"Kenapa harus meminta izin?" Kalimat Milea belum benar-benar usai ketika Julian menyambar tengkuknya. Ciuman itu tidak lagi lembut seperti sebelumnya, itu adalah serangan. Julian menciumnya dengan rasa lapar yang liar, seolah-olah seluruh kedisiplinan militer yang ia banggakan runtuh dalam satu detik karena tantangan istrinya. Julian berdiri, menarik Milea hingga wanita itu terpaksa ikut berdiri. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Julian mengangkat Milea ke atas meja makan, menyingkirkan buku-buku Mandarin dan piring pasta hingga terjatuh ke lantai dengan suara berdentum. "Julian... pelan-pelan," bisik Milea terengah, napasnya memburu saat Julian beralih menyerang lehernya. "Kau yang memulainya, Milea," geram Julian. Suaranya bukan lagi suara guru yang tenang, melainkan suara pria y

