Bab 9: Runtuhnya Sang Arsitek
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi warga Jakarta, kini berubah menjadi malam perburuan. Berita tentang Aurora yang membelot ke kubu Arya Satya menyebar lebih cepat daripada api yang menjilat bensin. Di depan gerbang rumah dinas, massa yang tadinya hanya puluhan, kini membengkak menjadi ratusan. Mereka bukan lagi sekadar netizen yang penasaran; mereka adalah demonstran yang merasa dikhianati oleh citra suci pemimpinnya.
Di dalam rumah dinas, Raden Wijaya mondar-mandir seperti singa yang terkurung. Ia melihat ke arah jendela; sorotan lampu senter dan kilatan ponsel dari kerumunan di luar sana terlihat seperti mata-mata setan yang mengintai.
"Pak, kita harus pergi sekarang," Deni masuk dengan terburu-buru. Wajahnya berkeringat meski ruangan berpendingin udara. "Pihak kepolisian sudah tidak bisa menjamin keamanan gerbang depan. Dan saya baru saja mendapat kabar dari orang dalam di Kejaksaan... surat perintah penyelidikan atas dugaan gratifikasi unit penthouse itu sudah ditandatangani."
Raden berhenti melangkah. Wajahnya pucat pasi. "Gratifikasi? Itu uang pribadiku, Den! Hasil dari kantor arsitekku dulu!"
"Tapi pembayarannya lewat perusahaan cangkang milik Pak Anang yang baru saja memenangkan tender proyek jembatan layang itu, Pak," suara Deni mengecil. "Secara hukum, itu dianggap suap."
Raden terduduk lesu. Ia baru sadar bahwa dalam upayanya menyembunyikan Aurora, ia telah menciptakan jejak korupsi yang sangat nyata. Ia mengira dirinya terlalu cerdas untuk tertangkap. Ia mengira kekuasaannya adalah perisai yang tak tembus peluru.
"Siapkan mobil. Kita lewat pintu rahasia di paviliun belakang yang tembus ke gang kecil. Kita ke bandara," perintah Raden dengan suara bergetar.
"Ke luar negeri, Pak?"
"Ke mana saja asal bukan di sini! Saya butuh waktu untuk berpikir!"
Sementara itu, di studio podcast milik Arya Satya, lampu merah bertanda ‘ON AIR’ menyala. Jutaan orang menonton secara langsung lewat platform streaming.
Aurora duduk dengan tenang, meski tangannya di bawah meja saling meremas. Ia sudah menceritakan semuanya: bagaimana Raden mendekatinya dengan kekuasaan, bagaimana Raden mengatur jadwal panggungnya agar sesuai dengan keinginan pribadinya, dan bagaimana Raden menggunakan fasilitas staf ahli gubernur untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Dia bukan pria yang Anda lihat di televisi," kata Aurora, suaranya jernih dan tajam masuk ke mikrofon. "Dia adalah pria yang terobsesi pada kontrol. Baginya, saya bukan manusia, saya adalah trofi. Dia membangun kota dengan estetika yang indah, tapi dia membangun hidup pribadinya di atas fondasi kebohongan dan paksaan."
Arya Satya, yang duduk di belakang kamera, tersenyum lebar. Ini adalah kemenangan mutlak. Ia melihat angka penonton yang terus melonjak. Karir politik Raden Wijaya bukan lagi di ujung tanduk—karir itu sudah jatuh ke jurang.
Di jalanan sempit di belakang kawasan rumah dinas, sebuah mobil SUV hitam tanpa plat nomor dinas melaju kencang secara sembunyi-sembunyi. Di dalamnya, Raden Wijaya memeluk tas kerjanya yang berisi paspor dan sejumlah uang tunai darurat.
Ia menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang pernah ia desain, taman-taman yang ia banggakan, dan lampu-lampu jalan yang ia pilih sendiri bentuknya. Semuanya kini terasa asing. Semuanya terasa seperti monumen kegagalannya.
Tiba-tiba, mobil itu mengerem mendadak.
"Kenapa, Den?!" teriak Raden panik.
"Ada blokade, Pak," suara Deni terdengar gemetar.
Di depan mereka, dua mobil polisi dengan lampu rotator biru yang menyilaukan sudah melintang di tengah jalan. Beberapa petugas berseragam lengkap berdiri dengan sikap siaga. Salah seorang dari mereka maju ke depan, mengetuk kaca jendela mobil.
Raden menurunkan kaca mobilnya perlahan. Sinar lampu rotator masuk ke dalam mobil, menerangi wajahnya yang kini terlihat hancur dan kuyu.
"Selamat malam, Pak Gubernur," kata petugas itu dengan nada sopan namun tegas. "Mohon maaf mengganggu perjalanannya. Kami memiliki perintah untuk menjemput Bapak guna dimintai keterangan lebih lanjut di kantor pusat terkait laporan dugaan gratifikasi dan penyalahgunaan wewenang."
Raden Wijaya menatap petugas itu, lalu menatap borgol yang terselip di pinggang sang polisi. Ia teringat pada bab pertama novel hidupnya yang ia rancang dengan sangat indah: seorang arsitek sukses yang menjadi pemimpin idola. Namun, ia lupa bahwa dalam setiap desain, jika ada satu titik tumpu yang salah—dalam hal ini, obsesi gelapnya—maka seluruh bangunan itu akan runtuh, seberapa megah pun kelihatannya.
"Boleh saya... boleh saya ambil ponsel saya sebentar?" tanya Raden lemah.
Ia membuka ponselnya untuk terakhir kali sebelum petugas memintanya keluar. Ia tidak melihat berita, tidak melihat saham, tidak melihat email kantor. Ia hanya membuka i********: Aurora.
Foto terbaru diunggah satu menit yang lalu. Sebuah layar hitam dengan tulisan putih sederhana: “Akhirnya, aku bebas.”
Raden tersenyum pahit, sebuah air mata jatuh di pipinya yang mulai berkeriput. Sang Idola telah bebas, dan Sang Arsitek kini resmi menjadi tahanan dari obsesinya sendiri.
Ia keluar dari mobil, menyerahkan tangannya untuk diborgol di bawah sorot lampu biru yang dingin, sementara di kejauhan, suara adzan subuh mulai berkumandang, menandai akhir dari kekuasaan panjang seorang Raden Wijaya.