Salah

1265 Kata
“Gimana??” ujar Revan yang baru datang tanpa suara kepada papanya yang duduk diam membaca sebuah majalah di meja makan. Papa juga tidak membalas dengan suara, ia hanya memberi kode lirikan pada seorang wanita yang tampak sibuk di dapur memunggungi mereka. Revan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menunjukkan wajah bingung. Ini adalah hari pertama ia kembali ke rumah setelah tidak pulang selama 3 hari karena mamanya marah besar menemukan sebotol alkohol dengan harga yang sangat mahal di dapur. Salah Revan yang dalam keadaan tidak benar-benar sadar menaruh asal minumannya. “Aku pulang,” dengan memberanikan diri Revan menghampiri mamanya di dapur, sedangkan papa masih memposisikan diri seolah fokus pada majalah di tangannya namun bersiap menonton pertunjukan apa yang akan dimulai antara ibu dan anak ini. Wanita yang sudah cukup berumur itu melirik sekilas dan kembali sibuk dengan apa yang sedang ia kerjakan, agaknya ia tidak tertarik untuk meladeni anak semata wayangnya itu. “Mama mau bikin makan malam apa?” walau agak merinding namun Revan tetap harus berusaha untuk tidak dipukul mundur dari awal. “Tidak bisa lihat?” seperti biasa, nadanya ketus dan auranya tidak mengenakkan. Biasanya orang-orang akan memilih untuk mundur saja jika wanita ini menunjukkan tanggapan yang tidak ramah, termasuk Revan. Namun sekarang Revan butuh bicara dengan si raja terakhir di rumahnya ini. “Aku boleh join makan malam, kan?” Revan bicara lagi. “Silahkan kalau masih merasa bagian dari rumah ini, walaupun tidak pernah mau ikuti peraturan di dalamnya.” Ucapan mama memancing respon anggukan kencang diam-diam papa di meja makan. Revan menyerah, ia harus langsung to the point, jika bertele-tele itu malah menjadi umpan serangan balik yang tajam untuk dirinya, “ma, aku minta maaf soal minuman waktu itu.” Tidak ada jawaban dari Larisa, wanita yang masih terlihat cantik walaupun di usia yang tidak lagi muda. Ia terus melakukan kesibukannya seolah tidak mendengarkan apa yang Revan sampaikan. “Mama sendiri yang bilang agar aku bisa kurangi kegiatan minum atau main ga jelas di luar sana untuk memperbaiki penilaian orang-orang padaku. Aku lakukan itu, tapi kan ga semudah itu ma, makanya aku minum di rumah. Setidaknya ini usahaku untuk tidak buat kekacauan di luar sana.” Revan berusaha menjelaskan pada mamanya terkait permasalahan terakhir mereka. Mama masih tidak memberikan respon yang membuat Revan sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, saat ia menoleh pada papanya ia juga hanya mendapat tanggapan angkat bahu yang artinya papa juga tidak tahu harus memberikan saran apa. “Aku udah berusaha, aku ga salah dong?” Revan bergerak untuk berdiri menghalangi mamanya yang hendak berjalan mengambil sesuatu agar mamanya mau tidak mau harus menjawabnya. “Nah itu, kamu memang tidak pernah merasa salah kan? Kamu selalu benar, yaudah kamu ga perlu dengerin siapapun.” “Ma…” “Kamu tahu nggak kalau mama itu kesel sama kamu sekarang bukan karena masalah minuman atau apalah itu. Terserah mau gimana cara kamu ngatasin itu, tapi masalahnya adalah kamu tidak pernah mau terima saat ditegur salah!” mama bicara sambil mendongak menatap wajah anaknya yang tinggi itu, namun itu tidak sama sekali mengurangi aura dominasinya. “Kalau tidak terima kamu pasti akan kabur seperti yang baru saja kamu lakukan. Ayolah Van, kamu harusnya bisa jelaskan dengan baik kalaupun kamu tidak salah. Terakhir namamu tidak maju sebagai calon tunggal untuk pimpinan utama kamu malah balik nyalahin orang dan ngilang juga kan? Kalau selalu seperti ini ya wajar jika keputusan akhirnya memang bukan kamu. Mau bagaimana semua ini kedepannya? Atur diri sendiri saja susah, apalagi mau mimpin orang lain?” Revan diam, begitupun dengan papa yang hanya bisa menghela napas panjang tidak mau ikut campur. Mama memijat sekilas pangkal hidungnya dan berjalan melewati Revan, “kita udah terlalu sering bahas ini, sudahlah lupakan saja. Kamu bersih-bersih dulu, mama selesaikan masak agar kita semua bisa segera makan.” *** “Ga jadi mau pegang proyeknya?” papa bertanya dengan suara pelan pada Revan yang duduk di depan televisi sore ini, namun matanya seperti tidak menikmati acara yang ditayangkan di televisi, dia sedang memikirkan hal lain. “Jadi lah!” balas Revan langsung tanpa pikir panjang. “Dari kemarin ga ngomong-ngomong ke mama.” “Udahlah, kasih aja kenapa sih, Pa? Papa lihat sendiri kan, kalau ngobrol ke mama pasti jadi malah makin ga enak.” Revan nyatanya masih belum berani bicara dengan mamanya. Sejak dia pulang kemarin hingga siang ini, ia dan mamanya saling tidak banyak bicara. Hanya bicara seperlunya, mereka seolah saling menjaga untuk tidak menyinggung satu sama lain. “Papa ga akan kasih kalau kamu ga minta ke mama kamu. Coba deh ngomong sekarang, kayanya mood mama kamu lagi dalam keadaan bagus. Kemarin itu masih kaget aja tiba-tiba kamu pulang.” Revan menghela napas panjang, “sebaik-baiknya mood mama, kalau bicara denganku pasti akan jelek lagi.” “Ya siapapun, ga cuma mama kamu, semua orang ketemu kamu bakal bad mood.” “Terima kasih. Kalimat yang sangat membangkitkan semangat.” Revan menanggapi papanya malas. Selalu begitu, apapun yang terjadi papa tidak akan membantu dirinya kalau sudah berhadapan dengan mama. Ya walaupun memang seharusnya tidak ada yang bisa dibela dari Revan. Dua laki-laki itu langsung memperbaiki posisi duduk dan diam saat mama ikut duduk di salah satu bagian sofa untuk menonton televisi bersama. Diam-diam papa menyikut Revan agar melakukan sesuatu, namun Revan lebih memilih seolah tidak mengerti kode dari sang papa, dia hanya diam. “Ma, tadi katanya Revan mau nanyain sesuatu.” Papa bersuara terlebih dahulu karena jika mengharapkan pergerakan dari Revan tidak akan ada gunanya. Mama menoleh dan merubah pandangannya pada Revan, “apa?” ujar mama pendek. Revan diam-diam menendang kesal kaki papanya yang membuatnya mau tidak mau harus bicara, sebenarnya ia sudah skenariokan apa yang harus ia bicarakan berupa bujukan pada mamanya, namun tadinya ia belum siap mental untuk menyampaikan. Namun mau tidak mau ia haruskan sampaikan sekarang. “Jadi gini ma, aku kan baru aja kelar nyelesain proyek. Nah aku itu mau coba pegang proyek yang kerja sama dengan perusahaan Wijaya. Kan yang nyoba nego lagi supaya mereka mau kerja sama lagi sama kita itu aku. Ya aku mau sekalian aku aja sampai akhir.” Mama mengerutkan dahinya, “itu sepertinya bukan tipe proyek yang kamu sukai. Itu proyek yang akan sering berurusan dengan pemerintah. Kamu sendiri yang bilang kalau ada sangkut pautnya dengan kedinasan itu lama dan ribet, intinya bukan kamu banget, kamu ga akan enjoy. Itu juga bukan proyek yang begitu besar sampai kamu harus minta begini. Masih banyak proyek lain yang bisa kamu pegang.” “Iya, tapi aku mau nantang diri aku aja, dan menurutku ini momen yang pas aja untuk aku bisa dipaksa berubah agar lebih sabar. Kalau aku berhasil, menurutku ini benar-benar akan jadi catatan baik untuk direksi.” Hati-hati sekali Revan menjelaskan kepada mamanya. Mama diam melihat Revan dan papanya secara bergantian sambil berpikir dan berakhir dengan gelengan kepala, “ini bukan ide bagus, kalau gagal ini akan lebih fatal. Ga usah, kamu bisa tunjukin dengan cara lain.” “Ma aku mohon, aku bisa kok. Kalau ga ini, aku ga yakin bisa berubah.” “Ini bukan solusi yang kamu banget deh Van, kamu ada alasan lain ya? Udah, bilang aja kenapa kamu semau ini dengan proyek itu.” Mama tampak sangat yakin dengan tebakannya, ia menatap Revan dengan tatapan menelisik. Dia sangat paham pola dan cara berpikir anaknya ini. Revan menarik napas dalam sambil mengusap tengkuknya, “aku mau jujur, tapi ini akan memalukan.” Papa yang dari tadi hanya sebagai penonton menjadi sangat ingin tahu, “apa??” “Ini caraku buat deketin anaknya Pak Damar Wijaya.” “HAH???”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN