Prang! Gelas yang dipegang Kaylee pecah berantakan di lantai. “Auch!” Darah mengalir keluar dari ujung jarinya, tak sengaja tergores saat mengutip satu per satu pecahan gelas. “Apa yang terjadi? Astaga tanganmu Kay!” pekik Tania ketika melihat darah pada tangan Kaylee. “Aku tidak apa-apa Kay, ini hanya luka kecil.” “Walaupun luka kecil pun, jangan anggap remeh,” omel Tania sambil merekatkan plester pada luka jari Kaylee. “Selesai,” sambungnya dengan senyum yang lebar. “Terima kasih.” Kaylee membalas senyuman Tania dengan tipis. “Ada apa?” tanya Tania yang mendapat gelengan kepala Kaylee. “Tidak ada, hanya saja entah kenapa perasaanku tidak enak.” “Sudah jangan dipikirkan, itu hanya perasaanmu saja.” Tania menguap. “Aku ke kamar dulu ya, ngantuk sekali.” **** “Kapan jadwal si