PART. 2 BURUK RUPA

1000 Kata
Darsa naik ke atas. Kembali ia berusaha mencari sosok wajah yang ia lihat di permukaan air sungai tadi. Ia tak menemukan siapapun di sekitar rumah, dan kebun. Darsa melangkah ke belakang rumah. Ternyata di bagian belakang rumah ada dua buah kandang yang terbuat dari bilah bambu. Satu kandang berisi ayam, satu lagi berisi bebek. Jumlahnya tak banyak, hanya beberapa ekor saja. Darsa masuk ke dalam rumah. Ia ingin mandi. Darsa masuk ke dalam kamar, mencari tahu apa ia memiliki pakaian ganti. Ternyata ia kurang jeli saat meneliti isi kamar tadi. Di dekat kaki dipan bambu, ada rak dari bambu, yang depannya ditutup gorden hijau. Darsa menyibak gorden. Ia menemukan tumpukan beberapa lembar pakaian di sana. Darsa mengambil satu kaos oblong, dan satu celana kain, serta handuk. Dibawa ke luar semua yang ia ambil tadi. Darsa menuju pintu di belakang. Ternyata di balik pintu ada kamar mandi, sekaligus kamar kecil. Darsa menarik napas lega, karena itu artinya ia tak perlu pergi ke sungai untuk mandi, ataupun buang air. "Tapi tetap saja aku harus mengambil air di sungai, untuk mengisi gentong air ini," keluh Darsa. Ia memutuskan untuk mandi di sungai saja pada akhirnya. Darsa mengambil gayung plastik berisi sabun batang, odol, dan sikat gigi yang ada di kamar mandi itu. Ia ke luar rumah, untuk mandi di sungai. Dilepaskan semua yang melekat di tubuhnya. Diusir rasa tidak nyaman yang ia rasa, karena ia terbiasa mandi dengan kemewahan, ada beberapa wanita yang melayaninya, menggosok tubuhnya, bahkan bisa ia ajak bercinta sebelum mandi bersama, di sebuah kolam luas bertabur bunga. Bercinta dengan banyak wanita sekaligus adalah hal yang biasa bagi Darsa. Tapi kali ini, kemewahan itu tak ada lagi. Tak ada yang menggosok tubuhnya. Tak ada yang menjilati kulitnya. Tak ada yang membuat bangkit hasratnya. Darsa menatap ke arah rumah. Ia tidak tahu siapa yang sudah menyiapkan semua ini. Ia juga tidak tahu, siapa pemilik sebelumnya dari tempat ini. Yang lebih parah, ia tidak tahu bagaimana caranya bertahan hidup di dunia manusia. Tanpa sadar, Darsa memegang gadanya di bawah sana. Aset berharga miliknya yang selalu bisa memuaskan wanita. Bahkan wanita yang ia dapatkan dengan paksa, akhirnya takluk setelah merasakan gadanya itu. Darsa tersenyum, dengan wajah tampan, tubuh gagah, dan gada yang luar biasa, tentu tak sulit baginya, untuk memikat wanita kaya dari kaum manusia. "Arghhh!" Darsa menjerit nyaring. Gadanya terasa sakit luar biasa. "Zina, akan membuat hukumanmu bertambah lama, dan kutukanmu tak akan ada akhirnya!" Darsa tersentak mendengar suara itu. Asal suara dari rumpun bambu di seberang sungai, tapi tak ada siapa-siapa di situ. Darsa kembali mencari ke sekeliling sejauh jangkauan matanya. Nihil, tak ada siapapun di sekitar tempat ia berada. Tiba-tiba saja Darsa merasa dirinya tengah diawasi. Ia yakin, yang bicara tadi adalah sosok dari Negeri Halimun. Dengan cepat, Darsa menyelesaikan mandinya. Bergegas ia kembali ke rumah, setelah mengenakan celana yang tadi ia pakai, karena ia lupa membawa handuk, dan pakaian ganti. Darsa masuk ke dalam rumah, diseka titik air dengan handuk, lalu dikenakan pakaiannya. Ia yakin di rumah itu tak ada minyak wangi, sedang ia terbiasa memakai minyak wangi. Darsa menoleh ke samping, ia baru melihat di dinding dekat pintu kamar ada cermin tergantung beserta sisir. Darsa mendekat, ia menatap cermin, ia terlompat mundur. Tubuhnya bergetar hebat, wajah yang ia lihat di permukaan air sungai, terlihat ada di cermin. Napas Darsa tersengal. Tangannya terangkat, disentuh pipinya. Di cermin jelas terlihat, kalau jemarinya menyentuh wajah yang terlihat buruk rupa. Wajah yang dihiasi jerawat besar. Hidung yang muncul hanya sedikit saja. Bibir yang tebal, dan menghitam. Rambut hitam yang terlihat kasar. Darsa menatap tangannya, ia baru menyadari kalau kulit tangannya juga berubah menghitam. Darsa membuka kaos oblong yang dipakai. Tubuhnya tak terlihat ada ototnya. Tubuhnya, bukan tubuh seperti di Negeri Halimun. Tatapan Darsa kembali ke cermin. Ia berteriak frustasi, melihat wajahnya yang sangat jauh berbeda. "Arghh!" Darsa meninju cermin hingga retak, dan buku jarinya berdarah. "Huaa! Ini tidak adil! Ini tidak adil! Aku sudah dibuang, kenapa harus menerima kutukan seperti ini. Bunuh saja aku!" Darsa ke dapur, ia mencari benda tajam. Di dapur bukan hanya ada pisau, tapi ada parang, arit, cangkul, sekop, dan garpu tanah. Darsa mengambil pisau dapur. Pisau siap untuk ditikam ke perutnya. Saat terdengar suara tawa menggema. Tangan Darsa yang memegang pisau jatuh di sisi tubuhnya. Tubuhnya berputar mencari asal suara. "Kamu tidak bisa bunuh diri, Darsa. Karena kamu harus menjalani hukuman dalam kutukan." "Kutukan ini terlalu berlebihan, kau tahu! Ini tidak adil! Sungguh tidak adil!" Teriak Darsa dengan rasa marah memuncak di atas kepala. Suara tawa kembali terdengar. Darsa yakin ia belum pernah mendengar suara ini sebelumnya. "Tidak adil, katamu! Lihat dirimu sendiri, apakah pernah kau berbuat adil! Kau seorang biad*b yang tak pernah paham apa itu adil, sekarang meminta keadilan! Jalani saja hukuman untukmu dengan baik. Jangan melanggar larangan, jangan berbuat dosa, karena akibatnya akan sangat fatal pada dirimu." Suara itu jelas bernada mengancam. Darsa terdiam, napasnya tersengal, karena rasa marah yang belum pudar. Perlahan, Darsa menarik kursi. Ia duduk bersandar, kedua kakinya berselonjor. Kemudian ia duduk dengan tegak. Diambil tempat air dari tanah di depannya. Ia ingin minum untuk meredakan perasaan marahnya. Namun, kendi itu kosong. Tak ada setetes air di sana. Darsa beranjak menuju dapur. Diangkat ceret hitam dari atas tungku. Ceret itu juga kosong. Darsa membuka gentong air yang atasnya ditutup dengan tampah dari anyaman bambu. Gentong air itu juga kosong. "Arghh! Apa aku harus minum air sungai!" Darsa tak punya pilihan, ia mengambil dua buah ember yang terbuat dari seng di sudut dapur. Ia ke luar untuk menuju sungai. Tiba di tepi sungai, Darsa menatap wajahnya yang dipantulkan permukaan sungai. "Arggh! Hukuman macam apa ini!" Darsa meraup air sungai dengan kedua telapak tangannya. Lalu diminum air itu, kemudian ia mengambil air lagi dengan cara yang sama, dibasuhkan air itu ke wajahnya. Berulang kali Darsa membasahi wajah, berharap rupanya yang buruk berubah. Namun, hal itu tentu saja tak mungkin terjadi. Darsa berdiri tegak, wajahnya mendongak, menatap langit yang cerah. Sayangnya, hatinya sedang marah, dan gundah, tak seperti langit yang indah. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN