“Sial! Semua usahaku sebelumnya jadi sia-sia!” Umpat Kirana meluapkan kekesalannya saat mematut dirinya di hadapan cermin. Luka yang mulai mengering dan hilang itu kembali lagi seperti semula, layaknya tidak ada yang terjadi sebelumnya padahal ia sudah mengumpulkan wartawan untuk mendapatkan gunjingan massal. Pandangan Kirana tajam menatap ke arah cerminnya, hanya di situlah tempat tinggal nenek tua yang menjadi satu-satunya pihak yang bisa ia salahkan. “Nek, keluarlah! Aku tahu kamu sedang melihatku!” Pekik Kirana lantang menyuarakan kekesalan serta ketidak senangannya. Tanpa perlu jual mahal seperti sebelumnya, Mbah Wanti pun menampakkan dirinya. Tidak ada lagi tawa melengking yang mengawali kemunculannya, nenek tua itu tampak dingin dan memendam kemarahan. Suasana di dalam kamar itu me

