Permainan

1062 Kata
Dengan napas tertahan, Alya menyentuh bibirnya yang terluka. Rasa perih dan sensasi logam darah masih terasa jelas. Lidahnya yang pecah-pecah menjadi bukti nyata kekejaman Nadira. Perintah biadab untuk membersihkan genangan wine di lantai dan serpihan kaca hanya dengan mulutnya. "Sudah kuduga!" gumamnya lirih, membersihkan sisa darah di sudut mulutnya. "Menerima tawaran ini berarti masuk ke dalam neraka. Tapi aku harus bertahan. Aku harus mencari cara untuk melawan, tidak boleh gegabah." Setelah mengenakan seragam maid yang terlihat sangat mencolok dan membentuk lekuk tubuhnya. Alya menarik napas dalam dan membuka pintu kamar pelayannya yang lumayan luas dan nyaman. Karena dia satu-satunya maid yang diperbolehkan Ratri menginap di rumah utama. Langkahnya tegas meski hati berdebar, menuju kamar Kai untuk menjalankan tugas pertamanya. Di koridor, ia berpapasan dengan sekelompok maid lain yang seragamnya lebih sederhana. Tatapan mereka penuh curiga, membuat Alya merasa seperti ikan di akuarium. Seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam menghadangnya. "Anak baru? Kalau begitu perkenalkan, aku Denna, kepala pelayan di sini. Sekarang bantu...." "Tugasku hanya melayani Tuan Muda Kai." potong Alya dengan sopan namun tegas, sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Dari sorot mata Denna yang menyipit, jelas ia tak menyukai bantahan ini. "Siapapun kamu, kamu harus mendengarkan perintahku!" bentak Denna, mencoba menegaskan wibawa. Tapi Alya tak gentar. "Kalau begitu, silakan tanya pada Nyonya Ratri. Dialah yang membayar gajiku dan memberi tugas khusus." Ia sedikit mendekat, suaranya berbisik tapi penuh penekanan. "Kamu hanya kepala pelayan, kan? Jangan banyak bicara!" Wajah Denna memerah marah, tapi Alya sudah berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia bisa merasakan tatapan tajam para maid lainnya mengikuti setiap gerak-geriknya. Di dapur megah yang serba stainless steel, Alya bekerja dengan tenang di tengah tatapan sinis. Dengan cekatan ia menyiapkan adonan pancake, memanaskan wajan, dan menuangkan s**u segar ke dalam gelas kristal. Tak lupa ia mengambil potongan strawberry segar dari kulkas. Sementara maid lain sibuk dengan tugas mereka, Alya menyelesaikan sarapan Kai dengan sempurna. Sepiring pancake golden brown dengan hiasan strawberry dan madu, ditemani segelas s**u dingin. Ia membawanya ke atas nampan perak, lalu berjalan menuju kamar Kai. Sambil menaiki tangga marmer, hati Alya berdebar-debar. Ini adalah pertempuran pertamanya melawan hierarki para pelayan, melawan kekejaman Nadira, dan melawan ketakutan dalam dirinya sendiri. "Entah apalagi yang akan aku hadapi hari ini, tapi aku sudah punya beberapa rencana dari segala kemungkinan yang akan terjadi." lirihnya. ***** Setelah sampai di kamar Kai, Alya menaruh nampan di meja. Pancake buatannya melayang lembut di udara. Ia tersenyum melihat bocah tampan itu masih terlelap di bawah selimut biru muda. Ada damai yang terpancar dari wajahnya, damai yang membuat hati Alya terasa diremas rasa bersalah. Dalam hitungan bulan, ia mungkin akan menjadi perusak rumah tangga ini. Itu bagian dari rencana dan tugas yang harus ia jalankan. "Sayang, bangunlah. Kita mandi, lalu sarapan ya?" Kai, bocah empat tahun dengan pipi bulat dan rambut berantakan, mengucek mata pelan. Ia memandang Alya dengan tatapan polos lalu duduk tegak. "Apa kamu suster baruku?" tanyanya ringan, tanpa rasa curiga sedikit pun. "Benar, Tuan Muda. Kita mandi dulu ya, lalu sarapan." Alya menyunggingkan senyum hangat. Pengalaman menjadi pengasuh anak part time membuatnya tahu bagaimana menenangkan dan meraih hati anak kecil tanpa terlihat berlebihan. Kai bangkit dan merentangkan tangan, meminta gendong. Alya mengangkatnya dengan lembut. "Aku nanti boleh main bebek mainanku dulu?" "Boleh. Tapi sebentar saja, ya? Nanti masuk angin!" Alya mengusap pipinya. Bocah itu langsung bersorak bahagia. Di kamar mandi, Alya menyiapkan air hangat di bathtub. Gemericik air terdengar menenangkan. Namun belum sempat ia berdiri, cipratan air menghantamnya. Kai tertawa keras saat sebagian tubuh Alya basah kuyup. Seragamnya menempel, kulitnya terasa dingin. "Sayang, tidak boleh begitu." ucapnya lembut, masih tersenyum. "Bibirmu kenapa? Apa sakit?" Kai mengganti topik sambil mengernyit. Alya belum menjawab ketika pintu kamar mandi terbuka. Ia menoleh... lalu terpaku. Axton berdiri di sana memakai bathrobe pendek. d**a bidangnya terlihat, tubuhnya tinggi, rahangnya tegas, tatapannya yang tajam seolah menembus jiwanya. "Kai suka bermain air. Maaf jika dia membuatmu basah." katanya datar. "Tidak masalah." sahut Alya cepat. "Bibirmu kenapa?" Axton memicingkan mata, kali ini lebih serius. Tatapannya menelusuri bibir Alya yang pecah-pecah dan merah seperti terbakar. "Alergi, Tuan." Alya menunduk sambil meremas jarinya. Sedikit gemetar. Itu bukan akting, memori malam dimana ia diminta membersihkan genangan wine dan kaca dengan mulutnya cukup mengerikan. "Aku juga nanya, Pa. Bibirnya kenapa? Pasti sakit." Kai ikut bersuara sambil bermain air. "Tidak, sungguh. Hanya alergi!" ulang Alya. Axton mendekat tanpa suara. Aroma shower gelnya menguar. Aroma yang maskulin, tenang, aroma yang mampu membuat d**a Alya berdebar tidak karuan. Nafas mereka bahkan hampir bersentuhan. Axton menyentuh dagunya, mengangkat wajahnya. Ujung jarinya menyentuh bibir Alya, memeriksa dengan seksama. Lidah Alya tampak terluka. Luka-luka kecil seperti bekas sengaja digores. Axton ingin bertanya, namun pintu terbuka keras. Nadira masuk dengan tatapan membara. Alya langsung tersentak mundur. Tapi, Nadira tidak memberi kesempatan. "Dasar sialan. Penggoda! Kamu bilang apa ke Axton? Mau memfitnah aku melukaimu?" Nadira menarik rambut Alya dan mendorongnya keras ke tembok. Kepala Alya terantuk lantai dan air mata langsung mengalir. "Kamu ini apa-apaan?" Axton mencoba meredam, tapi Nadira tak berhenti. "Dia fitnah aku, kan? Fitnah aku lukain dia? Alya mau cari perhatian kamu? Dasar wanita hina!" Nadira mengangkat tangannya untuk menampar. Axton langsung menahan pergelangan tangan istrinya. Tatapannya berubah gelap. "Dia bilang alergi. Dia tidak menyebutmu sedikit pun. Jadi apa kamu pelakunya?" "Kamu bela dia?" Nadira melotot, suaranya memekakkan telinga. "Kamu bermesraan di sini?" Ia menendang tubuh Alya brutal. Kai langsung menangis keras melihat kekerasan itu. "Kenapa Mama selalu kasar dan marah-marah?" Kai merintih dalam ketakutan. Axton menarik napas panjang. "Di sini ada Kai. Apa yang bisa kami lakukan? Bercinta?" desisnya dingin sambil menarik Nadira keluar kamar mandi. "Alya, maafkan istriku. Nanti aku bawa ke dokter. Kamu bantu tenangkan Kai." "Kamu bela dia? Kamu tidak sayang aku lagi?" teriak Nadira histeris dari koridor. Axton tetap menyeretnya menjauh. Alya menggigil saat memeluk Kai yang menangis tersedu-sedu. Tubuhnya remuk, pipinya memar, bahunya sakit. Nadira benar-benar monster. "Mama memang selalu marah." bisik Kai lemah. "Aku takut..." Alya mengusap rambutnya. "Tidak apa, Kai. Sudah aman." Namun di balik pelukannya yang lembut, pikirannya memutar balik memori. Alya memang sudah melihat bayangan Nadira dari pantulan kaca. Itu sebabnya ia tidak mundur saat Axton mendekatinya. Ia tahu Nadira akan terpancing. Ia tahu Nadira akan kehilangan kendali. Dan itu bagian dari rencana. Meski begitu... ia tetap menatap bocah kecil itu dengan rasa iba. Karena dalam permainan ini, Alya hanya ingin menjatuhkan satu orang, Nadira. Kai tidak seharusnya ikut terluka. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN