Kejutan dan Pelukan di Ambang Pintu.

1012 Kata

Hayes telah memberinya izin untuk melupakan, Axel memberinya rantai ingatan. ​"Aku janji, Xel," Luna berbisik. Ia berbohong. Ia tahu, di Medan, ia akan semakin jauh dari Axel dan semakin dekat dengan Hayes. ​Axel tersenyum. Senyumnya begitu lega, begitu polos. "Makasih, Lun. Itu aja yang gue butuh." ​Axel mendekat. Ia ingin memeluk Luna, sebuah pelukan yang tulus dan tanpa hasrat, hanya untuk mengklaim kembali persahabatan mereka sebelum perpisahan. ​Namun, sebelum Axel sempat memeluknya, Luna berinisiatif lebih dulu. ​Luna bangkit dan memeluk Axel erat-erat. Itu adalah pelukan yang putus asa, dicampur penyesalan, sebuah pelukan perpisahan dan permintaan maaf yang tak terucapkan. ​Di mata Axel, pelukan itu adalah sinyal bahwa Luna masih peduli, bahwa ia berhasil menembus dinding ding

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN