“Astaga, Rahes.” Anna kembali ketika melihat pria itu menghajar Vano yang sejak tadi terus mengejek. Rahes dengan gusar membuat pria itu terkapar di tanah dan naik ke tubuhnya. Ia tak peduli jika Vano akan mati atau babak belur. Nyatanya, ucapan pria itu begitu membuat Rahes emosi. Vano sempat memberi perlawanan dan mendaratkan pukulan di pelipis Rahes. Saat itu, Anna segera melerai. Ia menarik lengan pria kesayangannya dan mengajaknya pergi dari sana. Gadis itu melihat mobil yang dikendarai Rahes dan segera meminta pria itu masuk. Selebihnya, ia yang berada di belakang kemudi dan membawa kendaraan itu menjauh dari kampus. “Harusnya kamu biarin aku hajar pria itu sampai mati,” kata Rahes masih kesal. “Begitu? Jadi, kamu mau hidup di penjara sama Mama?” sahut Anna. “Anna, bukan begitu.

