Axel mengalah, tetapi suaranya dipenuhi frustrasi karena penolakan. “Baiklah. Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama dari besok, Luna. Aku ingin melihatmu dan aku ingin memastikan kau baik-baik saja setelah tugas penelitian yang menguras tenaga itu.” Setelah beberapa saat hening, Axel kembali dengan rencana barunya, menggunakan skripsi sebagai kartu as. “Oke. Kalau begitu, begini saja. Kamu tidak perlu datang ke rumahku malam ini,” Axel memulai, nadanya lebih mendesak. “Tapi besok pagi, aku akan jemput kamu di apartemen. Kita ke rumahku. Kita harus melanjutkan skripsi mumpung data penelitian lapangan kita masih fresh di kepala kita.” Axel menggunakan logika yang cerdik: skripsi sebagai alasan resmi untuk bertemu, dan penelitian bersama sebagai pembenaran waktu mereka

