“Jangan bicara omong kosong! Kamu tahu kamu peduli! Kamu memblokir ku! Kamu tidak mau menjawab telepon! Itu bukan sikap orang yang tidak peduli!” Hayes meninggikan suaranya, membiarkan frustrasinya keluar. Luna hanya mengangkat bahu, seolah membenarkan, tetapi menolak untuk terpengaruh. “Blokir itu adalah refleks. Tanda bahwa aku kesal dan lelah melihat tingkah laku yang tidak profesional. Sekarang refleks itu hilang. Dan kejutan mu di sini membuatku berpikir jernih.” “Aku tidak mau lagi bermain peran sebagai 'wanita yang harus menyusun alibi' sambil takut-takut suamimu—” Luna mengoreksi dirinya, “—Papa sahabat mu pulang dengan wanita lain. Aku sudah selesai. Kamu mau main gila, silakan. Tapi jangan libatkan aku.” Luna sudah selesai berdebat. Ia telah menyampaikan pesannya. Sekarang

