Hari-hari Elisa mulai menemukan ritmenya.
Di kantor, dia belajar cepat. Tugas-tugasnya jelas, targetnya masuk akal. Kepalanya sibuk, tapi tidak kewalahan. Rekan-rekan satu divisi memperlakukannya dengan wajar, cukup ramah tanpa ingin tahu berlebihan. Elisa menyukai itu. Dia suka batas-batas itu.
Namun ada satu hal yang selalu membuat langkahnya melambat.
Setiap kali koridor menjadi terlalu sunyi, setiap kali obrolan terhenti seolah disedot udara, Elisa tahu, sosok itu sedang lewat.
Dia tidak pernah benar-benar melihat wajah pria itu lagi sejak hari pertama. Hanya potongan bayangan di kaca, langkah tenang yang tak pernah tergesa, dan suara rendah yang berbicara singkat pada para atasan. Kehadirannya seperti bayangan yang kasatmata, tidak menyentuh, tapi mengatur. Dan satu lagi, aroma parfumnya yang khas.
Aneh, Elisa tidak takut.
Dia hanya menyadari kehadirannya.
Seolah seseorang, entah siapa, selalu tahu keberadaannya.
Malam hari, rumah sewa itu menawarkan sunyi yang berbeda.
Elisa pulang dengan bahu pegal dan kepala penuh angka. Dapur menyambutnya dengan cahaya hangat. Saat dia menaruh tas di atas meja makan, Wira sudah ada di sana, menyusun piring, gerakannya tenang.
"Kamu kelihatan capek," katanya tanpa menoleh.
Elisa terkejut kecil. "Kelihatan, ya?"
"Sedikit." Wira menggeser panci, memberi ruang pada Elisa. "Saya masak sup jamur dan ayam. Mau?"
Elisa mengangguk. Mereka berdiri berdampingan, tidak bersentuhan, tapi jaraknya cukup dekat hingga Elisa bisa menangkap aroma sabun di kulit Wira. Bersih. Netral. Mengganggu pikirannya lebih dari yang dia harapkan.
"Di kantor kamu divisi apa?" tanya Wira.
"Operasional," jawab Elisa. "Masih belajar banyak."
Wira mengangguk. "Kalau ada yang bikin kamu ragu, tanya atasan langsung. Jangan simpan sendiri."
Nada suaranya bukan menggurui. Lebih seperti saran yang sudah diuji waktu.
Elisa menoleh, mendapati tatapan Wira yang seolah terlalu fokus pada dirinya, lalu cepat berpaling. Jantungnya berdetak aneh, seperti tertangkap basah oleh sesuatu yang tidak dia pahami.
Mereka makan dalam diam yang nyaman.
Keesokan harinya, di kantor, Elisa diminta menghadiri rapat lintas divisi, pertama kalinya. Ruang rapat dingin, meja panjang berkilau. Dia duduk di ujung, mendengarkan, mencatat.
Pintu terbuka.
Udara berubah. Elisa menghentikan gerakan tangannya di atas buku catatan, tapi kepalanya tetap menunduk, memandangi catatan yang ditulisnya.
Pria itu masuk, direksi yang sama. Ekor matanya melirik, dia bisa melihat setelan gelap, bahu tegap, ekspresi terkendali. Pria itu berdiri di kepala meja. Suaranya rendah, jelas, memotong pembahasan tanpa emosi berlebih.
Elisa masih menunduk, fokus pada catatan. Namun setiap kalimat yang diucapkan terasa tepat. Terlalu tepat. Seolah seseorang sedang merapikan dunia. Tapi suara itu, sekilas mengingatkan pada seseorang.
"Bagian operasional," kata pria itu, berhenti. "Siapa yang pegang data ini?"
Kepala divisi menyebut nama Elisa.
Jeda sesaat.
Elisa mengangkat wajahnya. Pandangan mereka bertemu, singkat, tajam. Ada kilat pengenalan yang membuat napas Elisa tersendat, wajah itu ....
"Lanjutkan," ujar pria itu tegas tanpa ingin dibantah.
Tidak ada senyum. Tidak ada pujian. Namun tatapan itu, seolah mengukur, memastikan, membekas sampai rapat usai.
Elisa masih kebingungan dengan yang dia lihat tadi. Ini adalah kali pertama dia berhadapan langsung dengan kepala direksinya, tapi wajahnya menyerupai seorang yang dia kenal. Tapi hatinya menyangkal, dan jelas itu bukan orang yang sama. Bisa saja ini efek baru karena dia berada di kota yang berbeda dengan kota kelahirannya, jadi orang yang dia lihat kadang memiliki kesamaan. Tidak, itu pemikiran aneh.
Malamnya, Elisa pulang lebih cepat. Dia mendapati Wira di ruang tengah, membuka laptop, kemeja rumahnya tergulung rapi di lengan. Rambutnya acak-acakan, tidak disisir rapi.
"Kamu pulang cepat," katanya.
"Rapat," jawab Elisa sambil melepas sepatu. "Dengan ... atasan."
Wira menutup laptopnya. "Bagaimana?"
Elisa ragu. "Aneh. Dia jarang bicara, tapi semua orang langsung paham."
Wira berdiri, melangkah mendekat, lalu berhenti satu langkah terlalu dekat. Elisa bisa merasakan hangat tubuhnya tanpa sentuhan. Napasnya jadi dangkal.
"Orang seperti itu," kata Wira pelan, "tidak suka kebisingan."
Ada sesuatu di caranya mengucap, tenang, dan yakin, yang membuat Elisa menelan ludah.
"Wira," katanya tanpa sadar, "kamu kerja di bidang apa, sih?"
Wira menatapnya, lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.
"Manajemen," jawabnya akhirnya. "Kurang lebih."
Jawaban yang cukup. Terlalu cukup bagi Elisa. Walaupun dia menginginkan lebih dari itu.
Elisa mengangguk, menerima setengah kebenaran itu seperti dia menerima banyak hal akhir-akhir ini, tanpa menggali, tanpa menuntut, bahkan tanpa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Namun malam itu, saat dia berbaring, bayangan direksi di ruang rapat dan Wira di dapur bertumpuk di kepalanya. Dua aura yang berbeda, namun memiliki ketenangan yang sama.
Dan untuk pertama kalinya, Elisa bertanya-tanya, apakah mereka orang yang sama atau memang berbeda? Jika itu adalah orang yang sama, seharusnya Wira mengenalinya kan? Dan, tidak masuk akal jika kepala direksinya benar-benar menempati kamar sebelahnya.
Dia bergerak ke posisi samping masih dengan pikiran penuh tentang kepala direksinya. "Apa mereka kembar?"
***
"Gimana, betah di sana?" tanya Maya dalam panggilan video pagi itu sebelum Elisa berangkat ke kantor.
Ini sudah satu Minggu Elisa menetap di Jakarta dan sepertinya dia sudah mulai beradaptasi.
"Betah, sih, nyaman juga tempatnya. Kapan-kapan kamu ke sini nengokin aku."
"Syukurlah," Maya menghela napas lega. "Iya, kalau ada waktu. Tapi ingat, jangan sia-siakan kesempatan ini. Kalau ada yang kurang cocok, coba adaptasi dulu. Jangan buru-buru nyalahin tempat kerja. Lagian, nyari kerja yang baik susah."
"Iya, iya, May. Aku paham, kok. Kayaknya apapun yang aku lakukan selalu dimudahkan lho, May. Enggak kayak masih di Surabaya, susah banget cari kerja yang penghasilannya sepadan."
"Ya sudah, artinya itu rezeki kamu. Harus disyukur." Ada jeda sejenak sebelum Maya menurunkan suaranya. "Oh iya, gimana dengan teman serumahmu? Masih cuma berdua sama laki-laki itu?"
"Hm, sejauh ini, iya kami cuma berdua aja gak ada yang lain. Tapi semua baik-baik aja, May. Dia baik kok, pinter masak juga, suka bantuin aku pasang gas, angkat galon. Pokoknya ngebantu banget."
"Tetap harus hati-hati, El. Ingat kamu di Jakarta, lho, jauh dari rumah."
"Iya, Maya. Aku akan selalu hati-hati." Elisa mengangguk, mencoba meyakinkan kakaknya sekaligus dirinya sendiri. Dalam hati, dia yakin Wira bukan orang jahat. Tapi nasihat Maya tetap akan dia pegang.
~
Elisa baru saja turun dari ojek online, rambutnya sedikit berantakan saat dia melepas helmnya. Bersamaan dengan itu sebuah mobil berhenti di pelataran lobi gedung, Elisa sempat terdiam sejenak memperhatikan seorang pria bersetelan jas rapi dan seperti biasa selalu hitam yang baru saja keluar dari mobil sedan mewah itu. Langkahnya tegap memasuki lobi tanpa menoleh ke arahnya.
"Mereka mirip banget," gumam Elisa memandangi punggung pria yang sudah melewati pintu kaca.
"Mbak, helmnya." Suara driver ojek memutus lamunannya.
"Ah, iya! Maaf, Pak." Elisa tersenyum malu, menyerahkan helm dengan cepat sebelum berbalik menuju gedung.
Tanpa dia duga kalau pria itu masih di sana, di lift khusus petinggi, menunggu lift turu. Langkah Elisa melambat, dia memperhatikan gestur belakang pria itu menyamakan dengan sosok yang dikenalnya. Punggungnya tegak, satu tangan masuk ke saku celana, pose yang begitu familiar, persis seperti cara Wira berdiri di dapur sambil menunggu air mendidih.
Lift khusus eksekutif itu akhirnya terbuka.
Dan tepat sebelum melangkah masuk, pria itu menoleh ke samping, seolah memeriksa jam di pergelangan tangannya.
Wajahnya terpapar penuh. Mata hitam yang sama, alis yang sama tebal, bahkan cara alisnya sedikit terangkat itu sama persis seperti Wira.
Elisa langsung memalingkan mukanya, jantungnya berdebar kencang bagai ditabuh drum. Darah mengalir deras ke telinganya. Dia pura-pura membuka-buka tas, tangannya gemetar.
Pintu eksekutif menutup kembali.
Elisa masih berdiri di tempatnya, napasnya tersendat. Di kepalanya, dua gambar bergantian, senyum santun Wira dengan kaus putih polosnya dan raut dingin pria tadi dengan jas yang harganya mungkin setara sewa kamarnya setahun.
"Fix," bisiknya pelan, mata masih tertuju pada lift yang telah naik. "Mereka kembar."