Bab 07 - Ujian Pertama Untuk Kirana

1132 Kata
Ucapan itu menggema di ruang UGD yang sempit. Lebih berat dan menyayat daripada suara mesin monitor. Davina langsung memeluk kakaknya. Menangis sesegukan. Kirana sendiri menunduk, menahan air mata yang jatuh satu per satu. Bukan air mata bahagia, tapi air mata perpisahan dengan hidup lamanya. Kini dia telah resmi menjadi seorang istri dari orang yang sudah menabrak Ayahnya sampai masuk ke ruang UGD. Nenek Barra menghela napas lega. Nama baik perusahaannya tetap terjaga dan cucu kesayangannya tidak dimasukkan ke dalam penjara. Mamahnya memejamkan mata. Berdoa agar keputusan ini tidak membawa lebih banyak luka. Dan Ayah Kirana perlahan tersenyum kecil, tipis, sebelum kembali terbaring lemah. Senyum seorang Ayah yang merasa telah meninggalkan putrinya pada seseorang yang ia harap akan menjaganya. Meski dunia tahu, cinta bukan alasan dari penyatuan ini. Di ruangan kecil itu, pernikahan yang lahir dari tragedi akhirnya terjadi. Tanpa tepuk tangan. Tanpa musik. Tanpa kebahagiaan. Hanya sebuah akad yang menjadi jembatan antara hidup dan rasa bersalah yang tak pernah bisa ditebus sepenuhnya. Suasana yang semula hening penuh haru berubah menjadi kepanikan tajam dalam hitungan detik. Begitu Ayah Kirana menyelesaikan ucapan terakhirnya sebagai wali nikah, suara lirih yang bergetar menahan sakit kepalanya perlahan miring ke samping. Kelopak matanya tertutup dengan sendirinya. Seolah ia akhirnya melepaskan beban panjang yang menahan tubuh tuanya. Monitor di sisi ranjang berbunyi tiiit panjang dan datar. Detik itu juga, waktu seperti berhenti. Kirana yang masih duduk di samping ranjang menegang. Wajahnya pucat seketika. Lalu ia berteriak pelan, parau. “Ayah? Ayah! Ayah bangun… Ayah jangan tidur… Ayah!” Davina langsung histeris. Tangannya gemetar saat mengguncang pelan bahu Ayah mereka. Air mata langsung jatuh deras. Barra berdiri mematung. Jas yang ia kenakan terasa terlalu ketat, terlalu panas. Jantungnya serasa melonjak ke tenggorokan. Ia menatap wajah Ayah Kirana yang kini tak lagi bernapas. Dan rasa bersalah menghantamnya seperti palu besar. Nenek Barra menutup mulutnya. Wajahnya berubah pucat. “Dokter! Panggil Dokter!” serunya dengan suara bergetar. Sementara itu, Mamah Barra mengambil langkah cepat ke luar pintu. “Perawat! Dokter! Tolong cepat!” Tak lama kemudian, dua Dokter dan beberapa perawat masuk tergesa-gesa. Suasana menjadi penuh bunyi kalang kabut. Alat medis digeser, suara instruksi Dokter, dan tangis keluarga yang pecah tanpa bisa ditahan. Kirana meraih tangan Ayahnya yang mulai dingin. “Tolong selamatkan Ayah saya, Dok… Saya mohon…,” suaranya pecah berkeping-keping. Salah satu perawat berusaha menariknya menjauh agar Dokter bisa bekerja. Tetapi Kirana menolak, menangis, memohon, hingga akhirnya Davin memeluknya dari belakang. Menahannya dengan tubuh gemetar. Barra berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak mampu bergerak, tidak mampu berkata apa pun. Ia melihat adegan itu. Keluarga yang hancur berantakan karena perbuatannya. Dan rasa sakit di dadanya seperti mencabik dari dalam. Sementara di sudut ruangan, Alya hanya bisa berdiri diam. Tangan mengepal kuat. Wajahnya pucat menahan emosi yang tak lagi bisa ia bedakan. Cemburu, marah, kecewa, dan kini… Takut melihat dampak yang jauh lebih besar dari sekadar pernikahan paksa. Monitor masih berbunyi datar. Dokter masih berusaha. Namun seluruh ruangan sudah tahu. Jika Ayah Kirana tidak akan kembali. Dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah muram. Masker yang ia turunkan perlahan memperlihatkan ekspresi berat yang sulit disembunyikan. Semua orang yang menunggu di luar, Nenek Barra, Mamah Barra, Barra sendiri, serta Alya langsung berdiri. Dokter menarik napas panjang sebelum berbicara. “Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi… Ayah kalian sudah meninggal dunia.” Kirana dan Davina yang berdiri berpegangan tangan langsung terjatuh lemas ke lantai. Kirana menutup mulutnya sambil menangis histeris. Tubuhnya gemetar hebat. “Tidak… Tidak mungkin! Ayah… Ayah belum pergi… Barusan beliau masih bicara… Barusan beliau menikahkan aku…,” suaranya pecah. Seperti tidak lagi punya kekuatan. Davin menangis sambil memeluk bahunya. “Kak… Ayah nggak mungkin pergi secepat ini… Kak…” Mamah Barra menunduk. Ikut merasakan beban kehilangan itu meski bukan keluarganya. Namun Nenek Barra tetap berdiri tegak. Meski sorot matanya melembut melihat dua gadis itu berantakan di lantai. Barra hanya menatap mereka dari jarak beberapa langkah. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Rasa bersalah menghantamnya berkali-kali lipat. Berat, menyesakkan, menjerat. Dialah penyebab semuanya. Dialah alasan air mata dua gadis itu tidak berhenti. Dialah alasan seorang Ayah pergi sebelum waktunya. Namun ada satu sisi lain dalam dirinya yang berkonflik. Sisi yang berontak dan menolak kenyataan yang dipaksakan padanya. Ia menatap cincin yang masih melingkar di jarinya. Cincin pernikahan yang tidak ia inginkan. Cincin yang mengikat hidupnya pada wanita yang bahkan tidak ia cintai. Alya hanya menatap Barra dari kejauhan. Ekspresinya kacau. Ia ingin mendekat, ingin memeluk, tapi takut menambah masalah. Sekaligus, masih ada pecahan cemburu yang menusuk dadanya ketika ia teringat pernikahan yang baru saja terjadi antara Barra dan Kirana. Ia juga tidak ingin keluarga Barra tahu tentang hubungan dirinya dan Barra selama ini yang mereka sembunyikan. Barra menarik napas dalam-dalam. Tapi suaranya tetap serak saat ia berbicara pelan, hampir tak terdengar. “Aku… Membuat semuanya jadi begini…” Nenek Barra mendekat, menatap cucunya dengan sorot tegas. “Inilah jalan terbaik yang bisa kita ambil, Barra. Sekarang kamu sudah mengurangi hukuman. Kamu harus terima pernikahan itu. Tidak ada jalan kembali.” Barra memejamkan matanya. Ia menanggung rasa bersalah atas kematian seseorang. Dan di waktu yang sama, terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih. Dalam hatinya, suara itu terus berulang-ulang. “Aku bertanggung jawab… Tapi aku tidak bisa mencintainya.” Nenek Barra melangkah pelan mendekati Kirana dan Davina yang masih terduduk lemas di kursi tunggu UGD. Mata Kirana sembab, tangannya bergetar memeluk adiknya erat-erat. Suasana rumah sakit terasa begitu sunyi. Seolah ikut berkabung atas kepergian Ayah mereka. Perempuan tua itu berhenti tepat di depan mereka. Menunduk pelan sebelum berbicara. Suaranya lembut namun penuh ketegasan. “Nak…,” ucapnya. Menatap Kirana dan Davina dengan mata yang ikut berkaca-kaca. “Kalian tidak sendiri. Mulai detik ini, biar Nenek yang mengurus semuanya. Biaya rumah sakit, prosesi pemakaman, apa pun yang kalian butuhkan… Nenek yang tanggung.” Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Air mata jatuh lagi tanpa bisa ia tahan. “Tapi, Nek… Ini semua bukan tanggung jawab Nenek. Kami… Kami bisa berusaha sendiri.” Nenek Barra menggeleng cepat. Memegang tangan Kirana yang dingin dan lemah. “Ayah kalian meninggal setelah akad yang melibatkan keluarga kami. Apa pun yang membuat kalian sampai di titik ini, tidak pantas kalian pikul sendirian. Mulai sekarang kalian juga sudah menjadi cucuk Nenek.” Davina yang sejak tadi hanya menangis dalam diam mulai terisak lebih keras. Kirana memejamkan mata. Merasakan hangatnya pelukan yang membuat dadanya sedikit lega meski kesedihan masih menyesakkan. Perempuan tua itu menepuk pelan punggung mereka. “Besok pagi kita urus semuanya bersama-sama. Malam ini… Kalian harus istirahat. Ayah kalian pasti ingin melihat kedua putrinya kuat.” Dalam hati, Kirana tahu hidupnya baru saja berubah selamanya. Namun untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia merasakan ada seseorang yang benar-benar berpihak padanya. Seseorang yang tidak membiarkannya jatuh sendirian. Dan dia berharap jika Barra juga bisa mencintainya sesuai dengan harapan Ayahnya sebelum meninggal dunia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN