Menanam

1283 Kata
Aluna yang sudah bersiap tidur menahan pergerakannya kareda handphone nya yang ada di meja samping ranjangnya berdering, ia mengambil handphone itu sambil memposisikan dirinya bersandar pada kepala ranjang. Matanya menatap malas nama Revan yang muncul di layar handphonenya, namun tetap mengangkat panggilan tersebut. “Halo,” Aluna meletakkan ponselnya di telinga kiri. “Kamu belum tidur kan?” “Aku tutup telfonnya sekarang dan aku akan tidur.” “Eh! Jangan dulu dong!” Revan langsung panik karena ia yakin Aluna bisa saja benar-benar mematikan panggilan. “Ada apa? Katakan dengan cepat.” “Besok kamu ngapain?” “Kenapa aku harus memberitahumu?” “Boleh aku ikut?” Aluna menghela napas, mengangkat panggilan telepon Revan dari awal memang keputusan yang tidak tepat, “tidak.” “Kenapa tidak? Aku mau ikut!” “Kenapa mau ikut? Bahkan kamu tidak tahu akan ngapain.” “Makanya kasih tahu.” “Revan, aku ngantuk dan aku sedang tidak mau meladeni kamu. Kalau kamu sedang gabut tolong jangan sekarang ganggunya.” “Aluna, aku serius. Aku butuh pertolongan dari kamu.” Aluna yang tadinya memang ingin mematikan panggilan mencoba menahan diri, “tolong apa sih?” “Aku sedang kesulitan harus menahan diri untuk tidak melakukan hal yang aku inginkan. Jika aku menghubungi teman-temanku, itu pasti akan berakhir dengan hal-hal yang tidak seharusnya. Aku yakin kalau sama kamu aku tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya.” “Jujur aku tidak paham kamu sedang bicara apa.” Aluna menyipitkan matanya bingung mendengar penjelasan Revan, entah karena dia yang memang sudah mengantuk atau memang ia tidak paham konteks yang Revan sampaikan. “Intinya, besok kamu ngapain kegiatannya?” Revan mengulang pertanyaan pada pertanyaan pertama. Aluna memilih untuk menyerah, “besok aku ada undangan datang ke event lingkungan, emang kamu mau?” “Tapi aku bisa ikutan?” “Sebenarnya ya bisa aja karena juga terbuka untuk umum. Tapi kamunya mau ga ikutin kegiatannya?” balas Aluna sambil mengambil posisi tidur, karena sebenarnya ia memang sudah mengantuk. “Kegiatannya ngapain aja?” “Banyak, kalau mau datang aja, aku nanti kirimin detailya by chat.” “Oke, aku jemput?” “Ga usah, aku bakal diantar papa.” “Ya ampun, kamu disayang banget ya sama papa kamu.”komentar Revan terdengar gemas. “Udah ya, aku matiin.” “Jangan lupa kirimin sebelum kamu ketiduran,” Revan mengingatkan karena suara Aluna benar-benar terdengar seperti orang yang sebentar lagi akan hilang kesadaran. “Hm…” *** Semua orang bertepuk tangan setelah acara pembukaan kegiatan cinta lingkungan dibuka, termasuk Revan yang tiba-tiba hadir di acara yang tidak biasa ia lakukan. Berada di alam terbuka dan kini memperhatikan beberapa orang di depan mereka menanam sebuah pohon. Revan tidak pernah memikirkan saat seseorang menanam pohon akan mendapatkan perhatian dan penghargaan dari orang-orang sebegininya. Perhatian Revan kini fokus pada Aluna yang menjadi salah satu dari beberapa orang yang menjadi perwakilan pembukaan penanaman pohon, wajah gadis itu menunjukkan senyuman lebar, sangat berbeda dengan wajahnya saat berada di ruangan rapat, apalagi saat bicara dengan dirinya. Mata Revan beralih pada beberapa orang di sekitarnya yang mengelurkan handphone untuk mengabadikan momen, ia pun juga merasa harus melakukan hal yang sama, ia mengeluarkan handphonenya dan mengambil gambar, atau lebih tepatnya mengambil gambar Aluna. “Cantik juga,” gumam Revan saat melihat hasil gambarnya sambil tersenyum, entah kenapa ia pun memutuskan mengambil gambar yang lebih banyak. “Pacarnya ya, Mas?” seorang wanita tua tiba-tiba bersuara sambil mengintip handphone Revan. Revan tertawa, “bukan.” Wanita tua itu terkekeh, “mbak nya cantik dan kayanya juga baik. Saya suka datang ke acara seperti ini dan beberapa kali saya lihat mbak nya. Tapi mas kenal sama mbak nya?” Revan mengangguk, “iya kebetulan kita datangnya barengan.” “Tapi beneran bukan pacar ya? Soalnya saya lihat mbaknya selalu datang sendiri sebelumnya.” Revan terkekeh, “belum aja,” Wanita itu ikut tertawa mendengar ucapan Revan dan sekarang mereka fokus pada pembagian bibit pohon untuk bisa mereka tanam masing-masing di tempat yang sudah ditentukan oleh panitia. “Ngobrol apa sama nenek tadi?” tanya Aluna saat ia kini sudah bersama Revan dan sempat melihat Revan mengobrol dengan seseorang. “Cuma nanya aku kenal kamu atau tidak.” Aluna mengangguk, “aku sering ketemu beliau.” “Tadi dia juga bilang gitu, terus nanya aku pacar kamu atau bukan karena katanya biasanya kamu datang sendiri.” “Terus kamu jawab apa?” “Belum.” Jawab Revan pendek sambil mulai memakai sarung tangan miliknya bersiap menanam. “Lah?” “Ya emang belum kan, kamu maunya kita udah pacaran?” Aluna tidak merespon dan hanya memperhatikan pergerakan Revan yang baginya agak aneh, sangat terlihat kalau ia tidak terbiasa melakukan hal-hal seperti ini. “Jangan dimasukin sama plastiknya!”Aluna kaget saat melihat Revan memasukkan tanaman ke lubang tanah tanpa melepaskan plastik yang tadi menutupi akar tanaman. “Kenapa? Kotor dong kalau dibuka.” Revan juga kaget karena Aluna langsung menarik tangan Revan. “Itu lah kenapa kamu pakai sarung tangan.” “Ga dibuka pun nanti akarnya bisa ngerobek plastik ini kok.” Revan tetap bersikeras dengan keputusan dan pola pikirnya. “Kalau tadi kamu perhatiin penjelasannya, kamu harusnya ga salah begini, ayo keluarkan dulu akarnya dari plastik!” suruh Aluna pada Revan. “Aku perhatiin, tapi aku salah fokus jadi perhatiin kamu.” Revan tidak melawan dan mengikuti perintah Aluna. “Kok aku?” “Karena kamu kayanya senang banget ngikutin kegiatan ini, sumringah gitu, ga kaya biasanya. Contohnya sekarang, mukanya ga usah ditekuk gitu, ini aku sudah lakukan dengan benar.” Revan menunjukkan bibit pohon yang memang sudah siap tanam. Ia mulai memasukkan ke dalam lubang dan menutupnya dengan tanah. “Jangan terlalu ditekan seperti itu,”Aluna masih memperhatikan pergerakan Revan dengan detail dan sesekali mengoreksi secara langsung. “Siap Mbak Aluna!” Revan memberikan respon siap ditegur bahkan wajah pura-pura serius yang membuat Aluna tidak bisa menyembunyikan senyumannya. “Kalau mau ketawa ya ketawa aja kali, ga usah malu gitu, kaya yang sama siapa aja,”goda Revan yang kembali membuat Aluna mendecak malas. “Lanjut tulis nama kamu disini,” Aluna memberikan sebuah spidol dari kantongnya untuk Revan bisa menulis di kertas yang disediakan di salah satu ranting kecil bibit pohon yang selesai ia tanam. “Nulisnya yang bener!” tegur Aluna melihat apa yang baru saja ditulis Revan. “Ini udah benar, apa yang salah sih?” “Ga usah ada love nya gitu! Kaya anak-anak deh becandanya.” Revan tertawa, “itu bukan tanda hati, tapi koma! Bacaannya Revan koma Aluna. Tapi kalau kamu melihatnya berbentuk hati ya udah sih, kamu emang maunya Revan love Aluna.” “Terserah.” Aluna tidak mau memperpanjang. Sepertinya Revan bisa memastikan bahwa ia mendapatkan hobi baru, yaitu membuat Aluna kesal. Pria itu kini mengeluarkan handphonenya dan memotret pohon yang sudah ia tanam dan juga tulisan di kertas yang menurutnya sangat lucu. “Kamu jongkoknya rada geseran, aku mau foto dengan ada background kamu nya,” Revan mengarahkan Aluna yang tadinya hendak berdiri dan menghindar agar tidak mengganggu hasil foto Revan. “Ga usah ada akunya.” “Aku mau bikin postingan estetik yang keliatan pasangan tapi ga keliatan banget,” Revan masih sibuk mengatur posisi yang tepat. “Aku ga tahu kenapa aku harus ikutin kamu.”Aluna ingin menolak tapi entah kenapa pergerakannya malah mengikuti arahan dari Revan. “Kalau aku ajak kamu foto berdua pasti kamu ga mau ya?” “Terima kasih sudah memahamiku dengan baik.” “Tentu, kan aku orang yang sangat pengertian. Nanti aku mau bikin caption postingannya, yang ditanam pohon tapi yang akan tumbuh adalah cinta. Asiiikkk! “Semoga aku kuat menghadapi orang ini kedepannya.”Aluna berdoa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN