Napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar karena gejolak emosi dan fisik yang baru saja ia alami. Matanya berkaca-kaca karena ketegangan ekstrem. Hayes hanya tersenyum puas. Dia mencabut tangannya dari sana. Ekspresinya kembali dingin dan puas. "Kamu berhasil," ujar Hayes, nadanya datar, tanpa pujian, hanya pengakuan kesuksesan. "Lima menit yang sempurna. Axel yakin kamu hanya sibuk dan lelah." Hayes tidak menanggalkan pakaiannya. Ia fokus pada inti dari ritual ini. Hayes menggeser kursinya lebih dekat, menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya. "Itulah inti dari ketaatanmu, Luna. Bahkan saat kamu harus berbohong kepada orang yang paling kamu sayangi, kamu tetap harus menaati aku. Sensasi yang aku berikan padamu tadi adalah pengingat: tubuhmu lebih mematuhi aku daripada pikiran

