“Ti … ti … tidak, Tuan. Sa … saya tidak tahu, Tuan,” jawab Carlos dengan terbata-bata. Ishan pun menegakkan tubuhnya kembali. Namun, detik kemudian pria itu mengambil senjata api dari balik jaketnya dan menarik pelatuknya. Klik …! “Baiklah, berarti aku langsung lenyapkan saja,” pungkasnya. Mendengar suara pistol yang sudah ditarik pelatuknya dan mendengar ucapan Ishan, seketika membuat semua orang yang ada di tempat itu ketakutan. Mereka panik jika timah panas Ishan akan salah sasaran karena si pelaku masih tidak mau mengaku juga. “Kenapa nggak ada yang mau ngaku, sih? Sudah tau si Bos kayak gimana, bisa-bisa semua yang ada di sini dihabisin sama dia,” batin Axel dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya. Kali ini kemarahan Ishan menjadi dua kali lipat. Sebelum datang

