Malam sebelum makan siang antara keluarga Marco dengan Raras, Marco menyampaikan pada mamanya tentang isi hatinya. Biasanya meja makan ramai oleh celotehan Alessia tentang harinya, namun malam ini, meja makan marmer panjang itu terasa lebih hening. Marco Vescari Taysir, putra sulung kebanggaan keluarga, hanya mengaduk-aduk sisa Panna Cotta*-nya. Sendoknya berdenting pelan beradu dengan piring, menciptakan irama kegugupan yang tidak dapat disembunyikan. Rayan Taysir, sang kepala keluarga yang berdarah Jawa, meletakkan koran digital di tabletnya. Dia membenarkan letak kacamata bacanya, menatap putranya dengan tenang. "Masakan Mama kurang enak, Marco?" tanya Louisa tiba-tiba, memecah kesunyian dengan nada selidik khas ibu-ibu Italia yang sensitif jika masakannya tidak dihabiskan. Marco ka

