Chapter 3

1105 Kata
Suara musik lembut mengalun pelan, sementara para pelayan berdiri rapi di sisi ruangan terbuka. Di depan, Tommy berdiri dengan setelan jas elegan, memegang mikrofon dengan senyum hangat yang selama ini begitu dikenal banyak orang. “Terima kasih karena sudah datang,” ucap Tommy tenang, pandangannya menyapu para tamu yang hadir. “Saya benar-benar menghargai semua hubungan baik yang sudah berjalan selama ini.” Para tamu memperhatikan dengan hormat. Beberapa mengangkat gelas mereka, tersenyum mendengar sambutan pria yang dikenal sebagai salah satu CEO paling berpengaruh itu. Carlos berdiri tidak jauh dari sana bersama dengan Azalea yang langsung menjaga jarak setelah kejadian barusan. Namun beberapa detik kemudian, suara Tommy tiba-tiba melemah. Pria itu berhenti bicara. Tangannya perlahan memegang da*da kirinya. Wajahnya berubah pucat. “Papa?” gumam Carlos pelan, alisnya langsung berkerut. Tommy mencoba berdiri tegak, tetapi napasnya mulai tersengal. Mikrofon di tangannya terjatuh dengan suara nyaring yang langsung membuat suasana mendadak hening. Tubuh Tommy ambruk ke lantai. Suasana pesta berubah kacau dalam hitungan detik. “PAPA!” Carlos langsung berlari menghampiri. Ia berlutut di samping Tommy dengan wajah panik yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tangannya mengguncang tubuh ayahnya pelan. “Papa! Pa, buka mata!” suara Carlos meninggi. Para tamu mulai berdiri dari kursi mereka. Beberapa orang panik, beberapa lainnya buru-buru memanggil bantuan. Sisca yang melihat itu langsung menjerit kecil dan berlari mendekat. “Tommy!” suaranya bergetar. Carlos menoleh cepat dengan napas memburu. “Panggil ambulans sekarang!” teriaknya keras pada para pelayan. Untuk pertama kalinya, wajah tengil dan santai Carlos benar-benar hilang. Tidak ada senyum malas, tidak ada sikap bermain-main. Yang terlihat hanya kepanikan seorang anak yang takut kehilangan ayahnya. Tangannya bahkan sedikit gemetar saat memegang Tommy. Sisca mulai menangis panik di samping suaminya, sementara orang-orang di sekitar mencoba membantu sebisa mungkin. Di sisi lain halaman, Azalea berdiri terpaku. Matanya tertuju pada Carlos tanpa berkedip. Ia terbiasa melihat Carlos sebagai pria menyebalkan, santai, dan selalu bermain-main dengan hidupnya. Tapi sekarang, pria itu terlihat sangat berbeda. Carlos dengan susah payah mengangkat tubuh Tommy ke dalam gendongannya. Jas mahal yang ia kenakan mulai berantakan, napasnya memburu, tapi ia tidak peduli sedikit pun. “Buka jalan!” teriak salah satu pelayan panik saat ambulans akhirnya tiba di depan rumah. Carlos langsung melangkah cepat membawa Tommy keluar dari kerumunan. Sisca mengikuti di belakang dengan wajah pucat dan air mata yang terus jatuh tanpa henti. “Tommy…” lirihnya gemetar. Di sisi lain, Rose dan Bryan ikut bergerak cepat mengikuti Carlos menuju ambulans. Para tamu mulai saling berbisik panik, suasana pesta yang tadi mewah kini berubah kacau total. Setelah Tommy dipindahkan ke atas brankar ambulans, Carlos berdiri diam beberapa detik di depan pintu kendaraan itu. Wajahnya terlihat kosong dan bingung. Tatapannya beralih pada halaman rumah yang masih dipenuhi tamu-tamu penting, para relasi bisnis ayahnya, dan acara yang kini berantakan. Untuk sesaat, Carlos terlihat seperti kehilangan arah. Bryan yang berdiri di dekatnya mengerti kebingungan itu. Ia menepuk pelan bahu Carlos. “Carlos, pergilah! Biar Om yang urus acara di sini,” ucap Bryan mencoba menenangkan. Carlos mengangguk kecil. “Iya… makasih, Om,” gumamnya pelan. Tanpa berpikir panjang lagi, Carlos langsung masuk ke dalam ambulans menemani Tommy dan Sisca. Pintu ambulans tertutup. Bryan menghela napas panjang sambil memperhatikan kendaraan itu perlahan pergi meninggalkan rumah. Lalu ia menoleh ke belakang. “Rose, kalian ikut ke rumah sakit,” ujar Bryan cepat. “Temenin Sisca sama Carlos.” panggilnya. Rose yang sejak tadi terlihat cemas langsung mengangguk, bersama Azalea mereka menaiki mobil menyusul ke rumah sakit. *** Esok harinya, Carlos sudah berada di gedung perusahaan milik ayahnya. Ia duduk di ruangan rapat utama yang begitu besar dan terasa menyesakkan. Meja panjang mengilap terbentang di tengah ruangan, dikelilingi para eksekutif dan petinggi perusahaan yang mengenakan setelan formal rapi. Namun di tengah suasana serius itu, Carlos hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Suara bisikan para eksekutif terdengar samar di telinganya. “Bagaimana kondisi Presdir?” “Apa Carlos siap mengambil alih sementara?” “Proyek bulan depan bagaimana?” Semua percakapan itu terdengar asing bagi Carlos. Istilah bisnis, laporan, angka, dan strategi yang mereka bicarakan terasa seperti bahasa lain yang tidak pernah ingin ia pelajari. Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Bayu, asisten pribadi Tommy yang selama ini selalu berada di sisi ayahnya, mengetuk meja Carlos. “Tuan Carlos,” panggilnya hati-hati. Carlos mengangkat wajah perlahan. “Kita harus memutuskan langkah perusahaan sekarang.” Carlos hanya memandangnya kosong. “Beberapa proyek membutuhkan persetujuan. Investor juga mulai bertanya tentang kondisi Tuan Tommy,” lanjut Bayu pelan. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Ruangan kembali hening. Semua mata tertuju pada Carlos, menunggu jawabannya. Namun Carlos justru merasa semakin sesak. Ia tidak mengerti apa pun tentang tempat ini. Tentang perusahaan. Tentang tanggung jawab besar yang tiba-tiba dilemparkan kepadanya begitu saja. Carlos menunduk lagi, mengusap wajahnya kasar. Namun, detik berikutnya tatapan mata Carlos perlahan berubah serius. Ia mengangkat kepalanya lalu menatap para eksekutif di ruangan itu. “Bagaimana kalau beberapa proyek baru ditunda terlebih dahulu? Dan fokus ke hal-hal yang urgent sampai kondisi Presdir membaik.” Ruangan menjadi hening, sementara Bayu mulai memperhatikan Carlos dengan berbeda. *** Carlos mendorong pelan pintu ruang rawat VVIP itu. Penampilannya berantakan, kemejanya kusut, rambutnya tak beraturan, dan wajahnya terlihat lelah setelah seharian berada di perusahaan lalu langsung kembali ke rumah sakit. Di dalam ruangan, Sisca duduk di samping ranjang Tommy dengan mata sembab, sementara Bryan dan Rose berdiri tidak jauh dari sana. Azalea juga ada di ruangan itu, berdiri diam sambil memandang Tommy yang baru dua jam lalu selesai menjalani operasi. Begitu melihat Carlos masuk, Sisca langsung berdiri. “Carlos…” Carlos berjalan cepat mendekati ranjang ayahnya. Tatapannya langsung tertuju pada Tommy yang terlihat jauh lebih lemah dari sebelumnya. “Gimana kabar Papa?” tanyanya pelan. Tommy tersenyum tipis meski wajahnya pucat. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam tangan Carlos dengan lemah. “Papa udah dengar ... Kamu berhasil pimpin rapat hari ini.” Carlos langsung menggeleng pelan. “Jangan pikirin perusahaan dulu,” katanya cepat. “Papa fokus sembuh aja.” Tommy hanya tersenyum kecil. Tatapannya kemudian bergeser pelan ke arah Azalea yang berdiri di sudut ruangan. “Ada satu permintaan lagi…” ucap Tommy perlahan. Semua orang langsung terdiam. Tommy menarik napas pelan sebelum kembali bicara. “Papa nggak tahu umur Papa bakal sampai kapan.” “Jangan ngomong gitu,” potong Sisca dengan suara bergetar. Namun Tommy tetap melanjutkan. Tatapannya kembali pada Carlos. “Menikahlah dengan Azalea.” Carlos membeku di tempatnya. Sementara Azalea yang sejak tadi diam langsung mengangkat wajahnya cepat. Matanya melebar menatap Carlos dengan keterkejutan yang jelas terlihat. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tak ada seorang pun yang menyangka permintaan itu akan keluar dari mulut Tommy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN