Hayes telah memberinya izin untuk melupakan, Axel memberinya rantai ingatan. "Aku janji, Xel," Luna berbisik. Ia berbohong. Ia tahu, di Medan, ia akan semakin jauh dari Axel dan semakin dekat dengan Hayes. Axel tersenyum. Senyumnya begitu lega, begitu polos. "Makasih, Lun. Itu aja yang gue butuh." Axel mendekat. Ia ingin memeluk Luna, sebuah pelukan yang tulus dan tanpa hasrat, hanya untuk mengklaim kembali persahabatan mereka sebelum perpisahan. Namun, sebelum Axel sempat memeluknya, Luna berinisiatif lebih dulu. Luna bangkit dan memeluk Axel erat-erat. Itu adalah pelukan yang putus asa, dicampur penyesalan, sebuah pelukan perpisahan dan permintaan maaf yang tak terucapkan. Di mata Axel, pelukan itu adalah sinyal bahwa Luna masih peduli, bahwa ia berhasil menembus dinding ding

