Bab 45

1645 Kata

Malam sudah terlalu larut ketika Jevan berdiri di depan pintu kamar Vania untuk kedua kalinya. Kali ini tidak ada ragu. Tidak ada lagi tarik ulur. Kepalanya sudah penuh, dadanya sesak, dan pikirannya hanya berputar pada satu hal: Vania akan semakin menjauh kalau dia tidak melakukan sesuatu sekarang. Tangannya memutar gagang pintu. Pintu kamar terbuka. Vania tertidur miring, selimut hanya menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya tampak lelah, sisa air mata masih membekas di sudut mata. Jevan berhenti sejenak, menatap gadis itu lama. Ada rasa bersalah yang menekan, tapi lebih kuat lagi rasa takut kehilangannya. “Maafin Papa,” gumamnya pelan. Jevan melangkah mendekat, lalu menunduk dan menyelipkan satu tangan ke bawah punggung Vania, satu tangan lainnya menopang kakinya. Gerakannya cepat, te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN