Rasa gatal yang tak tertahankan itu membuat Kirana tak lagi betah terus didekap oleh Rendi. Dengan sekuat tenaga ia dorong d**a bidang yang memberinya kehangatan sejenak itu hingga terlepaskan dari dirinya. Kirana tak bisa menahan diri untuk tidak menggaruki wajahnya, langkahnya begitu cepat berlari ke kamarnya, tak peduli dengan Rendi yang tampak kebingungan melihat penolakannya. Pria itu berlari mengejarnya namun kalah cepat dengan pintu yang lebih gesit menciptakan sekat di antara mereka. Kirana berhasil menutup pintu kamarnya dan mengunci rapat, membiarkan Rendi diperlakukan sebagai penunggu di muka pintu yang tak bisa berbuat apa-apa selain mengetuk pelan, meminta ijin untuk diberikan kesempatan masuk. “Kirana... please bukain pintu. Kamu kenapa?” Pinta Rendi dengan suara lembutnya,

