Jevan berdiri di ruang kerjanya dengan jas yang masih terpasang rapi, namun dasi di lehernya sudah terlepas. Tangannya bertumpu di meja, kepalanya tertunduk. Nafasnya berat. Setiap tarikan udara terasa menyesakkan. Semua terasa salah. Sangat salah. Bayangan wajah Vania yang semakin menjauh darinya terus muncul di benaknya. Gadis itu kini selalu menunduk ketika berpapasan dengannya. Tidak lagi tersenyum cerah. Tidak lagi berbicara panjang. Tidak lagi mencari-cari alasan untuk berada di dekatnya. Dan itu menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada yang ingin ia akui. Pintu ruang kerja diketuk. Tok. Tok. “Papa?” suara Jelita terdengar ragu dari balik pintu. Jevan menghela napas panjang sebelum menjawab. “Masuk, Jel.” Pintu terbuka. Jelita melangkah masuk, wajahnya cemberut. Anak gadis

