“Jadi apa maumu?” Aluna menatap Revan tajam.
Alis Revan terangkat dengan wajah kaget, “mau langsung bahas? Kamu bahkan baru makan 2 suap.”
“Udahlah, jangan banyak basa-basi, jadi bagaimana bisa kamu tahu kalau aku lagi ada masalah sama Om Tedi? Dan yang terpenting aku penasaran kenapa sebelumnya kamu begitu gencar mendekatiku?”
Revan mengangguk, “kamu boleh sambil lanjutin makan, soalnya kamu kalau lagi laper kayanya galak, aku jadi takut untuk bicara.”
Aluna menarik ujung bibirnya malas, dan lanjut menyantap makanannya karena memang ia sedang lapar, namun di sisi lain ia sangat penasaran dengan Revan.
“Dari awal aku benar-benar ingin menjalin kerja sama dengan kantormu yang sangat sulit itu, aku pikir dengan mendekatimu ini bisa memudahkan. Tapi hasilnya sama saja, kamu malah tidak kalah lebih sulit untuk didekati. Dan ya, aku pikir memang sebaiknya aku menyerah karena sepertinya hanya akan menghabiskan waktuku.”
Aluna tertawa kecil, “pergerakanmu dari awal memang sangat mencurigakan dan aneh.”
“Terima kasih review jujurnya.” Jawab Revan dengan nada dan ekspresi datar.
“Lalu kenapa tiba-tiba kamu muncul lagi?”
“Karena kamu butuh aku.”
Mata Aluna langsung membelalak mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Revan dengan santai, “hah??”
“Percayalah Aluna, kamu benar-benar butuh aku.”
“Revan, aku sedang tidak ingin mendengarkan hal tidak penting.”
Revan tersenyum miring, “kamu akan menyesali ucapanmu.”
Aluna tidak lagi menjawab, ia hanya menatap Revan dengan wajah penuh tanda tanya, ia berharap bisa mendapatkan penjelasan lebih dari pria yang tampaknya memiliki karakteristik yang sangat tidak cocok dengan dirinya walau mereka belum saling mengenal satu sama lain.
“Aku baru saja ingin mencoba menjalin kerja sama dengan perusahaan kompetitormu dan aku pikir itu lumayan. Dan disitulah aku menemukan fakta mereka mengetahui sesuatu tentang perusahaanmu yang aku pikir itu bukanlah sesuatu yang harus mereka tahu.”
Mata Aluna membesar sambil diam-diam tangannya memegang sendok dan garpu dengan lebih kuat, “kamu…”
Revan mengangguk, “kamu mungkin bisa menebak aku orang yang iseng dan kurang kerjaan, dan ya, itu bukan penilaian yang benar-benar salah. Salah satunya aku jadi penasaran dan mencari tahu lebih. Aku cukup kaget ternyata internal perusahaan kamu cukup kacau ya, lumayan juga kamu bisa membuatnya terlihat baik-baik saja dari luar.”
“Apa yang kamu lakukan? Dan apa yang kamu sudah ketahui!?” Aluna bicara dengan nada dan ekspresi waspada.
Revan tertawa santai sambil memperhatikan wajah Aluna yang tampak begitu gelisah, “tenang saja, orang lain tidak akan mudah mengetahuinya. Tapi untukku itu hal yang sangat mudah. Termasuk mengetahui kalau adik dari ayahmu tampaknya benar-benar di posisi yang bertentangan dengan ayahmu.”
“Jadi benar-benar dia!? Aku sudah tahu dengan jelas dari awal!” kesal Aluna bahkan tampak ingin melempar sendok yang ia pegang karena kecurigaannya baru saja tervalidasi.
“Kamu diposisi yang benar-benar bahaya, Aluna.”
Aluna beralih kembali melihat wajah Revan yang masih menunjukkan tawa santai, “lalu apa? Apa ini seperti hiburan untukmu? Begini caramu menghibur diri? Melihat kesulitan dan kelemahan orang lain?”
“Wah, kamu menilai orang dengan sangat cepat.” Revan membalas sambil memiringkan kepalanya memperhatikan wajah Aluna yang semua ototnya tampak menegang.
Aluna menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, otaknya terlalu lelah untuk dipaksa berpikir baik saat ini, mungkin lebih baik dirinya diam saja.
“Aku juga tahu keuangan kantormu juga sedang tidak baik-baik saja.”
“Secepatnya akan baik-baik saja lagi.” Aluna menjawab sekenanya saja dan menfokuskan diri pada makanannya.
“Ini akan sulit karena kamu sangat idealis dan disisi lain sudah banyak yang tidak satu pemahaman denganmu kan? Kamu sepertinya sedang berdiri sendiri melawan semua orang. Tidak akan bisa, percayalah.” Revan menekankan kalimat terakhirnya dengan sangat yakin.
“Kamu tidak mengenalku dan sekarang meremehkanku? Kenapa? Apa karena aku perempuan? Kamu mungkin bisa tahu dengan mudah keadaan kantorku yang dibanding kantormu tidak ada apa-apanya, tapi tidak dengan aku. Menyebalkan sekali orang-orang sepertimu.” Aluna mengangkat kepalanya lagi dan melempar tatapan tidak senang pada Revan.
Tidak seperti sebelumnya yang mana Revan akan selalu langsung menjawab. Kali ini Revan hanya diam memperhatikan Aluna yang kembali membuang pandangannya seolah tidak sudi melihat wajah Revan lebih lama.
“Bagaimana aku bisa kenal kamu kalau kamu sendiri sama sekali tidak ingin membuka diri pada siapapun?” akhirnya Revan kembali bersuara.
“Tidak perlu.”
“Baiklah. Tapi untuk sekarang kamu pasti tahu kalau aku sangat bisa membantumu, itu bukan hal besar untukku.”
Aluna tertawa miring, “setelah meremehkanku sekarang kamu ingin meunjukkan kamu bisa berkuasa dan membuatku akan bergantung dan memohon padamu?”
“Kamu benar-benar meletakkan harga dirimu setinggi mungkin.”
“Tadinya kamu bilang kamu akan mendengar kekesalanku, aku pikir aku akan mendengarkan sesuatu darimu yang membuatku akan merasa lebih baik. Tapi dari tadi kamu hanya bicara yang membuatku semakin tidak nyaman. Memang dari awal aku tidak berharap apapun pada orang lain. Setelah ini aku akan segera pulang.” Aluna menyimpulkan dan mempercepat pergerakannya menghabiskan makanan dan seolah membuat suasana agar Revan tak lagi bicara apapun padanya.
“Setidaknya dengarkan aku dulu terlepas dari penilaian burukmu sebelumnya padaku.” Revan bicara lagi setelah beberapa saat dia diam dan mempertimbangkan apa yang seharusnya ia sampaikan pada Aluna.
Aluna tidak memberikan jawaban apapaun, namun juga berarti tidak ada larangan untuk Revan lanjut berbicara.
“Aku tahu kamu kesulitan sendirian bersama papamu. Terlepas entah kenapa seperti itu, jika kamu memang tetap tidak ingin kalah dari mereka kamu harus bersama seseorang yang bisa memberikanku kekuatan lebih.”
“Siapa? Kamu??” balas pendek Aluna cuek bahkan tanpa melirik Revan sedikitpun.
“Iya.” Jawab Revan dengan pasti.
“Kenapa aku harus percaya? Dan hal yang lebih aneh dari itu adalah kenapa seorang Revan harus susah payah ikut campur pada hal tidak penting seperti ini? Bahkan setelah kamu tahu semuanya, kamu sadar kalau kerja sama dengan pihak kompetitorku akan jauh lebih aman untuk pihakmu bukan?” Aluna kini kembali mengangkat kepalanya dan melihat langsung ke arah Revan. Walaupun marah, sebenarnya ia juga penasaran dengan Revan.
“Karena disini aku butuh kamu, aku tidak bisa dapatkan itu di tempat lain.” Jawab Revan dengan yakin sambil membalas tatapan langsung ke mata Aluna sehingga untuk beberapa saat pandangan mereka saling terkunci satu sama lain.
“Berhenti bicara yang membuatku bingung.” Aluna terlebih dahulu melepaskan pandangan mata mereka, “aku tahu ini mungkin ini hiburan untukmu, tapi tidak denganku.”
“Terima tawaran kerja sama ini dan aku yakin kamu bisa melewatkan berbagai masalah dengan mudah. Kamu bisa manfaatkan aku, aku ini Darius Revan Ardana.”
“Tawaran kerja sama?”
“Terima kerja sama dengan perusahaanku, setidaknya masalah finansial kantormu bisa teratasi dengan cepat, kamu pasti tahu itu dan aku bisa jamin. Aku akan ada dipihakmu dalam permasalahan internal dan dengan kemampuanku aku bisa jaga kamu dan bahkan bisa cari tahu apa yang tadinya sulit bagimu. Tidak akan ada yang berani mengusikmu kalau ada aku bersamamu.”
Aluna terdiam sejenak memproses dan mencerna apa yang Revan maksud, “tidak mungkin kamu tidak menginginkan sesuatu dariku, apa yang kamu mau?”
“Aku hanya butuh status kamu.”
“Apa maksudnya?”
“Aku ingin kamu jadi pasanganku.”
Mata Aluna langsung membulat sempurna, ia tetap kaget walaupun sebenarnya ia sudah menduga, “maksudnya? Untuk apa?”
“Aku butuh kerja sama kantor dan kerja samamu secara pribadi. Kamu berhasil membuat branding diri yang baik, aku butuh itu.”
Aluna langsung menggeleng kencang dan menelungkupkan sendok dan garpu ditangannya dengan tegas. “Aku pikir obrolan kita sudah semakin tidak jelas, aku pulang sekarang dan aku akan lupakan obrolan kita barusan. Stop menghubungiku dan jangan ambil pusing dengan permasalanku. Aku tahu kamu iseng tapi aku minta stop ikut campur.”
“Aluna, seti.....”
“Aku pulang sekarang.”