Khavi duduk sendirian di sebuah batu di tepi pantai. Matanya menatap luas lautan, berharap hatinya juga bisa seluas itu. Melihat Vano tanpa bisa merengkuh rasanya sangat berat. Terkadang timbul rasa ingin menyerah pada permintaan Zahra yang membuatnya harus menahan diri. Tapi di sisi lain, ia tak ingin melukai perasaan Zahra. Apapun masalahnya, saat ini Zahra adalah prioritasnya. Khavi hanya berharap waktu tujuh bulan lagi bisa berjalan dengan cepat dan baik-baik saja. Hatinya di kuatkan agar tidak melakukan sesuatu yang melukai perasaan Zahra. Keputusan untuk menjadikan Zahra istri sungguhan dan membawanya sedalam ini pada hidupnya adalah pilihannya. Khavi akan bertanggungjawab, tidak membiarkan sedikitpun penyesalan tumbuh di hatinya. Vanya memang mengalami luka dan banyak kesakitan

