Jevan benar-benar bersembunyi di bawah ranjang Vania. Tubuhnya meringkuk, satu tangan menahan napas di d**a, satu lagi menekan lantai dingin. Ruang di bawah ranjang itu sempit, penuh debu, tapi Jevan tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu hal: Jelita tidak boleh tahu. Di atas ranjang, Vania berdiri kaku ketika suara pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Jelita muncul di ambang pintu dengan piyama panjang dan wajah mengantuk. “Van?” panggilnya heran. Vania refleks menegakkan tubuh. Tangannya cepat-cepat merapikan rambutnya yang memang sedikit berantakan karena sebelumnya terlalu dekat dengan Jevan. Jantungnya berdetak tidak karuan, rasanya seperti semua suara di dunia tiba-tiba mengeras di telinganya. “I-iya?” jawab Vania gugup, berusaha tersenyum. Alis Jelita langsung berkeru

