Hayes mendekat. Setiap langkahnya terukur, lambat, seperti predator yang mengepung mangsa yang sudah menyerah. Matanya, yang sebelumnya lelah karena penerbangan, kini menyala dengan intensitas membara—kekuasaan murni yang tak terbantahkan. Hayes mengangkat tangan. Sentuhannya dingin di kulit leher Luna, tepat di titik sensitif—tempat yang pernah dicium Axel, dan tempat ia sendiri meninggalkan jejaknya. Hayes tidak hanya menyentuh; ia menekan, memberikan isyarat bahwa ini adalah zona larangan yang kini hanya miliknya. "Aku datang ke sini untuk menghapus semua jejak Axel darimu," desis Hayes, suaranya serak dan dalam, vibrasinya menggetarkan saraf Luna. "Malam ini, kamu akan menjadi buku kosong. Hanya ada namaku di setiap halaman. Di setiap sentuhan. Di setiap pikiranmu." Luna tidak da

