih karena kamu mau menolongku di saat susah.” ujar Callista dengan tulus Sebaik-baiknya sahabat adalah saling menolong. Livia menggenggam tangan sahabatnya. Meskipun Callista tidak menyalahkannya, namun di dalam hatinya masih terbesit rasa bersalah. “Sekali lagi aku minta maaf!” lirih Livia “Udah ah, lagipula masalah itu sudah berlalu. Dan aku tidak ingin mengingatnya lagi.” Bohong, Callista sering teringat kejadian malam itu di saat tubuhnya lelah. Ia masih mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Ia berusaha untuk tidak menyalahkan takdir. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berdoa yang terbaik untuk dirinya sendiri. “Kamu sekarang sudah bekerja?” tanya Livia Callista mengangguk sembari tersenyum kecil. “Alhamdulillah. Aku sekarang sudah bekerja.” “Syukurlah. Di mana?” “Di Perusahaan Mahendra Group.” Livia menutup mulutnya tidak percaya. Ia merasa bangga pada sahabatnya itu. “Really?” “Iya, Liv.” jawabnya sembari tersenyum “Cal, selamat ya! Nggak semua orang bisa bekerja di Perusahaan itu. Kamu adalah orang terpilih.” “Aku bangga sama kamu, Callista.” “Terima kasih, Liv.” “Bahkan aku tidak menyangka bisa bekerja di Perusahaan itu.” “Takdir Tuhan jauh lebih indah dari apa yang kita minta. Kejadian kemarin jadikan sebuah pelajaran. Aku yakin kamu bisa lebih baik dari kemarin.” “Aamiin. Terima kasih sudah mau menjadi teman terbaikku, Liv.” Callista dan Livia saling memeluk. Livia ikut bahagia jika sahabatnya bahagia. Do-doa baik selalu menyertai keduanya. Perhatian dan kasih sayang keduanya begitu tulus. Jika Callista tidak beruntung dalam hal apapun, tapi ia beruntung memiliki sahabat seperti Livia. Ia tidak tahu kesepian seperti apa yang dirasakan tanpa Livia di sisinya. Selain menjadi sosok sahabat baginya Livia adalah malaikat tanpa sayap di hidupnya. Next
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN