"Aduhhhh! Udah Kak! Bukan maksud Gadis begitu. Kakak salah pa-aduhhh!" Air mata Gadis sampai keluar saat Maya sekuat tenaga menjambak rambutnya dan menampari kembali kedua pipinya. Iya yakin sebagian rambutnya bahkan sudah tercabut sekarang. Kakaknya bahkan tidak peduli wajah ayah mereka sudah menyuruhnya untuk melepaskannya. PLAKKKK! Suara tamparan yang begitu kuat terdengar di seluruh ruangan. Tetapi anehnya Gadis sama sekali tidak merasakan sakit, bahkan gerakan aniaya kakak kembarnya pun terhenti. Waktu seperti terhenti sejenak. Suasana mendadak hening. Gadis melihat sudut bibir kakaknya robek dan mengalirkan setetes darah. Rupanya ayahnya lah yang telah menampar kakaknya! "Ayah menampar Maya? Gadis melihat kakaknya memandangi ayahnya dengan tatapan tidak percaya dan diikuti dengan

