Bab 2. Aku malu

1337 Kata
Suara ketukan di pintu tak membuat Alena beranjak dari ranjangnya. Gadis itu tetap meringkuk di dalam selimut, mengambil remote ac dan membuat ruangannya semakin dingin. “Alena, kamu gak kerja hari ini? Udah jam 7!” ucap Mira dari balik pintu mencoba mengingatkan anak gadisnya untuk segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Alena hanya diam. Matanya terasa perih, tubuhnya terasa pegal dan tak nyaman. Ia tidak demam tetapi ia merasa tubuhnya tak sehat. Semalaman ia tak bisa tidur, suara percakapan Luna dan Elang terus membayangi benaknya. Semakin berusaha ia melupakannya semakin suara-suara itu kencang terulang. “Akh, sialan! b******k kalian!” cacian itu kembali Alena ucapkan tapi tetap saja tak bisa membuat hatinya tenang. Entah keberapa kalinya ia mengetuk dadanya keras agar perasaannya lebih lapang sehingga mulai meninggalkan warna kebiruan karena memar. Alena menghempaskan selimutnya kesal. Bagaimana bisa ia berangkat ke kantor dengan perasaan kalut, kacau dan malu seperti ini. Alena menatap handphonenya yang saat ini dalam keadaan mati. Sejak semalam Luna dan Elang mencoba menghubunginya. Entah berapa banyak pesan yang masuk malam itu ke dalam handphonenya tetapi Alena tak sanggup membukanya. Perlahan Alena kembali mengusap dadanya yang terasa sakit dari dalam. Perlahan wajahnya mulai merengut karena menahan tangis. Menyadari bahwa Elang tak memiliki perasaan padanya dan malah jatuh cinta pada Luna membuat Alena merasa terpuruk dalam. Selama ini ia tak pernah mengharapkan cinta balasan dari Elang. Bisa menatapnya dari jauh atau berbincang sekedarnya sudah cukup untuknya. Ia tak pernah minta lebih sampai menjadi kekasih, tetapi mengapa ia dipermalukan seperti ini? Pantas saja seminggu ini sikap Luna terlihat canggung dan sering menghindari Alena. Rasa marah dihati Alena kembali terasa karena merasa curiga bahwa selama ini mungkin saja Luna dan Elang sering bertemu dan berkomunikasi di belakangnya. Ketukan keras kembali terdengar di pintu kamar Alena, kali ini pasti bukan dari Mira– sang ibu karena ibunya tak pernah mengetuk sekeras itu. “Apa?!” pekik Alena gusar karena seisi rumahnya pagi itu terasa mengganggu. “Temen kantor kamu dateng tuh!” terdengar suara sang kakak– Alan dari luar pintu. Alena langsung terduduk dari tidurnya dan kembali berteriak dari dalam kamar. “Perempuan atau laki-laki?” “Dua-duanya!” “Bilang aku gak ada!” “Alena, ini aku.” Alena terdiam, jantungnya berdegup begitu kencang ketika mendengar suara Luna diluar sana. “Alena…” Alena hanya diam saat mendengar panggilan Luna lagi. “Alena … maafkan aku, aku butuh bicara denganmu.” Hening. “Alena aku datang bersama mas Elang.” “Alenaa, kamu gimana sih? Temannya datang malah tetap di dalam kamar?! Kamu kenapa sih?” Kali ini terdengar suara Mira yang mulai kesal dengan sikap Alena pagi itu. “Gak apa-apa tante, saya menunggu disini saja.” Alena hanya diam. Hatinya gelisah. Jika ia tetap diam tak bersuara, ia merasa takut sang ibu akan menanyakan apa yang terjadi padanya pada Luna. Perlahan Alena berdiri dan berjalan menuju pintu lalu membukanya sedikit. “Tunggu saja di ruang depan, nanti aku kesana,” ucap Alena datar. Luna hanya mengangguk perlahan lalu terlihat kembali berjalan menuju ruang tamu di kediaman Alena. Alena menelan ludahnya perlahan sebelum ia berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum menemui Luna dan Elang. Luna dan Elang langsung berdiri saat melihat Alena masuk ke ruang tamu. Wajah Luna tampak pucat dan sembab habis menangis. Wajah Elang pun tampak muram. “Duduklah,” suruh Alena pelan dengan suara yang sedikit bergetar. “Alena, maafkan aku … aku benar-benar tak bermaksud membuatmu malu,” ucap Luna dengan pandangan berkaca-kaca dan suara parau menahan tangis. “Alena, kami–” “Sudahlah! Kenapa kalian datang?!” ucap Alena tiba-tiba dengan suara ketus. “Alena–” “Aku malu mas!” “Alena maafkan aku … aku benar-benar tak sengaja,” isak Luna benar-benar merasa bersalah. “Keterlaluan kamu, Luna! Seharusnya kamu bilang kalau mas Elang suka sama kamu!” “Tidak Alena, aku tidak menerima mas Elang… “ potong Luna cepat. “Aku tidak akan mengkhianatimu.” Tenggorokan Alena merasa tercekat ketika mendengar ucapan Luna. Ia tak tahu apakah harus senang mendengar ucapan Luna atau tidak. Yang jelas perasaannya saat ini sangat kacau. “Alena, kami datang untuk minta maaf … kami benar-benar tidak sengaja,” ucap Elang perlahan. Alena hanya diam dan menundukan wajahnya. “Iya, aku tahu kalian tidak sengaja! Tapi aku yang malu! Hari ini aku gak berani berangkat ke kantor karena membayangkan semua orang mendengarkan apa yang kalian bicarakan tentang aku!” Alena menarik napas panjang mencoba mengurai rasa sakit didadanya. “Sudah ya. Aku gak tahu harus marah sama siapa. Aku cuma malu. Aku bahkan gak tahu harus ngapain besok dikantor,” ucap Alena lirih sambil menggaruk-garuk rambutnya kasar mencoba meluapkan perasaan kacaunya. Tangisan Luna pecah, ia merasa sangat bersalah. Sedangkan Elang hanya bisa diam tampak kikuk. *** Sabtu pagi yang cerah. Alena merasa bersyukur bahwa ia masih diberikan waktu untuk meringkuk dirumah selama akhir pekan ini sebelum benar-benar harus masuk kantor di hari Senin nanti. Sejak kemarin ia masih tak berani membuka pesan-pesan yang masuk ke handphonenya dari teman-teman kantor. Yang ia baca hanya pesan-pesan penting seputar pekerjaan dan menjawab seadanya. Sudah dua hari ini ia tidak bisa tidur, hatinya masih gelisah tak karuan. Pagi ini perutnya terasa sangat lapar setelah hampir dua hari ia tidak mengisi perutnya sama sekali. Tak ada selera. Perlahan Alena keluar dari kamar dan mengambil sebuah apel lalu mencoba menikmatinya perlahan sambil menatap matahari pagi yang bersinar cerah. Waktu sudah menunjukan pukul 6 pagi, rumahnya masih terasa sepi. Akhir pekan begini, biasanya orang tua Alena masih di dalam kamar, begitu pula kakaknya Alan yang mungkin baru pulang satu jam yang lalu setelah menghabiskan malam dengan bersenang-senang. Bahkan asisten rumah tangganya pun belum datang untuk membersihkan rumah. Alena berjalan perlahan menuju jendela besar yang dekat dengan ruang makan, lalu duduk selonjoran menatap taman kecil dibelakang rumahnya. Ia duduk melamun sambil mencoba menikmati apel yang sedari tadi tak tertelan olehnya. Entah berapa lama ia duduk melamun, sampai akhirnya ia sadar ada tangan besar yang mengacak-acak rambutnya. Alena menengadahkan wajahnya perlahan dan melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan bahu lebar, berkulit bersih, bertelanjang d**a dengan mata setengah terbuka dan rambut acak-acakan. Tercium aroma alkohol membuat Alena mengernyitkan hidungnya. “Dasar pemabuk!” gerutu Alena yang merasa sebal karena rambutnya yang indah diacak-acak. Pria itu bernama Arga– sahabat karib Alan. Tampaknya pria-pria itu baru pulang dari club. Arga tampak tak peduli dengan sikap Alena. Tanpa rasa sungkan ia segera membuka kulkas, menuangkan air dingin ke dalam gelas dan meminumnya sampai tandas. Walau begitu ia masih tampak belum terlalu sadar, dan tampak ingin muntah. “Mas Arga jangan muntah disini! Bau ah!” protes Alena pada pria itu menatap takut Arga memuntahkan isi perutnya di wastafel tak jauh dari tempatnya duduk. “Ck! Berisik!” “Pake baju gih sana!” Ditegur begitu oleh Alena, Arga menoleh lalu berpose bagai binaragawan dihadapan adik kecil sahabatnya. “Norak, ih!” protes Alena lagi sedang malas menanggapi sikap Arga yang seolah memamerkan tubuhnya yang atletis. Arga hanya diam dan berjalan sempoyongan kembali ke dalam kamar Alan. Alena kembali mencoba menikmati apelnya tiba-tiba terdiam lalu menatap kearah kamar sang kakak. Matanya membulat dan hitungan detik ia segera berdiri dan berlari menuju kamar Alan. Tanpa mengetuk Alena segera masuk dan kembali membangunkan Arga yg kembali berbaring diatas ranjang disebelah Alan. “Mas, kamu dengar gossip soal aku di kantor gak?” tanya Alena sambil mengipas-ngipas hidungnya karena kamar sang kakak beraroma tak enak. Arga hanya menggeliat sesaat masih dengan mata terpejam sambil menunjuk-nunjuk ke arah lemari pakaian Alan, seolah menyuruh Alena mengambilkan pakaian untuknya. Dengan cepat Alena mengambil sebuah kaos milik Alan dan memberikannya pada Arga. “Mas, kemarin di kantor ada berita apa?” tanya Alena penasaran sambil terus berusaha membuat Arga kembali terjaga. Tentu saja pria ini tahu apa yang terjadi di kantor kemarin selama ia tidak masuk. Tanpa ada yang mengetahui bahwa Alena dulu dibantu masuk ke dalam kantor itu melalui Arga yang sudah bekerja lebih dulu dan memiliki posisi yang cukup tinggi walau mereka berbeda divisi. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN