Sungguh, hati Awan terasa runtuh mendengar perkataan Aluna barusan. Di saat dia akan meluncurkan suku cadang yang mungkin akan berpengaruh pada perusahaan Aluna, Aluna dengan penuh kepercayaan memberikan amanat padanya untuk membantu mengurus perusahaan. Paralyzed! Itu yang dia rasakan sekarang. Sejenak, dia berada dalam lautan bimbang. Ingin dia membatalkan untuk meluncurkan suku cadang kali ini dan menundanya sampai batas waktu yang dia tentukan. Atau mencari jalan tengah dari masalah ini. Tapi, apa bisa? Sedangkan semuanya sudah dijadwalkan dengan ketat! "Ya sudah, kamu berangkat sekarang. Cepat kembali." Aluna beranjak dari duduknya. Ia kemudian memeluk Awan. Tak lupa ia mengecup bibir Awan, setelah apa yang pria itu lakukan setiap malam padanya. Sentuhan Awan benar-benar memabukkan

