Pintu ruang kerja itu tertutup rapat. Ruangan luas dengan dinding kaca menghadap kota terasa hening, hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan. Jevan berdiri membelakangi meja kerjanya, kedua tangannya masuk ke saku celana bahan hitamnya. Tatapannya lurus ke luar jendela, ke arah lalu lintas yang bergerak rapi tapi padat—seperti hidupnya belakangan ini, tertata di luar, kacau di dalam. Ketukan di pintu terdengar singkat dan sopan. “Masuk,” ucap Jevan tanpa menoleh. Sekretarisnya melangkah masuk dengan tablet di tangan. Perempuan itu sudah bekerja dengannya bertahun-tahun, hafal betul ritme, ekspresi, bahkan perubahan kecil di wajah atasannya. “Pak Jevan,” katanya hati-hati. “Ada seorang tamu yang ingin bertemu. Namanya Devan.” Jevan tidak langsung menjawab. Ada jeda tipis,

