Luna tersenyum tipis, senyum yang terlihat hangat tetapi matanya dingin dan tajam. “Selamat malam,” sapa Luna dengan suara yang halus dan bernada berkelas, tanpa sedikit pun meninggikan suara. “Saya Luna. Terima kasih banyak sudah repot-repot mengantar Tuan Hayes. Kondisinya memang sering begini jika terlalu banyak meeting bisnis yang melibatkan client berat.” Wanita itu, yang tadinya congkak, terlihat sedikit salah tingkah menghadapi ketenangan Luna. Ia jelas berharap menemukan istri atau kekasih yang panik dan marah, bukan wanita yang begitu tenang dan elegan. “A-ah, ya. Tentu. Namaku Siska,” wanita itu menjawab dengan sedikit gugup. “Tadi kami ada pesta client setelah meeting.” Luna mengangguk perlahan. “Saya mengerti. Sekarang, ia sudah aman di rumah. Axel sedang mengurusnya

